Muaraenim, Inspirasinews.com – Ada kalanya hidup itu tak butuh spanduk besar, tak perlu panggung tinggi, cukup tikar bersih, hati yang berserah, dan ingatan yang jujur pada waktu. Di Masjid Jamik Nur Arafah Jalan Cut Nyak Dien No. 64 Kelurahan Tungkal, Muaraenim, malam itu (Sabtu 6 Juli 2025), tak ada gebyar sorotan kamera. Apalagi lagu dangdut dan karaoke.
Hanya lantunan rebana ibu-ibu Majelis Taklim sebagai pembuka acara, dan semerbak wewangian khas jemaah yang tercium. Dan satu momen yang jarang kita renungi: malam 1 Muharram 1447 Hijriyah.
KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.Hum, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roib, Muaraenim, yang malam itu jadi penceramah, sesaat saja membawa narasi besar revolusi dunia, terutama tentang sikap negara Iran terhadap serangan Israel.
Namun setelah itu, alumnus trainer ESQ Ari Ginanjar ini, membawa cermin besar bernama umur.
“Kalau tahun bertambah, itu artinya umur kita berkurang,” ujarnya. Kalimat itu jatuh pelan, tapi seperti memecahkan kaca tebal yang selama ini menutupi wajah kita sendiri. Kita sering bangga dengan umur tahun baru, tapi lupa umur kita sendiri sudah mendekat ke titik selesai.
“Kalau umur Nabi Muhammad itu 63 tahun, dan sekarang umur kita 60, berarti tinggal…?” tanya Ustadz Taufik, sambil melirik ke jamaah.
“Bapak umur berapa sekarang?” tanya Ustadz Taufik melirik ke Jemaah yang terdekat di sebelah kiri. Seorang bapak itu menjawab lirih, “Baru 58 tahuun, Pak Ustadz.”
“Nabi wafat umur 63 tahun, kalu kita bisa juga wafatnya di 58 setengah, jika Allah berkehendak,” balas Ustadz Taufik sambil tertawa kecil. Jamaah tertawa, tapi tawa yang getir.
Lalu pria kelahiran Kikim 50 tahun lalu ini menyodorkan contoh yang menggelitik. “Kalau malaikat Izrail kita tahu sekarang sedang berada di Rumah Sakit Rabain Muaraenim, kira-kira… Bapak Ibu mau nggak dirawat di sana?”
Semua serempak geleng-geleng, dan tertawa kecil. “Tentu tidak mau, sebab kita tahu ada malaikat di sana. Tapi soal mati, kita nggak pernah tahu datangnya dari mana, dan kapan datangnya.”

Kalimat demi kalimat mengalir. Pelan. Tidak dengan suara tinggi, tapi menikam hati. Ustadz Taufik lalu bicara soal Tajdîd an-niyyah — memperbarui niat.
Tajdîd an-niyyah berarti memperbarui niat, yaitu mengoreksi ulang alasan, tujuan, dan orientasi amal ibadah seseorang, agar senantiasa ikhlas karena Allah semata.
Dalam konteks hijrah dan momentum 1 Muharram, tajdîd an-niyyah sangat penting karena niat adalah fondasi setiap amal. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebut bahwa niat adalah “ruh” dari amal. Jika ruh itu rusak, maka seluruh amal jadi tidak bernilai. Karena itu, memperbarui niat bukan hanya saat awal amal, tapi juga ketika iman mulai melemah.
Ulama salaf bahkan mengatakan: “Seseorang memperbaiki niatnya puluhan kali dalam sehari, sebab niat itu sangat mudah berubah,” Tulis Ibnu Qayyim, dalam Madarijus Salikin.
Sementara, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Tajdîd an-niyyah itu penting, terutama saat amal mulai menjadi rutinitas. Karena rutinitas bisa membuat amal kehilangan keikhlasan dan maknanya.

“Maka, momen seperti 1 Muharram adalah titik hening yang tepat untuk mengevaluasi kembali orientasi hidup kita—apakah benar-benar lillahi ta‘ala, atau hanya ikut arus dunia?”
