Beranda Kriminal Sunyi yang Pecah di Danau Belidang, Duka Ibu di Lahat

Sunyi yang Pecah di Danau Belidang, Duka Ibu di Lahat

8
0
BERBAGI
KASUS MUTILASI - Penemuan jasad SA (63) yang tewas di mutilasi oleh anak kandungnya sendiri dikubur dalam kawasan kebun di di Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. (Dokumentasi Polisi)

Lahat, Inspirasinews.com – Pagi di Desa Danau Belidang, Kecamatan Mulak Sebingkai, biasanya berjalan pelan.

Suara ayam berkokok, desau angin yang menyentuh daun karet, dan langkah warga yang berangkat ke kebun menjadi irama keseharian yang nyaris tak berubah.

Namun, Sabtu (28/3/2026) itu, sunyi pecah oleh kabar yang tak pernah dibayangkan siapa pun.

Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu ditemukan tak lagi bernyawa—dan yang lebih menyayat, nyawanya direnggut oleh anak yang ia besarkan sendiri.

Perempuan itu, SA (63), dikenal warga sebagai sosok yang sederhana. Hidupnya tak jauh dari rumah dan keluarga. Tak ada yang mencolok, tak ada yang mencurigakan. Hingga hari itu, ketika anaknya, AF (23), datang dengan sebuah permintaan.

Permintaan yang terdengar sepele: uang.

Namun, uang itu bukan untuk kebutuhan sehari-hari. Uang itu diminta untuk bermain judi online—sebuah kebiasaan yang, belakangan, mulai merambah hingga ke desa-desa.

ARTIEL TERKAIT :

Ketika Anak Kehilangan Ibu, dan Negara Kehilangan Rasa Malu

Penolakan SA barangkali lahir dari naluri seorang ibu. Ia menjaga, ia menahan, ia mencoba mencegah sesuatu yang ia anggap tidak baik. Tetapi di sisi lain, penolakan itu justru menyulut emosi yang telah lama mengendap dalam diri anaknya.

Ketegangan tak berlangsung lama. Dalam hitungan menit, percakapan berubah menjadi pertengkaran. Dan pertengkaran itu berujung pada kekerasan yang tak terkendali.

“Pelaku emosi setelah korban tidak memberikan uang yang akan digunakan untuk bermain judi slot,” ujar Kasat Reskrim Polres Lahat, AKP Muhammad Ridho Pradani, saat memberikan keterangan, Rabu (8/4/2026).

Yang terjadi setelah itu bukan lagi sekadar luapan amarah. Ia berubah menjadi rangkaian tindakan yang sulit dicerna nalar.

Setelah menghabisi nyawa ibunya, AF diduga berupaya menghilangkan jejak. Ia sempat mencoba membakar jasad korban, tetapi upaya itu gagal. Tidak berhenti di situ, ia memasukkan tubuh ibunya ke dalam karung.

Ketika tubuh itu tak muat, pilihan yang diambil justru semakin keji.

Tubuh korban dimutilasi, dipotong menjadi beberapa bagian, lalu dimasukkan ke dalam tiga karung. Karung-karung itu kemudian dibawa ke lokasi lain, di Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang.

Di sebuah kebun, jasad itu dikuburkan. Seolah-olah dengan cara itu, semua bisa dihapus—jejak, kenangan, bahkan keberadaan seorang ibu.

Namun, jejak tak pernah benar-benar hilang.

Dalam proses tersebut, AF sempat melibatkan dua rekannya. Kepada mereka, ia hanya mengatakan bahwa lubang yang digali untuk keperluan kebun. Tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, kedua rekannya membantu menggali tanah yang kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir SA.

Warga desa kini masih berbicara dengan suara pelan ketika menyebut peristiwa itu. Seolah takut luka itu terbuka kembali.

Bagi mereka, ini bukan sekadar kasus kriminal. Ini adalah sesuatu yang mengguncang batas-batas yang selama ini mereka yakini. Hubungan antara anak dan ibu—yang seharusnya menjadi ikatan paling kuat—tiba-tiba runtuh dengan cara yang paling memilukan.

Di balik peristiwa ini, ada banyak pertanyaan yang mengendap.

Tentang judi online yang diam-diam masuk ke ruang-ruang privat keluarga. Tentang tekanan ekonomi yang tak selalu tampak di permukaan. Tentang emosi yang tak terkelola, yang pada akhirnya meledak tanpa kendali.

Dan mungkin juga tentang bagaimana nilai-nilai kemanusiaan bisa terkikis, sedikit demi sedikit, tanpa disadari.

Kini, Desa Danau Belidang tak lagi sama. Jalan yang sama, rumah yang sama, tetapi dengan rasa yang berbeda. Warga melanjutkan hidup seperti biasa, tetapi peristiwa itu menetap di ingatan mereka.

Seperti luka yang tidak terlihat, tetapi terasa.

Dan barangkali, lebih lama dari berita yang menuliskannya.

TEKS : T Pamungkas  | Editor : Imron Supriyadi  | Foto : Dok.Polisi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here