
Di sebuah ruang bekas industri di Venesia—Sale Docks—kain-kain besar digantung seperti fragmen ingatan yang belum selesai. Permukaannya tidak hanya menampilkan gambar, tetapi juga tekanan sejarah: figur-figur rakyat, simbol-simbol perlawanan, dan gestur visual yang sengaja dibiarkan kasar, padat, dan terbuka terhadap tafsir.
Yogyakarta, Inspirasinews.com – Pameran People’s Liberation: Collective Banners 2023–2026 menghadirkan Taring Padi bukan sebagai “seniman” dalam pengertian individual, melainkan sebagai organisme kolektif yang terus bergerak. Di sini, banner tidak bekerja sebagai objek estetika yang diam, melainkan sebagai medan sosial—tempat ide, konflik, dan solidaritas saling bersentuhan.
Material kain, tinta, dan teknik cukil yang menjadi bahasa visual Taring Padi terasa sengaja dijaga dalam keadaan “tidak selesai”. Ada kesan seperti poster jalanan yang dipindahkan ke ruang pamer, tanpa kehilangan debu jalanan yang membentuknya sejak awal.
“Dalam proses ini kami belajar membaca ulang konteks visual kami sendiri,” ujar Fitri Dwi Kurniasih. “Setiap gambar tidak pernah netral. Ia selalu lahir dari sejarah tempat ia dilihat.”
Pernyataan itu seolah menjadi kunci untuk membaca kehadiran Taring Padi di Venesia hari ini—sebuah upaya memindahkan praktik seni yang lahir dari gang-gang Yogyakarta ke dalam jaringan global yang jauh lebih kompleks, dan sering kali penuh ketegangan tafsir.
Ruang Sale Docks sendiri bukan white cube. Dindingnya masih menyimpan jejak fungsi lamanya sebagai infrastruktur industri. Di titik ini, karya-karya Taring Padi tidak tampil sebagai “pameran”, melainkan seperti infiltrasi visual ke dalam ruang yang sudah memiliki memori materialnya sendiri.
Alih-alih menetralkan ruang, karya-karya itu justru memperkeras dialog antara gambar dan arsitektur. Banner yang menggantung tidak hanya dibaca dari depan, tetapi juga dari sela cahaya, sudut bayangan, dan jarak tubuh pengunjung yang terus berubah.
Di luar ruang utama, mural besar di Laboratorio Occupato Morion memperluas bahasa visual itu ke dinding kota. Permukaan tembok menjadi kanvas terbuka yang tidak memisahkan seni dari kehidupan sehari-hari. Di titik ini, mural tidak lagi sekadar representasi, tetapi menjadi bagian dari lanskap sosial Venesia sendiri.
Bagi Taring Padi, Morion bukan sekadar lokasi, melainkan resonansi ruang—yang mengingatkan pada ruang-ruang belajar alternatif di masa awal mereka terbentuk di Yogyakarta akhir 1990-an.
Secara visual, karya-karya terbaru mereka memperlihatkan intensifikasi bahasa gambar yang padat: figur manusia, simbol politik, dan tanda-tanda global yang saling bertabrakan dalam satu bidang datar. Tidak ada hierarki tunggal dalam komposisi. Semua elemen tampak disusun sebagai jaringan, bukan narasi tunggal.
Kurator Alex Supartono menyebut proyek ini sebagai bagian dari perluasan praktik kolektif di luar institusi seni arus utama. Namun dalam konteks visual, yang lebih menonjol adalah cara karya-karya ini menolak menjadi “objek pameran” dalam pengertian konvensional.
Ia lebih dekat pada arsip visual yang terus diperbarui—sebuah ruang di mana gambar tidak pernah final, tetapi selalu terbuka untuk dipotong, disusun ulang, dan ditafsirkan kembali.
Dalam lanskap yang lebih luas, Taring Padi membaca dunia hari ini sebagai medan visual yang penuh ketegangan: gambar-gambar yang bersaing, narasi yang saling menegasikan, dan estetika yang tidak pernah lepas dari politik representasi.
Hestu A. Nugroho (Setu Legi) menyebut praktik mereka sebagai respons terhadap sistem seni global yang terlalu sering mereduksi gambar menjadi komoditas.
“Yang kami kerjakan bukan hanya soal seni, tetapi soal bagaimana gambar bekerja dalam struktur kekuasaan,” ujarnya.
Dalam kerangka itu, poster cukil, banner, dan mural tidak diposisikan sebagai produk akhir, melainkan sebagai alat kerja visual—yang bergerak antara ruang pamer, jalanan, dan aksi sosial.

Model produksi kolektif yang mereka jalankan—yang kerap disebut sebagai ekonomi lumbung—membentuk cara kerja yang berbeda dari institusi seni pada umumnya. Tidak ada pemisahan tegas antara proses produksi, distribusi, dan presentasi. Semuanya berlangsung dalam satu ekosistem yang cair.
Di Venesia, ekosistem itu bertemu dengan dunia seni internasional yang lebih terstruktur, lebih kuratorial, dan lebih terinstitusionalisasi. Namun justru di persinggungan itu, Taring Padi tampak mempertahankan satu hal: gagasan bahwa gambar selalu memiliki tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, pameran ini tidak hanya menghadirkan karya untuk dilihat, tetapi juga untuk dipertanyakan kembali: tentang siapa yang melihat, dari posisi mana gambar dibaca, dan bagaimana sebuah visual bisa berpindah dari ruang lokal ke jaringan global tanpa kehilangan lapisan-lapisan asalnya.
Di Venesia, banner-banner itu tidak pernah benar-benar “berhenti”. Ia terus bergerak—setidaknya dalam cara ia dibaca, diperdebatkan, dan diingat.
Teks/Foto : Jajang R Kawentar | Editor : Warman P









