Beranda Agama Kiai Mursyidi Ajak Jemaah Menyucikan Hati, Menjernihkan Amal

Kiai Mursyidi Ajak Jemaah Menyucikan Hati, Menjernihkan Amal

39
0
BERBAGI
KH Mursyidi (tengah) saat menyampaikan materi dalam pengajian Tasauf di Kediaman Kiai Edi Saputra
Dari Sebuah Pengajian Tasawuf di Ujan Mas, JATMAN Muara Enim Menghidupkan Jalan Ruhani Menuju Allah

Muara Enim, Inspirasinews.com – Malam telah turun sempurna di Dusun II Ujan Mas Baru. Di Gang Rambutan, cahaya lampu rumah sederhana milik Rais Idaroh Syu’iyah Ifadiyyah Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Muara Enim, Kiai Edi Saputra, memancar hangat ke halaman yang mulai dipenuhi jamaah.

Sebagian adalah warga sekitar. Sebagian lainnya datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Muara Enim, terdiri atas pengurus dan jamaah JATMAN yang telah lama merindukan majelis ruhani seperti ini. Mereka tidak datang untuk mengikuti perdebatan fiqih atau mendengarkan retorika yang menggebu. Mereka datang membawa satu kerinduan yang sama: belajar mengenali hati.

Di zaman ketika manusia sibuk memperindah penampilan lahir, malam itu mereka justru diajak mempercantik sesuatu yang tidak tampak oleh mata—qalbu.

“Ini adalah pengajian tasawuf ketiga yang diselenggarakan JATMAN Kabupaten Muara Enim,” ujar Ketua JATMAN Kabupaten Muara Enim, Kiai Mahfud, membuka majelis, Senin (20/7/2026).

Jemaah yang sedang mengikuti Pengajian Tasauf di Kediaman Kiai Edi Saputra, Ds. Ujan MAs Baru, Ujan MAs Kab. Muara Enim, (20/07/2026)

Menurutnya, pengajian tersebut merupakan bagian dari agenda rutin JATMAN dalam mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat dimensi ruhani jamaah.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya pertemuan fisik, tetapi juga perjumpaan hati. Sebab perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari hati yang bersih,” tuturnya.

Malam itu, pembicara utama adalah KH. Mursyidi, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Putak, Kecamatan Gelumbang. Sebagaimana gaya mengajarnya yang sederhana namun mendalam, beliau tidak langsung menyampaikan ceramah. Terlebih dahulu beliau membagikan selembar materi kepada seluruh jamaah agar setiap orang dapat mengikuti kajian secara perlahan.

Suasananya tenang.

Tidak ada suara yang meninggi.

Tidak ada kalimat yang menghakimi.

Yang ada hanyalah guru dan murid yang sama-sama sedang menempuh perjalanan menuju Allah.

Tema yang diangkat malam itu sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna: Tazkiyatul Qulūb lil A’māl (تزكية القلوب للأعمال)—Menyucikan Hati dalam Beramal.

Tema itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh benar atau tidaknya pelaksanaan secara syariat, tetapi juga oleh kebersihan hati yang melandasinya.

Bagi KH. Mursyidi, amal yang besar belum tentu bernilai besar di sisi Allah. Sebaliknya, amal yang tampak sederhana dapat menjadi sangat mulia apabila lahir dari hati yang ikhlas, bersih dari riya, ujub, sum’ah, dan berbagai penyakit batin.

Di sinilah tasawuf menemukan ruangnya.

Jika fiqih mengajarkan bagaimana shalat dilakukan dengan benar, bagaimana wudhu menjadi sah, atau bagaimana rukun haji dipenuhi secara sempurna, maka tasawuf mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:

Siapakah yang sedang shalat? Hati yang bagaimana yang sedang berdiri di hadapan Allah?

Tasawuf tidak berhenti pada gerakan tubuh.

Tasawuf memasuki ruang yang paling sunyi dalam diri manusia.

Ruang bernama hati.

Untuk menjelaskan hal itu, KH. Mursyidi justru memulai dari pengalaman pribadinya.

Sebagai pengasuh pesantren, ia mengaku pernah beberapa kali marah ketika mendapati santri melanggar aturan.

“Ada kalanya saya masih marah ketika melihat santri berbuat salah,” tuturnya dengan jujur.

Pengakuan itu justru membuat jamaah semakin dekat dengannya. Sebab yang berbicara bukan seseorang yang merasa telah selesai memperbaiki diri, melainkan seorang guru yang terus belajar membersihkan hati.

Kegelisahan itulah yang kemudian membawanya menemui para kiai sepuh di Pulau Jawa.

Ia bertanya, mengapa kemarahan itu masih muncul, padahal dirinya telah lama mengajar ilmu agama.

Jawaban gurunya sederhana, tetapi menghentak batin.

