
PALEMBANG, Inspirasinews.com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Baitul Iman, Perumahan Barak Banpres Sekojo Ujung, Kecamatan Sematang Borang, Palembang, Senin malam (24/8/2026), berlangsung khidmat dan penuh pesan reflektif.
Ratusan jamaah hadir dalam kegiatan yang digelar selepas salat Isyak tersebut. Hadir pula sejumlah tokoh agama, ustaz dan ustazah, unsur aparat pemerintahan Kecamatan Sematang Borang, serta jamaah dari sejumlah masjid di sekitar wilayah Sematang Borang.

Hikmah Maulid Nabi disampaikan KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim. Dalam ceramahnya, KH Taufik mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum untuk mengukur kembali sejauh mana pengakuan sebagai umat Nabi Muhammad SAW telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan Hanya Mengaku Beriman
Mengawali tausiyahnya, KH Taufik mengangkat pesan penting dari QS Al-Hujurat ayat 14, khususnya tentang perbedaan antara pengakuan keimanan dan iman yang benar-benar telah masuk ke dalam hati.
Allah SWT berfirman:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hatimu.’”
Ayat tersebut, menurut KH Taufik, memberikan pelajaran bahwa pengakuan keislaman dan keimanan tidak boleh berhenti pada ucapan. Keimanan harus mengalami proses internalisasi hingga memengaruhi sikap, perilaku, akhlak dan cara seseorang menjalani kehidupan.
Dalam perspektif Buya Hamka melalui Tafsir Al-Azhar, ayat tersebut memperlihatkan perbedaan antara Islam sebagai ketundukan lahiriah dan iman yang telah meresap ke dalam hati. Buya Hamka juga menekankan bahwa orang yang telah menyatakan Islam harus terus mengalami proses pembentukan diri melalui pembenaran hati dan pengamalan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
“Karena itu, jangan sampai kita merasa sudah menjadi orang beriman hanya karena kita mengaku Islam, mengaku umat Nabi Muhammad, memakai identitas Islam atau sering mengikuti kegiatan keagamaan. Pertanyaannya adalah: sudahkah iman itu masuk ke dalam hati dan tercermin dalam perilaku kita?” ujar KH Taufik.
Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi terutama untuk mengoreksi diri sendiri.
“Jangan sibuk bertanya apakah orang lain sudah beriman. Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah akhlak kita sudah menunjukkan akhlak seorang mukmin? Apakah kejujuran kita, amanah kita, cara kita berbicara, cara kita memperlakukan tetangga dan cara kita mencari rezeki sudah mencerminkan ajaran Rasulullah?” katanya.
Jangan Sampai Al-Qur’an Hadir, tetapi Hati Tetap Tuli
KH Taufik kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan QS Al-Baqarah ayat 18, yang menggambarkan orang-orang yang kehilangan fungsi pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara dalam menerima kebenaran.
Menurutnya, yang paling berbahaya bukanlah seseorang tidak pernah mendengar nasihat agama, tetapi sudah sering mendengar kebenaran namun tidak membiarkannya mengubah kehidupan.
“Al-Qur’an sudah datang. Rasulullah sudah memberikan teladan. Nasihat sudah sering kita dengar. Tetapi kalau setelah mendengar semua itu hidup kita tidak berubah, jangan-jangan masalahnya bukan karena kita tidak mendengar, tetapi karena hati kita yang tuli,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tuli dalam konteks ayat tersebut bukan semata-mata kehilangan kemampuan biologis untuk mendengar. Seseorang dapat memiliki telinga yang sehat, tetapi kehilangan kemampuan batin untuk menerima kebenaran.
Demikian pula dengan penglihatan. Manusia dapat melihat berbagai peristiwa kehidupan, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.
“Karena itu, kita harus membangun pendengaran hati, penglihatan hati dan kesadaran hati. Apa yang kita dengar dari Al-Qur’an harus menggerakkan perilaku. Apa yang kita lihat dari kehidupan harus melahirkan ibrah,” tuturnya.
Harga Manusia Bisa Lebih Rendah daripada Ayam
Untuk menjelaskan bagaimana Islam sesungguhnya meninggikan martabat manusia, KH Taufik menggunakan perumpamaan sederhana yang langsung mengundang respons jamaah.
Ia bertanya:
“Tulang dan daging ayam laku dijual atau tidak?”
“Laku,” jawab jamaah.
“Kalau tulang manusia laku tidak?”
“Tidak.”
Ia kembali bertanya:
“Bulu ayam laku tidak?”
“Laku,” jawab jamaah.
“Bisa dibuat kemoceng dan berbagai keperluan lainnya. Bulu manusia?”
“Tidak laku.”
Pertanyaan berikutnya membuat jamaah semakin tertarik.
“Kotoran ayam laku tidak?”
“Laku,” jawab jamaah.
“Bisa digunakan untuk pupuk.”
KH Taufik kemudian menyampaikan refleksi yang menjadi salah satu pesan utama ceramahnya.
“Kalau manusia hanya dilihat dari aspek fisiknya dan ukuran materi, ternyata ayam bisa lebih ‘berharga’ daripada manusia. Daging ayam laku, tulangnya laku, bulunya laku, bahkan kotorannya pun laku,” katanya disambut senyum dan tawa jamaah.

Namun, menurutnya, harga manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh fisiknya, kekayaannya, jabatannya maupun status sosialnya.
Harga manusia justru meningkat ketika manusia menjalankan fungsi kehambaannya kepada Allah SWT.
Ayam Tidak Mengaji, Tidak Salat, Tidak Bershalawat
KH Taufik kemudian melanjutkan perumpamaan tersebut dengan pertanyaan lain.
“Ayam mengaji tidak?”
“Tidak,” jawab jamaah.
“Kalau kita?”