Oleh sebab itu, Ustadz Taufik menegaskan, peringatan 1 Muharram malam itu, bukan hanya momentum pergantian kalender, tapi juga pergantian cara pandang.
Dengan bertambahnya tahun hijriah, artinya jatah usia berkurang. Maka orang yang berakal dan sadar, justru memperbarui niatnya.
“Misalnya dari yang sebelumnya salat sekadar rutinitas, menjadi salat yang khusyuk dan penuh kesadaran; dari sedekah karena malu, menjadi sedekah karena cinta dan keikhlasan. Inilah ruh tajdîd an-niyyah,” tegasnya.
Kata Ustadz Taufik, jika dulu di tahun-tahun sebelumnya kita belum terbiasa bersedekah, maka mulailah tahun ini dengan langkah kecil namun bermakna: belajar memberi.
Sebab ibadah bukan hanya soal hubungan vertikal antara hamba dan Sang Khaliq, tapi juga urusan horizontal: kepedulian terhadap sesama makhluk.
“Ibu Bapak, ibadah yang kita jalankan, apakah sudah berdampak ke sekitar? Jangan sampai ada tetangga yang lapar, ada anak yatim yang tidak terurus, tapi kita diam. Maka celakalah orang-orang yang hanya salat, tapi lalai dalam salatnya. Siapa mereka itu? Mereka yang membiarkan anak yatim menangis, dan orang miskin dibiarkan tanpa peduli,” ujar beliau menekankan.
Dan betul, dalam setiap ayat yang memerintahkan salat, selalu ada perintah sosial yang menyertainya. “Aqiimush-shalaah… wa aatuz-zakaah…” – dirikanlah salat dan bayarkan zakat.
Di bulan Ramadan kita diperintahkan berpuasa, dan menjelang Idul Fitri justru ditutup dengan perintah membayar zakat fitrah — sebuah keseimbangan antara ritual dan sosial, antara Allah dan manusia.
Ustadz Taufik kemudian mencontohkan satu gerakan salam ke kanan dan ke kiri pada akhir shalat. Itu bukan hanya penutup ibadah, tapi menyimpan makna simbolik yang sangat dalam dalam tradisi spiritual Islam. Saat seorang muslim mengucap:
“Assalamu’alaikum warahmatullah” ke arah kanan dan kiri, ia tidak hanya memberi salam kepada para malaikat yang mencatat amal, tapi juga mengirimkan doa keselamatan dan kasih sayang kepada seluruh makhluk Allah yang berada di sekitarnya — baik manusia, jin, maupun makhluk tak terlihat,” ujarnya.
Filosofinya, setelah seseorang menyambung hubungan vertikal dengan Allah melalui takbiratul ihram hingga tahiyyat, maka ia diingatkan untuk kembali ke dunia nyata dengan semangat horizontal — peduli pada sekitarnya. Salam itu seakan berkata:
“Wahai sesamaku, aku baru saja menghadap Tuhanku, kini aku kembali padamu dengan membawa ketenangan, cinta, dan tanggung jawab sosial.”
Dalam konteks ini, kata Ustadz Taufik kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kesediaan bersedekah untuk amal jariyah, adalah wujud nyata dari salam yang bermakna.
Sebab, Islam tidak hanya mendorong hubungan pribadi dengan Tuhan (habl min Allah), tapi juga menekankan hubungan kasih dengan sesama manusia (habl min an-nas).
Kemudian, Ustadz Taufik menyampaikan satu kisah menyentuh. Tentang seorang ahli ibadah yang rajin dan khusyuk selama puluhan tahun. Hingga suatu hari ia bertemu seorang lelaki tua berjubah putih yang sedang duduk di mushala membaca sebuah buku.