“Yang kamu pelajari selama ini masih kitab-kitab fiqih. Maka yang kamu lihat adalah kesalahan yang tampak. Padahal marah itu berada di dalam hati. Persoalan hati tidak selesai hanya dengan fiqih, tetapi harus dibersihkan melalui ilmu tasawuf.”

Kalimat itu menjadi titik balik perjalanan spiritual KH. Mursyidi.

Sejak saat itu, ia memperdalam kitab-kitab tasawuf dan mulai memahami bahwa akar persoalan manusia bukan semata perilaku lahiriah, tetapi kondisi hati yang melahirkan perilaku tersebut.

“Nah, kajian tasawuf yang sangat erat kaitannya dengan hati ini tidak akan kita temukan secara mendalam dalam kitab-kitab fiqih. Di sinilah pentingnya jalan tarekat sebagai sarana tazkiyatun nafs dan penyucian hati,” jelasnya.

Menurut KH. Mursyidi, syariat dan tasawuf bukanlah dua jalan yang saling bertentangan.

Syariat mengatur benar tidaknya amal lahiriah.

Tasawuf menghidupkan ruh dari amal tersebut.

Shalat mungkin sah menurut fiqih, tetapi apakah hati benar-benar hadir di hadapan Allah? Itulah wilayah yang disentuh oleh tasawuf.

Karena itu, ia mengajak jamaah agar tidak lagi memandang tarekat dengan prasangka.

Menurutnya, tarekat yang diikuti melalui tarekat mu’tabarah adalah jalan pembinaan ruhani yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW melalui para mursyid yang diakui dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam lingkungan Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), tarekat mu’tabarah berarti tarekat yang memiliki silsilah (sanad) yang jelas, ajarannya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta dibimbing oleh mursyid yang telah memperoleh izin (ijazah) dari guru-gurunya.

Mengapa seseorang perlu dibimbing oleh mursyid melalui baiat?

KH. Mursyidi menjawabnya dengan analogi yang membumi.

Guru beliau pernah berkata,

“Kamu tahu motor  BODONG, MOTOR tanpa STNK dan surat-surat resmi? Nilainya pasti berbeda dengan motor yang jelas asal-usulnya. Begitu pula ilmu zikir. Ketika dibimbing oleh mursyid yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah, perjalanan ruhani memiliki mata rantai yang jelas.”

Analogi sederhana itu membuat jamaah mudah memahami pentingnya sanad dalam perjalanan spiritual.

Namun malam itu pembicaraan tidak berhenti pada dimensi pribadi.

KH. Mursyidi juga mengajak JATMAN memikirkan masa depan gerakan dakwah tasawuf.

Menurutnya, pengajian seperti ini harus terus dikembangkan hingga ke dusun-dusun.

Sudah saatnya masyarakat mengenal tasawuf secara terbuka sebagai bagian dari khazanah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Orang perlu mengetahui bahwa zikir bukan sekadar bacaan lisan, tetapi perjalanan hati menuju Allah,” ujarnya.

Di penghujung kajian, pembahasan bergeser pada keberlangsungan organisasi.

Dana sering menjadi alasan berhentinya sebuah gerakan.

Namun KH. Mursyidi justru mengajak jamaah belajar kepada seekor rayap.

Rayap tidak membangun rumah dalam sehari. Ia memindahkan butiran demi butiran tanah hingga akhirnya berdiri bangunan yang kokoh.

“Kita pun begitu. Tidak perlu menunggu memiliki banyak. Siapkan kaleng infak di setiap jamaah. Berapa pun isinya, jika dilakukan terus-menerus, insya Allah akan menjadi kekuatan besar.”

Filosofi rayap itu terasa sangat tasawuf.

Ia mengajarkan istiqamah.

Mengajarkan kesabaran.

Dan mengingatkan bahwa amal kecil yang dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah daripada semangat besar yang hanya sesaat.

Hampir dua jam majelis berlangsung.

Pengajian ditutup dengan doa bersama dan makan malam sederhana yang dinikmati dalam suasana penuh persaudaraan.

Sebelum jamaah berpamitan, diumumkan bahwa pengajian tasawuf berikutnya direncanakan berlangsung pada bulan September di kawasan Unit VIII Kabupaten Muara Enim.

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar perpindahan tempat.

Namun bagi para pencari jalan menuju Allah, setiap majelis tasawuf adalah satu anak tangga baru dalam perjalanan membersihkan hati.

Sebab pada akhirnya, yang paling berat dalam hidup bukanlah memperbanyak amal, melainkan menjaga agar setiap amal lahir dari hati yang bersih. Itulah hakikat Tazkiyatul Qulūb lil A’māl—menyucikan hati dalam beramal, agar setiap langkah menuju Allah benar-benar bernilai ibadah.**

Teks/Foto : Imron Supriyadi (Sekretaris JATMAN Muara Enim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here