“Ngaji.”
“Ayam salat?”
“Tidak.”
“Kalau kita?”
“Salat.”
“Ayam memperingati Maulid Nabi?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang membuat manusia memiliki kemuliaan yang lebih tinggi?”
Menurut KH Taufik, jawabannya adalah karena manusia diberi akal, hati, kemampuan memilih serta amanah untuk menjadi hamba Allah.
“Jadi jangan sampai manusia yang diberi akal justru hidup tanpa akhlak. Jangan sampai manusia yang bisa membaca Al-Qur’an justru perilakunya bertentangan dengan Al-Qur’an. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi akhlak kita jauh dari akhlak Rasulullah,” tegasnya.
Cinta Rasul Harus Melahirkan Akhlak
KH Taufik menegaskan bahwa inti peringatan Maulid Nabi bukan hanya memperbanyak kegiatan seremonial, tetapi menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, mencintai Rasulullah bukan sekadar menyebut nama beliau, membaca shalawat atau menghadiri peringatan Maulid, meskipun semua itu merupakan bagian dari ekspresi kecintaan yang baik.
“Cinta yang benar harus melahirkan ittiba’. Kalau kita mengatakan cinta kepada Nabi, maka kita harus berusaha mengikuti Nabi. Kalau kita bershalawat kepada Nabi, akhlak kita juga harus semakin dekat dengan akhlak Nabi,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menjadi teladan bagi manusia. Karena itu, kecintaan kepada beliau seharusnya terlihat dalam kejujuran, kasih sayang, kesabaran, amanah, kesederhanaan, kepedulian terhadap orang lemah dan kemampuan menjaga lisan.
KH Taufik juga mengutip makna hadis yang sangat populer bahwa seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Pesan tersebut, menurutnya, merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi umat Nabi Muhammad SAW, tetapi sekaligus menjadi pertanyaan besar: benarkah kita mencintai Rasulullah, atau sekadar mengaku mencintai?
“Kalau kita berharap bersama Rasulullah kelak, maka mari mulai hari ini membuktikan cinta itu melalui akhlak dan ketaatan,” ujarnya.
Shalawat dan Harapan Syafaat
Dalam kesempatan tersebut, KH Taufik juga mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Ia menjelaskan bahwa shalawat bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan dengan lisan, tetapi juga merupakan ekspresi cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.
Umat Islam meyakini adanya syafaat Rasulullah SAW dengan izin Allah pada hari akhir. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus terus dipelihara, antara lain dengan memperbanyak shalawat, mempelajari sirah beliau, memahami sunnahnya dan berusaha mengamalkan akhlaknya.
“Jangan hanya ingin mendapatkan syafaat Rasulullah, tetapi tidak mau mengikuti Rasulullah. Jangan hanya ingin diakui sebagai umat Muhammad, tetapi perilaku kita tidak menunjukkan bahwa kita adalah umat Muhammad,” tegasnya.
Maulid sebagai Momentum Menaikkan Derajat Kehambaan
Lebih jauh KH Taufik mengatakan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan momentum penting bagi umat manusia untuk memahami kembali tujuan penciptaannya sebagai hamba Allah.
Menurutnya, manusia tidak dimuliakan karena bentuk fisiknya semata, melainkan karena kehambaannya kepada Allah dan kemampuannya menjalankan amanah sebagai manusia.
“Peringatan Maulid seharusnya membuat posisi kehambaan kita semakin tinggi di hadapan Allah. Bukan semakin tinggi kesombongan kita, bukan semakin banyak pengakuan kita, tetapi semakin tunduk kita kepada Allah dan semakin baik akhlak kita kepada sesama,” katanya.
Ia menambahkan, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah secara ritual, tetapi juga bagaimana membangun kehidupan yang beradab.
Karena itu, cinta kepada Nabi harus melahirkan kepedulian sosial.
“Kalau kita mencintai Nabi, maka tetangga kita harus merasakan kebaikan dari kehadiran kita. Keluarga kita harus merasakan kasih sayang. Orang miskin harus merasakan kepedulian. Orang yang berbeda dengan kita harus tetap mendapatkan akhlak yang baik dari kita,” tuturnya.
Dari Maulid Menuju Perubahan
Menutup tausiyahnya, KH Taufik mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai titik tolak perubahan pribadi.
“Jangan pulang dari Maulid hanya membawa makanan, membawa foto dan membawa kenangan acara. Pulanglah membawa tekad untuk menjadi umat Muhammad yang lebih baik,” pesannya.
Ia mengajak jamaah membuat ukuran sederhana terhadap kecintaan kepada Rasulullah.
Semakin cinta kepada Rasulullah, semakin baik akhlaknya.
Semakin cinta kepada Rasulullah, semakin taat kepada Allah.
Semakin cinta kepada Rasulullah, semakin jujur kehidupannya.
Semakin cinta kepada Rasulullah, semakin besar kepeduliannya kepada sesama.
“Kalau kita benar-benar mencintai Nabi Muhammad SAW, mari kita buktikan cinta itu. Bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan Al-Qur’an yang hidup dalam perilaku kita dan sunnah Rasulullah yang hadir dalam kehidupan kita,” pungkas KH Taufik.
Peringatan Maulid Nabi di Masjid Baitul Iman tersebut kemudian ditutup dengan doa dan shalawat bersama. Suasana khidmat tampak hingga acara berakhir, dengan jamaah membawa pesan utama bahwa menjadi umat Nabi Muhammad SAW bukan sekadar identitas, tetapi sebuah tanggung jawab untuk menghadirkan iman, ibadah dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.**
Teks : A. Mualana | Editor : Imron Supriyadi | Foto : Ust. Dedi Susanto, S.Pd.I/Laa Roiba
—












