
YOGYAKARTA, Inspirasinews.com — Pameran seni rupa bertajuk Tuwuh Lan Ngrembaka (Tumbuh dan Berkembang) di Studio Kalahan, Yogyakarta, menarik perhatian pelaku seni di Kota Gudeg.
Pameran karya seniman asal Kulon Progo, Teguh Paino, itu menampilkan lukisan periode 1998-2026 serta karya instalasi berbahan limbah alam berupa pelepah dan tempurung kelapa.
Pameran yang berlangsung pada 27 April-4 Mei 2026 tersebut dinilai sebagai bentuk perlawanan estetik sekaligus transformasi kesadaran melalui pemanfaatan material organik pohon kelapa sebagai simbol kebersamaan, ketahanan pangan, dan identitas lokal.
Seniman sekaligus pemilik Studio Kalahan, Heri Dono, menilai karya-karya Teguh merepresentasikan kebebasan berekspresi, eksperimen medium, dan transformasi kesadaran.

Heri, yang baru kembali dari Jepang setelah menggelar lokakarya wayang, melihat karya Teguh sebagai cerminan perubahan sosial dari era otoritarian menuju masyarakat sipil yang lebih terbuka terhadap kebebasan berpikir dan bereksperimen.
“Teguh berhasil keluar dari cengkeraman eksotisme tradisi. Ia mengolah limbah alam seperti pelepah dan tempurung kelapa menjadi medium kontemporer, seperti wayang dan gerbang, yang melambangkan pintu masuk menuju ruang kesadaran baru,” ujar Heri.
Menurut Heri, karya Teguh juga memperlihatkan bahwa seni kontemporer tidak terbatas pada medium dua dimensi berbasis cat minyak atau akrilik.
BERITA TERKAIT :
Merayakan Proses Tumbuh: Tafsir Kehidupan dalam “Tuwuh lan Ngrembaka”
Benda-benda di sekitar yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi karya yang menyatu dengan alam dan memiliki makna artistik.
Penyair dan seniman multidisipliner Faisal Kamandobat menilai karya Teguh lahir dari proses kontemplasi yang memperlihatkan kedalaman dunia batin manusia Jawa. Ia melihat garis-garis visual Teguh memiliki karakter psikologis dan emosional yang kuat.
“Teguh tidak memilih jalur seni protes dalam menghadapi dinamika sosial-politik pada masa transisi Reformasi. Ia justru menjadikan dinamika itu sebagai laboratorium untuk menumbuhkan kesadaran rohani,” kata Faisal.
Menurut dia, penggunaan material organik pohon kelapa menghadirkan hubungan metaforis yang kuat antara pertumbuhan kesadaran manusia dan alam. Teguh, kata Faisal, tetap tumbuh di tengah modernitas dengan mempertahankan karakter manusia Jawa yang ikhlas dan tegar.
Sementara itu, kurator dan penulis seni budaya Sudjud Dartanto menilai karya-karya Teguh merepresentasikan “estetika bumi”. Di tengah dunia yang dipenuhi ego dan kecenderungan individualistik, karya Teguh menawarkan kebijaksanaan yang lahir dari kedekatan dengan alam.
“Karya-karya ini merupakan hasil pengalaman batin yang jujur. Seni menjadi cara bagi Teguh melakukan sublimasi, yakni mengalihkan pergulatan batin menjadi karya kreatif,” ujar Sudjud.
Pandangan serupa disampaikan dosen seni rupa Agus Kamal yang pernah membimbing Teguh saat menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1994. Agus melihat perkembangan artistik Teguh berlangsung sangat signifikan.
“Dari masa mahasiswa hingga sekarang, karya Teguh berevolusi dari bentuk konvensional dua dimensi menjadi karya instalasi yang lebih eksperimental dan nonkonvensional,” kata Agus.
Menurut Agus, secara umum pameran Tuwuh Lan Ngrembaka tidak sekadar menghadirkan pajangan estetika, tetapi juga membangun dialog antara manusia, tradisi, dan alam melalui kesadaran batin yang mendalam.
Teks / Foto : Jajang R Kawentar | Editor : Newsroom/Emil










