Beranda Opini Jangan Pernah Membawa Bantal ke Rumah Sakit

Jangan Pernah Membawa Bantal ke Rumah Sakit

14
0
BERBAGI
Ilustrasi : AI
jangan-jangan yang selama ini kita kira membutuhkan bantal hanyalah kepala. Padahal yang sesungguhnya membutuhkan sandaran adalah : jiwa.
Oleh: Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim

Bantal adalah benda yang tampaknya sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk dipikirkan.

Ia tidak punya mulut untuk bicara, tidak punya kaki untuk berjalan, apalagi tangan untuk menandatangani surat keputusan.

Tetapi jangan salah: dalam diamnya, bantal menyimpan sejarah panjang tentang manusia, kenyamanan, kekuasaan, kesehatan, bahkan kesepian.

Siapa pun Anda, hampir pasti mengenal bantal. Ia bersejajar dengan ranjang, kepala, sofa, kursi tamu, dan kenyamanan. Kita tidur dengan bantal, membaca sambil bersandar pada bantal, menonton televisi dengan bantal, bahkan kadang menjadikan bantal sebagai tempat pelarian paling sederhana setelah seharian berkelahi dengan dunia.

Ukuran bantal tidur yang lazim sekitar 45 x 60 sentimeter. Isinya bisa dakron, silikon, kapuk, bulu angsa, bahkan busa. Kulitnya bisa dari katun, linen, TC, kanvas, atau bahan lain. Ada bantal tidur, bantal guling, bantal sofa, bantal leher, bantal ibu hamil, bantal ortopedi, bantal donat, bantal lantai, sampai bantal cinta.

Tetapi saya tidak sedang hendak mengajari Anda cara membuat bantal. Saya justru ingin mengajak Anda berpikir: mengapa manusia begitu membutuhkan bantal? Dan mengapa saya mengatakan: jangan pernah membawa bantal ke rumah sakit?

Tenang. Ini bukan larangan dokter. Bukan pula tata tertib rumah sakit. Ini adalah nasihat kehidupan.

Sebab kadang-kadang yang paling berbahaya bukan bantal yang kita bawa ke rumah sakit, melainkan kenyamanan yang baru kita sadari nilainya setelah kita kehilangan kesehat

Bantal dan Sejarah Manusia

Bantal ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Dalam sejumlah catatan populer tentang sejarah peradaban, bantal sudah dikenal sejak peradaban kuno.

Di Mesopotamia, manusia menggunakan benda keras seperti batu yang dibentuk sedemikian rupa untuk menyangga kepala. Jangan bayangkan bantal mereka seperti bantal kita sekarang. Ia tidak empuk. Ia bahkan mungkin membuat kita bertanya: “Ini bantal atau batu bata?”

Tetapi manusia zaman dahulu punya alasan. Benda itu antara lain digunakan untuk meninggikan kepala agar serangga yang hidup di lantai tidak mudah masuk ke hidung, mulut, atau telinga ketika manusia tidur.

Di Mesir kuno, bantal juga memiliki dimensi spiritual dan simbolik. Kepala dianggap penting. Bantal tidak sekadar menyangga leher, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan dan keyakinan spiritual.

Di Tiongkok kuno, bantal bahkan pernah dibuat dari keramik, bambu, batu giok, atau porselen. Benda keras itu diyakini mempunyai manfaat tertentu bagi tubuh dan digunakan pula untuk mempertahankan bentuk rambut.

Kemudian Yunani dan Romawi mengenalkan bantal yang lebih dekat dengan pengertian modern: empuk, berisi wol, kain perca, jerami, alang-alang, bahkan bulu angsa. Di sini manusia mulai mengenal satu kata yang sangat berbahaya jika tidak dikendalikan: nyaman.

Kenyamanan itu perlu. Tetapi kenyamanan juga bisa membuat manusia lupa. Mungkin karena itu sejarah bantal sebenarnya adalah sejarah manusia dalam mencari titik temu antara kebutuhan dan kemewahan.

Pada suatu zaman, bantal menjadi simbol status. Pada zaman lain, bantal dianggap sebagai kemewahan yang hanya layak dinikmati kalangan tertentu.

Ketika revolusi industri datang, produksi massal membuat bantal semakin murah dan dapat dinikmati masyarakat luas. Artinya, bantal bukan sekadar benda untuk kepala.

Bantal adalah salah satu saksi bahwa peradaban manusia selalu bergerak dari bertahan hidup menuju mencari kenyamanan.

