KULON PROGO, Inspirasinews.com – Dunia seni rupa Indonesia akan kembali memperoleh ruang refleksi melalui pameran “Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo” yang digelar di Galeri Seni Taman Budaya Kulon Progo (TBKP), Yogyakarta, pada 11–20 Juli 2026.
Pameran yang dikuratori Jajang R Kawentar itu menjadi momentum untuk mengenang dua tokoh penting seni rupa Indonesia.
Selain memperingati 100 tahun kelahiran maestro Trubus Soedarsono (1926–2026), pameran ini juga menjadi penghormatan atas 100 hari wafatnya Sujarwo, pamong seni yang selama puluhan tahun mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan kesenian di Kulon Progo.
Trubus Soedarsono dikenal sebagai salah satu pelukis realisme-naturalisme Indonesia kelahiran Wates, Kulon Progo.
Namanya tercatat dalam sejarah seni rupa nasional melalui keterlibatannya bersama Edhi Sunarso dalam pengerjaan Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
Sejumlah karya lukisan anatomi manusia ciptaannya juga menjadi koleksi Presiden Soekarno di Istana Kepresidenan.
Menurut kurator pameran, Jajang R Kawentar, peringatan satu abad kelahiran Trubus bukan sekadar mengenang sosok maestro, tetapi juga menjadi upaya mengembalikan perhatian publik terhadap kontribusi besarnya bagi perkembangan seni rupa Indonesia.
“Karya-karya Trubus menghadirkan kejujuran artistik yang berpihak kepada nilai-nilai kemanusiaan. Momentum ini menjadi kesempatan untuk membaca kembali warisan estetik yang telah ia tinggalkan,” ujarnya.
Di sisi lain, pameran ini juga menjadi ruang penghormatan bagi almarhum Sujarwo. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pendidik, pembina, sekaligus penggerak komunitas seni di Kulon Progo.
Kehadirannya tidak hanya membina para seniman muda, tetapi juga memperjuangkan ruang hidup bagi kesenian lokal.
“Pak Sujarwo adalah sosok yang selalu hadir bersama para seniman, bahkan rela turun langsung ke lapangan demi menjaga denyut kehidupan seni di Kulon Progo. Semangat itulah yang ingin kami teruskan,” kata Jajang.
Pengampu Daulat Sampah Kulon Progo, Teguh Paino, menjelaskan bahwa pembukaan pameran akan dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 10.00 WIB, dan dibuka oleh kurator sekaligus dosen ISI Yogyakarta, Rain Rosidi, S.Sn., M.Sn.
Menurut Teguh, pameran akan menghadirkan puluhan seniman dari Kulon Progo maupun berbagai daerah lain.
Mereka menampilkan karya-karya yang menjadi ruang dialog visual lintas generasi sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Trubus Soedarsono dan dedikasi Sujarwo.

“Pameran ini mempertemukan berbagai generasi seniman untuk merespons semangat berkesenian yang diwariskan kedua tokoh tersebut,” ujarnya.
Sedikitnya lebih dari 60 seniman ambil bagian dalam pameran ini, di antaranya Adi Maryanto, Antonius Rulli, Deden FG, Erwan Sukendar, Hambali, Maryadi, MokoJepe, Nugrahanto Widodo, Oskar Matano, Sartono Ston, Sunardi, Teguh Paino, Tri Winanto, Wisnu Harjuno, Wiyono, serta sejumlah seniman muda dari komunitas Little Star, bersama puluhan partisipan lainnya.
Jajang menegaskan, pameran ini tidak dimaksudkan untuk meratapi kehilangan, melainkan merayakan keberlanjutan semangat berkesenian.
“Melalui Daulat Sampah, kita tidak sedang meratapi masa lalu, tetapi merayakan keteguhan garis kuas Trubus sekaligus menjaga agar api pengabdian yang dinyalakan Pak Sujarwo tetap menyala di hati para seniman,” katanya.
Penyelenggara mengundang masyarakat umum, pencinta seni, kolektor, akademisi, dan awak media untuk hadir menikmati pameran tersebut.
Diharapkan, “Daulat Sampah” tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sejarah kesenian hanya akan tetap hidup apabila terus dirawat, dibaca ulang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.**












