Beranda Agama Menjaga “Mata Batin” ASN dari Aula KUA Alang Alang Lebar

Menjaga “Mata Batin” ASN dari Aula KUA Alang Alang Lebar

8
0
BERBAGI
Launching majelis taklim tersebut diresmikan langsung oleh Kepala KUA Alang Alang Lebar, H. Zulfikar Ali Fajri. (Berdiri)

Pagi baru saja menetas di Alang Alang Lebar, Palembang, Senin (6/4/2026). Seperti biasa, halaman Kantor Urusan Agama (KUA) mulai diisi langkah-langkah para aparatur sipil negara (ASN) yang bersiap memulai hari.

Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Dari dalam aula, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan, mengisi ruang dengan ketenangan yang jarang ditemukan di tengah rutinitas birokrasi.

Di sanalah sebuah ikhtiar kecil dimulai.

KUA Alang Alang Lebar meluncurkan program pengajian rutin bertajuk MATA BATIN—Majelis Taklim Bagi ASN Tiap Senin. Sebuah program sederhana, tetapi mengandung harapan besar: menjaga keseimbangan antara tugas administratif dan kedalaman spiritual para pegawai.

Di kursi-kursi yang tersusun rapi, para penghulu, penyuluh agama, dan staf KUA duduk berdampingan. Tidak ada sekat jabatan. Semua menjadi jamaah, sama-sama mendengar, sama-sama belajar.

Kepala KUA Alang Alang Lebar, H. Zulfikar Ali Fajri, berdiri di depan. Suaranya tenang, tetapi pesannya jelas. Ia mengingatkan bahwa ASN di lingkungan KUA bukan sekadar pelaksana administrasi, melainkan representasi nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.

“Pelayanan keagamaan tidak cukup hanya dengan prosedur. Ia membutuhkan hati yang bersih dan pemahaman yang utuh,” ujarnya.

Kalimat itu seperti menemukan tempatnya di pagi yang hening.

Pengajian dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lalu mengalir ke sambutan dan diskusi. Tidak ada kesan formal yang kaku.

Percakapan berlangsung hangat, menyentuh hal-hal yang dekat dengan keseharian: tentang keikhlasan bekerja, tentang menjaga integritas, hingga tentang bagaimana nilai-nilai Islam dapat hadir dalam setiap keputusan yang diambil.

Program ini tidak berdiri sendiri. Ia hadir sebagai respons atas kebutuhan yang sering kali tak terlihat: kebutuhan untuk merawat sisi batin di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks.

Di tengah kegiatan, hadir pula narasumber dari luar institusi. Ketua Tim Pencegahan Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 Polri, Ipda Fachrurrozi, SH, memberikan materi tentang penguatan wawasan kebangsaan. Kehadirannya menambah dimensi baru dalam pengajian tersebut.

Ia menegaskan bahwa ASN memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial.

Dalam konteks itu, pemahaman keagamaan yang moderat menjadi penting untuk mencegah tumbuhnya sikap ekstrem yang berpotensi merusak persatuan.

“Menjaga agama dan menjaga negara adalah dua hal yang berjalan beriringan,” pesannya.

Bagi KUA Alang Alang Lebar, pengajian ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia dirancang sebagai rutinitas mingguan, dilaksanakan setiap Senin setelah apel pagi. Sebuah kebiasaan kecil yang diharapkan memberi dampak besar.

Di sela-sela kegiatan, suasana terasa lebih cair. Para pegawai yang biasanya disibukkan oleh berkas dan pelayanan tampak lebih santai.

Ada senyum yang mengembang, ada percakapan yang lebih akrab. Barangkali karena mereka sedang berada di ruang yang sama sebagai manusia—bukan sekadar sebagai pejabat atau staf.

Program ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarpegawai. Dalam dunia kerja, kedekatan emosional sering kali menjadi faktor penting yang menentukan kualitas kolaborasi.

Kepala KUA berharap, melalui majelis taklim ini, ASN tidak hanya meningkat secara pengetahuan, tetapi juga dalam hal integritas dan etos kerja. Sebab, pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari sistem yang tertata, tetapi juga dari karakter pelaksana yang kuat.

“MATA BATIN” menjadi nama yang terasa tepat. Ia mengingatkan bahwa di balik aktivitas yang terlihat, ada dimensi lain yang perlu dijaga. Mata yang tidak terlihat, tetapi menentukan arah.

Di akhir kegiatan, doa dipanjatkan. Tidak panjang, tetapi cukup untuk merangkum harapan yang tumbuh pagi itu: agar langkah kecil ini terus berlanjut, menjadi bagian dari budaya kerja, bukan sekadar program sesaat.

Dari aula sederhana di sudut Palembang itu, sebuah pesan mengalir pelan: bahwa membangun pelayanan publik tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Kadang, ia berawal dari upaya sederhana—merawat hati, menjaga niat, dan memastikan bahwa setiap pekerjaan dilakukan dengan kesadaran yang utuh.

Dan barangkali, dari situlah kualitas pelayanan menemukan maknanya yang paling dalam.

TEKS : KUA AAL   | EDITOR : Newsroom Inspirasinews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here