Film Dokumenter “Jongot” dijadwalkan akan diputar di Taman Budaya Sriwijaya Palembang, Ahad, 23 Agustus 2026, Pukul 14.00 WIB, yang akan mengundang berbagai lembaga dan sineas di Sumsel

PALEMBANG, Inspirsinews.com – Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumsel mengajak Para seniman, pegiat budaya, komunitas film, dan sineas di Sumatera Selatan menghadiri kegiatan Pentas Seni Sumsel & Jawa yang dirangkai dengan pemutaran film dokumenter berjudul “Jongot” di Komplek Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang.
Kegiatan tersebut akan berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026, pukul 14.00 WIB.
Sejumlah kelompok seni dijadwalkan tampil dalam rangkaian acara, di antaranya Revinda Pro, Jati Waseso, Singo Putro Buwono, Turonggo Wijoyo Kusumo, Sanggar Blok E Art Company, serta sejumlah kelompok seni lainnya.
Ketua Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumsel, Yosep Suterisno, SE mengatakan, pemutaran film dokumenter di tengah kegiatan seni budaya merupakan momentum penting untuk mempertemukan berbagai cabang kesenian dalam satu ruang apresiasi.
Menurut Tris–panggilan akrab Yosep Suterisno–film dokumenter memiliki kedekatan yang kuat dengan kehidupan sosial dan kebudayaan.
Kamera tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyimpan ingatan, membaca perubahan, serta menghadirkan kembali realitas masyarakat melalui bahasa sinema.

“Karena itu, kami mengajak para sineas, komunitas film, mahasiswa, pegiat seni, dan masyarakat pecinta film di Sumatera Selatan untuk hadir dan menyaksikan pemutaran film dokumenter Jongot,” kata Yosep.
Ia menilai, budaya menonton dan mengapresiasi karya sesama sineas perlu terus dibangun. Sebuah film, menurut dia, tidak berhenti ketika proses produksi selesai.
Film baru benar-benar menemukan ruang kehidupannya ketika bertemu dengan penonton dan kemudian melahirkan percakapan, tanggapan, kritik, serta pertukaran gagasan.
“Ekosistem perfilman tidak hanya membutuhkan orang yang mampu membuat film. Kita juga membutuhkan penonton yang kritis, komunitas yang aktif, serta ruang-ruang pemutaran yang memungkinkan terjadinya dialog tentang karya,” ujar Yosep.
Menurut dia, kegiatan pemutaran film yang dipadukan dengan pertunjukan seni budaya juga memperlihatkan hubungan yang erat antara dunia sinema dan kebudayaan. Keduanya sama-sama berangkat dari manusia, kehidupan, tradisi, serta perubahan sosial yang terjadi di sekitarnya.
Sumatera Selatan, kata Yosep, memiliki kekayaan budaya yang besar dan menyimpan banyak cerita yang dapat diterjemahkan ke dalam karya audiovisual.
Mulai dari tradisi masyarakat, seni pertunjukan, kehidupan komunitas, hingga perubahan sosial di berbagai daerah, semuanya memiliki potensi untuk menjadi sumber cerita bagi perkembangan film, khususnya film dokumenter.

“Sumatera Selatan sesungguhnya tidak kekurangan cerita. Yang kita perlukan adalah semakin banyak orang yang mau melihat, merekam, dan menceritakannya melalui bahasa film,” katanya.
Karena itu, Yosep berharap pemutaran “Jongot” tidak hanya menjadi agenda menonton bersama, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku perfilman dan kebudayaan di Sumatera Selatan.
Ia mengajak sineas untuk memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai kesempatan membangun jejaring dan memperkuat semangat kolaborasi.
“Datanglah, tonton filmnya, nikmati pertunjukan seninya, dan bertemu dengan sesama pelaku kreatif. Dari pertemuan-pertemuan seperti inilah sering kali lahir gagasan dan kerja sama baru,” ujar Yosep.
Rangkaian Saksikan Pentas Seni Sumsel & Jawa tersebut akan digelar di Komplek Taman Budaya Sriwijaya, Jalan Seniman Amri Yahya, Jakabaring, Palembang.
Bagi komunitas film dan para pegiat seni di Sumatera Selatan, kegiatan itu diharapkan menjadi salah satu ruang untuk kembali merayakan seni, kebudayaan, dan sinema secara bersama-sama.
“Mari hadir dan ikut menyaksikan. Film membutuhkan penonton, sementara kebudayaan membutuhkan ruang apresiasi,” kata Yosep Suterisno.**
Teks : Imron Supriyadi | Ilustrasi / Leaflet : Panpel/WA













