Beranda Kriminal Ketika Anak Kehilangan Ibu, dan Negara Kehilangan Rasa Malu

Ketika Anak Kehilangan Ibu, dan Negara Kehilangan Rasa Malu

16
0
BERBAGI
Oleh Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Di sebuah desa yang sunyinya biasanya hanya dipecah oleh ayam berkokok dan angin yang lewat pelan, tiba-tiba Tuhan seperti menarik tirai kehidupan dan memperlihatkan satu adegan paling getir: seorang anak membunuh ibunya sendiri.

Bukan karena perang. Bukan karena perebutan warisan miliaran. Bukan pula karena ideologi. Hanya karena tidak diberi uang untuk berjudi online.

Mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Dan bertanya pelan-pelan: ini sebenarnya kisah tentang siapa?

Apakah ini hanya tentang AF, seorang anak yang kehilangan akal sehatnya? Ataukah ini tentang kita semua yang perlahan kehilangan akal sehat bersama-sama?

ARTIKEL TERKAIT :

Sunyi yang Pecah di Danau Belidang, Duka Ibu di Lahat

Dalam kitab-kitab lama yang kita baca setengah mengantuk itu, disebutkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Tetapi di zaman sekarang, tampaknya sebagian anak tidak lagi melihat telapak kaki ibunya—yang mereka lihat adalah layar ponsel, dengan tombol “spin” yang berkilau seperti janji palsu.

Maka jangan heran jika yang diinjak bukan lagi jalan menuju surga, tetapi jalan menuju kehancuran.

AF bukan sekadar pelaku. Ia adalah produk. Produk dari zaman yang menciptakan ilusi tanpa batas, tapi tidak menyediakan makna. Ia hidup di dunia yang mengajarkan kecepatan, tapi tidak mengajarkan kesabaran. Dunia yang memuja hasil, tapi lupa proses. Dunia yang memberi akses judi di ujung jari, tetapi tidak memberi pegangan moral di dalam hati.

Dan di tengah dunia seperti itu, negara berdiri di mana?

Mungkin sedang sibuk rapat. Mungkin sedang menyusun regulasi yang panjangnya lebih rumit dari masalahnya. Atau mungkin—ini yang paling menyedihkan—negara tahu, tapi pura-pura tidak tahu.

Kita ini bangsa yang aneh. Judi dilarang, tapi iklannya berseliweran dalam bentuk yang disamarkan. Situsnya diblokir, tapi muncul lagi dengan nama baru seperti setan yang punya banyak wajah. Kita seperti orang yang menutup pintu depan, tapi membiarkan jendela belakang terbuka lebar.

Lalu kita bertanya: kenapa maling masuk?

Jawabannya sederhana: karena kita sendiri yang mengundangnya, meski tidak secara terang-terangan.

Negara sering berkata, “Kami sudah memblokir ribuan situs judi online.” Tapi pertanyaannya: berapa menit situs baru muncul setelah itu? Berapa detik seseorang bisa mengaksesnya kembali? Dan berapa banyak anak muda yang sudah terlanjur kecanduan sebelum situs itu diblokir?

Ini bukan soal teknis. Ini soal kesungguhan.

Kalau negara sungguh-sungguh, ia tidak hanya memblokir, tapi memburu. Tidak hanya melarang, tapi membersihkan. Tidak hanya mengumumkan, tapi menuntaskan.

Jangan sampai negara hanya kuat di konferensi pers, tapi lemah di medan kenyataan.

Dalam perspektif agama, judi itu bukan sekadar dosa personal. Ia adalah pintu dari banyak kerusakan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa judi dan khamar adalah “rijsun min ‘amalisy syaithan”—kotoran dari perbuatan setan. Artinya, ini bukan sekadar salah, tapi memang dirancang untuk menjerumuskan.

Dan lihatlah hasilnya hari ini: seorang anak kehilangan ibunya, bukan karena takdir, tapi karena pilihan yang salah—yang difasilitasi oleh sistem yang permisif.

Kita sering menyalahkan individu. Dan itu tidak salah. AF tetap harus bertanggung jawab. Tapi kalau kita berhenti di situ, kita sedang menyederhanakan masalah.

Sebab di belakang AF, ada ekosistem. Ada platform. Ada bandar. Ada aliran uang. Dan—maaf—ada pembiaran.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Pertama, negara harus berhenti bersikap setengah hati. Ini bukan lagi soal moralitas individu, tapi soal keamanan sosial. Judi online harus diperlakukan seperti narkoba: diberantas sampai ke akar, bukan hanya di permukaan.

Kedua, pendidikan kita harus kembali mengajarkan makna hidup, bukan hanya cara mencari uang. Anak-anak kita diajari menghitung, tapi tidak diajari menahan diri. Mereka diajari teknologi, tapi tidak diajari tanggung jawab.

Ketiga, keluarga harus kembali menjadi benteng. Tapi bagaimana keluarga bisa kuat kalau negara membiarkan racun masuk ke rumah melalui internet tanpa filter yang memadai?

Keempat, para pemuka agama jangan hanya sibuk di mimbar, tapi turun ke realitas. Judi online bukan sekadar isu hukum, tapi juga krisis spiritual. Ini soal hati yang kosong, yang kemudian diisi oleh ilusi kemenangan instan.

Kasus di Lahat ini bukan sekadar berita. Ia adalah cermin. Dan yang kita lihat di cermin itu tidak selalu menyenangkan.

Kita melihat wajah kita sendiri—yang mulai kehilangan rasa. Kita melihat negara—yang mulai kehilangan ketegasan.
Dan kita melihat generasi—yang mulai kehilangan arah.

Seorang ibu telah kehilangan nyawanya. Seorang anak telah kehilangan masa depannya. Dan kita semua—jika tidak belajar dari ini—akan kehilangan sesuatu yang lebih besar: kemanusiaan kita sendiri.

Maka pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah?” Tetapi: masihkah kita punya cukup rasa untuk memperbaiki semuanya?

PP Laa Roiba, Muaraenim, 09 Maret 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here