Beranda Nasional Layar yang Membuka Jendela Mimpi : Revolusi Digital Pendidikan

Layar yang Membuka Jendela Mimpi : Revolusi Digital Pendidikan

4
0
BERBAGI
Presiden Prabowo dan timnya tahu, perangkat hanyalah alat. Jiwa dari program ini ada pada semangat kolaborasi: pemerintah, guru, murid, dan masyarakat.

Pagi itu, Bogor, 2 Mei 2025. Di halaman SDN Cimpahpar 5 penuh warna. Anak-anak berlari kecil sambil melambaikan bendera merah putih kertas.

Di antara riuh tepuk tangan, Presiden Prabowo Subianto berdiri, suaranya lantang, tetapi matanya teduh menatap para siswa.

“Saya ingin di setiap sekolah ada layar. Dari situ, anak-anak bisa belajar dari guru terbaik di negeri ini,” ucapnya. Sebuah kalimat sederhana, namun menjadi simbol lahirnya Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025: Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran.

Sejak hari itu, kata layar tak lagi sekadar benda. Ia menjelma menjadi jendela mimpi bagi jutaan siswa Indonesia.

Dari Angka ke Harapan

Instruksi itu kemudian diterjemahkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Targetnya terbilang raksasa: 288.865 sekolah akan menerima Interactive Flat Panel (IFP), laptop, dan media konten digital.

Presiden Prabowo dan timnya tahu, perangkat hanyalah alat. Jiwa dari program ini ada pada semangat kolaborasi: pemerintah, guru, murid, dan masyarakat.

Dirjen PAUD Dasmen, Gogot Suharwoto, menyebut program ini bukan sekadar proyek. “Kita ingin membangun ekosistem. Guru dilatih, siswa difasilitasi. Alat ini hanya pintu, yang penting siapa yang melangkah masuk,” ujarnya.

Sejak Agustus, pengiriman tahap pertama berjalan. Ada semangat baru: sekolah-sekolah di pelosok tak lagi merasa sendirian.

Ketika Dunia Masuk Kelas

Di sebuah sekolah dasar di pedalaman Kalimantan, listrik hanya menyala enam jam sehari. Anak-anak terbiasa belajar dengan papan tulis yang sudah rapuh catnya. Namun, kabar akan datangnya layar interaktif membuat mereka bersemangat.

“Pak, kalau sudah ada layar, apakah kami bisa lihat percobaan roket seperti di televisi?” tanya seorang siswa polos kepada gurunya.

Pertanyaan sederhana itu menggambarkan hausnya rasa ingin tahu. Dengan layar digital, pelajaran tak lagi terbatas pada buku tipis dan kapur putih.

Anak-anak di desa bisa menyaksikan eksperimen sains, mendengar pidato tokoh inspiratif, atau bahkan mengikuti kelas seni langsung dari kota besar.

Tantangan Tak Pernah Hilang

Namun, inspirasi selalu ditemani ujian. Internet yang lemah, listrik yang terbatas, dan guru yang masih belajar teknologi adalah tantangan nyata.

“Jangan sampai alat ini jadi hiasan di pojok ruang guru,” kata Gogot mengingatkan. Karena itu, bimbingan teknis digelar. Guru-guru diajak untuk berani mencoba, berani salah, berani tumbuh bersama muridnya.

Sebuah Gerakan, Bukan Sekadar Proyek

Presiden Prabowo dan timnya tahu, perangkat hanyalah alat. Jiwa dari program ini ada pada semangat kolaborasi: pemerintah, guru, murid, dan masyarakat.

“Kalau anak-anak kita bisa mendapat pendidikan terbaik, tidak peduli dia di Jakarta atau Papua, itu baru namanya adil,” ujar seorang guru di Nusa Tenggara Timur yang menanti kedatangan perangkat digital.

Menyalakan Api di Mata Anak

Di akhir cerita, layar itu bisa saja mati jika listrik padam. Tetapi api di mata anak-anak yang menatapnya, tak boleh padam. Revolusi digital pendidikan bukan sekadar proyek negara, melainkan janji kepada generasi penerus.

Pertanyaan yang tersisa: Apakah layar-layar itu akan menjadi saksi lahirnya jutaan mimpi baru? Ataukah ia akan terhenti sebagai lukisan ambisi politik yang tak selesai?

Jawabannya ada di ruang kelas, di tangan guru, dan di tatapan murid yang kini punya alasan baru untuk bermimpi lebih besar.

TEKS : YULIE (PALEMBANG) & BAGUS SANTOSA (JAKARTA) | EDITOR : AHMAD MAULANA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here