“Hai orang tua,” sapa si ahli ibadah, “Apa yang sedang kau baca?” “Aku sedang membaca daftar nama-nama ahli surga,” jawab lelaki tua itu. “Coba lihat, apakah namaku tertulis di sana?” tanya si ahli ibadah dengan penuh rasa percaya diri. Lelaki itu membaca daftar itu dua kali, lalu menggeleng. “Tidak ada namamu.” Si ahli ibadah pun terkejut. “Kenapa bisa? Bukankah aku ini orang yang sudah beribadah bertahun-tahun tanpa henti?”
Dengan lembut lelaki tua itu — yang ternyata malaikat — menjawab, “Karena engkau hanya beribadah untuk dirimu sendiri. Engkau pelit, tak pernah bersedekah, tak pernah peduli pada orang lain. Maka engkau belum layak masuk ke dalam daftar itu.”
Kisah itu membuat jamaah terdiam. Tersentak. Kata Ustadz Taufik, kita ini terlalu egois dalam ibadah. Padahal sedekah adalah bekal menuju kematian.
“Sekarang, Ponpes Laa Roiba sedang membangun Masjid R Hasan, tempat anak-anak yatim dan dhuafa belajar agama. Ini peluang untuk bersedekah. Jangan biarkan peluang ini lewat begitu saja,” ujar beliau.

Dengan nada serius namun penuh kelembutan, beliau menegaskan, “Kalau nanti di akhirat, ada di antara Bapak Ibu yang protes: ‘Ustadz, kenapa dulu tidak ngajak saya ke surga?’ Maka hari ini saya jawab: Inilah ajakan itu. Hari ini saya mengajak para jemaah bersedekah, sebagai jalan menuju surga.”
Ia pun berkata jujur, “Saya tahu, saat saya bicara begini, pasti ada yang mulai mencibir. Ada yang berkata dalam hati: ‘Nah, mulai-mulai ini, ustadznya minta sedekah.’ Nggak apa-apa, Bu Pak. Tugas kami cuma menyampaikan. Soal siapa yang bersedia memberi, silakan. Sebab hanya Allah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya.”
Seiring dengan itu, Ustadz Taufik kemudian menyampaikan sebuah ayat yang berkaitan dengan ajakan untuk infaq di jalan Allah; QS. Muhammad : 38 :
“Ingatlah bahwa kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Padahal, siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allahlah Yang Mahakaya dan kamulah yang fakir. Jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan (durhaka) sepertimu.
Dalam renungan perpindahan tahun baru Islam ini, Ustadz Taufik kemudian memberi gambaran tentang kematian yang datang sesuai kebiasaan seseorang.
“Kalau kebiasaannya memancing, bisa jadi meninggalnya saat mancing. Kalau terbiasa salat malam, mengaji, sedekah, semoga Allah wafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.”
Ia menyinggung almarhum KH Yahya Waloni, yang wafat dalam keadaan sedang khutbah. “Karena memang beliau hidupnya berdakwah, maka wafatnya pun di medan dakwah. Itulah keberkahan kebiasaan yang baik.”
Ustad Taufik juga menyentil kepercayaan sebagian masyarakat Jawa tentang bulan Suro—larangan menikah, bepergian jauh, dan keramaian. Kepercayaan Jawa tentang larangan menikah, bepergian jauh, atau mengadakan pesta di bulan Suro adalah bagian dari warisan budaya sinkretik antara Islam dan tradisi Kejawen.
Secara nilai, sebenarnya bulan Suro mendorong manusia untuk introspeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan tidak berfoya-foya. Islam tidak melarang kegiatan duniawi di bulan ini, justru menganjurkan amal saleh dan refleksi diri.
Sementara di Kota Padang juga ada Tradisi Tabuik, Tabot, Lemangan di Muaraenim, juga di Jawa ada tradisi membuat bubur Suro, sebagai ekspresi lokal dari nilai-nilai Islam: peringatan duka Karbala, amal untuk anak yatim, dan refleksi diri.
