Sore itu, ruang di Indie Art House tidak sepenuhnya riuh, tetapi juga tidak sunyi. Ada jeda-jeda yang terasa hidup—orang berdiri agak lama di depan kanvas, lalu bergeser perlahan, seolah memberi ruang bagi tafsir yang belum selesai.
Rabu, 15 April 2026, pembukaan pameran Pertelon berlangsung tanpa gegap yang berlebihan, namun justru di situlah letak tenaganya: tenang, tapi penuh.
Dibuka oleh pelukis Nasirun dan dikuratori Jajang R Kawentar, pameran ini menghadirkan 42 karya dari tujuh seniman: Deni Setiawan, Antonius Ruli, D. Koestrita, N. Rinaldy, Moko Jepe, Deden FG, dan Riduan.
Mereka datang dari kecenderungan yang berbeda—abstrak, surealis, hingga impresif—namun tidak sedang berusaha menyatukan diri dalam satu gaya. Justru sebaliknya, masing-masing tampak berdiri pada pijakannya sendiri.
Di titik ini, Pertelon menjadi menarik. Ia tidak menawarkan keseragaman, juga tidak sibuk membangun perbedaan sebagai sensasi.
Ia seperti sebuah persimpangan—atau dalam bahasa Jawa, pertelon—yang tidak memaksa orang memilih arah, tetapi mengajak berhenti sejenak.
“Yang kita bicarakan bukan lagi gimik, bukan juga sengkarut wacana seni rupa,” tulis Jajang dalam pengantarnya.
“Melainkan suka cita atas apa yang kita miliki saat ini.” Kalimat itu terasa sederhana, tetapi justru membuka ruang yang jarang disentuh: penerimaan.
Di dunia seni rupa yang kerap dipenuhi tuntutan—entah pasar, wacana, atau ekspektasi—Pertelon seperti mengendurkan ketegangan.
Ia tidak berusaha menjawab pertanyaan besar, melainkan menggeser cara bertanya. Bukan lagi “apa yang baru?”, melainkan “apa yang sudah kita jalani, dan bagaimana kita menerimanya?”
Karya-karya dalam pameran ini bergerak di wilayah yang lebih personal. Abstraksi Deni Setiawan dan Antonius Ruli tidak tampak sebagai eksplorasi liar, tetapi lebih seperti pengendapan.
Demikian pula surealisme Moko Jepe dan Deden FG, yang terasa tidak sedang melarikan diri dari realitas, melainkan mengolahnya dalam ruang batin.
Sementara itu, sapuan impresif Riduan menghadirkan kesan yang langsung, namun tidak tergesa-gesa.
Semua itu seperti mengarah pada satu hal: kedewasaan sikap. Bukan dalam arti teknis semata, tetapi dalam keberanian untuk berhenti membandingkan diri dengan arus di luar.
Para seniman di Pertelon tampaknya tidak lagi sibuk mencari legitimasi, melainkan merawat keyakinan atas jalur yang telah mereka pilih.
Di sinilah istilah luweh menemukan konteksnya. Sebuah sikap yang tidak lagi dibebani keharusan untuk menjelaskan segalanya.
Ada keikhlasan untuk melepaskan ekspektasi—baik dari pasar, kurator, maupun publik—dan menggantinya dengan kebebasan yang lebih sunyi: kebebasan untuk jujur pada diri sendiri.
Pertelon tidak menolak wacana, tetapi juga tidak tunduk padanya. Ia memilih jalur yang lebih intim—menghidupi proses kreatif sebagai pengalaman personal.
Seni tidak lagi menjadi medan pembuktian, melainkan ruang untuk bernapas.
Barangkali, inilah yang membuat pameran ini terasa berbeda. Ia tidak sedang berteriak, tetapi juga tidak bersembunyi.
Ia hadir seperti persimpangan yang sederhana: tempat orang bisa berhenti, menoleh ke belakang, lalu melanjutkan perjalanan—dengan kesadaran yang sedikit berubah.
Pameran Pertelon berlangsung hingga 30 April 2026, setiap pukul 11.00–17.00 WIB.
Namun seperti persimpangan pada umumnya, yang ditinggalkan bukan hanya arah, melainkan juga kemungkinan-kemungkinan yang terus tinggal di kepala.**
TEKS / FOTO : RELEASE/JJK | EDITOR : WARMAN P