“Semua berakar dari makna 10 Muharram sebagai hari penuh pelajaran: tentang kezaliman, pengorbanan, dan kepedulian. Tapi lebih penting dari segala bentuk budaya itu adalah kesadaran kita untuk memperbaiki diri, bukan hanya memperingati secara seremonial,” tegas Ustadz Taufik.
Seketika, Ustadz Taufik juga menyentak hati Jemaah dengan beberapa pertanyaan. “Pak, Bu, coba ingat lagi, kapan terakhir kita doakan orang tua kita yang sudah wafat? Sudah berapa hari berlalu sejak kita mendoakan suami atau istri? Kita sibuk dengan pekerjaan, tapi lupa kepada diri sendiri, bahwa kita ini hanya tamu, dan setiap tamu pasti akan pulang.”
Lalu beliau melanjutkan dengan sebuah pertanyaan yang membuat dada terasa sesak: “Coba renungkan, sudahkah Bapak dan Ibu menyiapkan anak-anak kita untuk mengurus jenazah kita sendiri kelak?”
“Siapa di antara anak laki-laki Bapak yang sudah bisa memandikan dan mengkafani jenazah ayahnya sendiri? Siapa di antara anak perempuan Ibu yang sudah paham bagaimana cara memandikan dan mengafani jenazah ibunya? Kalau mereka belum bisa, jangan salahkan mereka. Itu bukan salah anak-anak kita. Tapi salah kita—yang tidak pernah menyiapkan mereka.”
Ia berhenti sejenak. Sunyi menyelimuti masjid. Lalu beliau mengajak: “Maka jika hari ini Bapak Ibu yang punya anak atau cucu yang sedang belajar mengurus jenazah, belajar khutbah, belajar menjadi imam salat, belajar berdoa untuk orang tuanya—jangan dihalangi. Justru didorong dan didukung.”
“Dan jika Bapak Ibu belum punya tempat untuk mendidik anak-anak itu, Ponpes Laa Roiba siap membantu. Kami membuka Sekolah Imam dan Khatib, baik dalam program pondok maupun non-pesantren, agar anak-anak kita siap jadi pemimpin ibadah, dan siap memuliakan kedua orang tuanya—bahkan setelah wafatnya nanti.”
Jika di dunia saja kita menyiapkan segala sesuatu dengan matang—undangan pernikahan, syukuran rumah, pesta ulang tahun—maka bagaimana mungkin kita tidak menyiapkan prosesi pamungkas kehidupan kita: kematian?
Dan 1 Muharram ini bukan hanya soal tahun baru. Tapi tentang kesempatan lama yang masih Allah beri—untuk berubah, untuk bersedekah, untuk mendidik generasi, dan untuk pulang dalam keadaan husnul khatimah.
Kalau hari ini masih bisa bertobat, kenapa harus menunggu ajal?
Kalau hari ini masih bisa memberi, kenapa harus menunggu kaya?
Kalau hari ini bisa mengajak ke surga, kenapa harus diam?
Akhir acara ditutup dengan muhasabah. Suara Ustadz Taufik seketika meredupkan suasana hati jemaah dengan beberapa kali istighfar. Hati jemaah perlahan tersayat, ketika kalimat-kalimat Ustadz Taufik mulai mengingatkan kembali tentang orang tua, anak yang jauh, dan dosa-dosa jemaah kepada orang tuanya.
Ustadz Taufik mengajak semua jamaah menundukkan kepala, menyebut dosa-dosa, dan membuat janji dalam hati: memperbaiki diri hingga ajal menjemput, semoga dalam keadaan husnul khatimah.
Malam itu, azan Isyak tak sekadar pertanda masuk waktu salat. Tapi juga panggilan untuk masuk ke kesadaran baru: bahwa waktu bukan hanya yang kita jalani, tapi juga yang sedang menghabiskan kita. Peringatan 1 Muharram bukan sekadar awal tahun. Ia adalah awal pertanyaan: “Sudah siapkah kita pulang, ketika waktu benar-benar habis?”
TEKS : IMRON SUPRIYADI | FOTO : DOK. PP LAA ROIBA