Dan ketika kenyamanan sudah menjadi kebiasaan, manusia sering lupa bahwa kenyamanan itu sebenarnya nikmat.

Dari Bantal ke Guling

Orang Indonesia mempunyai hubungan yang lebih mesra lagi dengan bantal. Kita punya guling.

Ada kisah populer yang menghubungkan guling dengan istilah kolonial Dutch Wife atau “Istri Belanda”. Kisah tersebut berkaitan dengan para lelaki Eropa di Hindia Belanda yang hidup jauh dari keluarga dan kemudian menggunakan bantal panjang untuk dipeluk ketika tidur.

Simbol Kesepian

Apakah seluruh detail kisah itu dapat diterima sebagai fakta sejarah yang mutlak? Tidak selalu. Sejarah bantal dan guling memang memiliki banyak versi.

Tetapi ada satu hal yang menarik: bantal dapat menjadi simbol kesepian manusia. Ini yang sering kita lupakan.

Manusia bukan hanya membutuhkan makanan dan tempat tinggal. Ia membutuhkan sesuatu untuk dipeluk. Ia membutuhkan rasa aman. Ia membutuhkan kehadiran. Karena itu, jangan meremehkan bantal.

Benda yang kita anggap remeh ternyata bisa berbicara tentang kesehatan, kebudayaan, kelas sosial, spiritualitas, bahkan kesepian manusia.

Tetapi dari semua itu, ada satu tempat yang membuat bantal berubah makna secara drastis:

rumah sakit. Maka : Jangan Pernah Membawa Bantal ke Rumah Sakit.

Secara praktis, sejumlah rumah sakit memang membatasi barang bawaan dari luar, termasuk bantal dan perlengkapan tidur, terutama demi pengendalian infeksi, kebersihan, tata ruang, dan pengelolaan fasilitas.

Tetapi saya tidak sedang membicarakan aturan rumah sakit. Saya sedang membicarakan rumah sakit sebagai metafora kehidupan.

Sebab secara logika sederhana, orang tidak akan membawa bantal dari rumah ke rumah sakit jika hidupnya sedang baik-baik saja. Orang membawa bantal ke rumah sakit karena ada seseorang yang sedang sakit. Ada ibu. Ada ayah. Ada suami. Ada istri. Ada anak. Ada saudara. Ada seseorang yang dicintai.

Dan ketika seseorang mulai membawa bantal ke rumah sakit, sebenarnya ia sedang membawa satu pesan yang sangat dalam: “Aku sedang kehilangan kenyamanan rumahku.”

Di rumah kita tidur dengan tenang. Di rumah sakit, kita berjaga. Di rumah kita mempunyai kasur. Di rumah sakit, kita mungkin hanya memiliki kursi. Di rumah kita dapat tidur delapan jam. Di rumah sakit kita bertanya setiap beberapa jam:

“Bagaimana kondisi Bapak?” “Bagaimana keadaan Ibu?” “Dokter sudah datang?” “Kapan boleh pulang?”

Maka bantal yang dibawa ke rumah sakit bukan sekadar bantal. Ia adalah surat pemberitahuan dari kehidupan bahwa kenyamanan sedang dicabut sementara.

Nabi Sudah Mengingatkan

Rasulullah SAW mengajarkan sebuah prinsip yang sangat sederhana tetapi sering kita abaikan: Ightanim khamsan qabla khamsin. (Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkar

Masa mudamu sebelum tuamu. Sehatmu sebelum sakitmu. Kayamu sebelum miskinmu. Waktu luangmu sebelum sibukmu. Hidupmu sebelum matimu.

Hadis ini bukan sekadar nasihat untuk ditempel di dinding masjid. Ia adalah manual kehidupan.

Masalahnya, manusia modern sering baru memahami manual setelah mesinnya rusak.

Kita baru menghargai kesehatan setelah masuk rumah sakit. Baru menghargai orang tua setelah mereka terbaring. Baru menghargai waktu setelah kesempatan habis. Baru menghargai uang setelah rekening menipis. Baru menghargai kehidupan setelah dokter mengatakan: “Mohon keluarga bersiap.”

Mengapa manusia harus menunggu sakit untuk menghargai sehat? Mengapa harus menunggu kehilangan untuk belajar mencintai? Mengapa harus menunggu tua untuk bertanya ke mana masa muda pergi? Dan mengapa harus menunggu negara sakit untuk kemudian sibuk mencari dokter?

Negara yang Terlalu Banyak Bantal

Di sinilah bantal mulai masuk ke wilayah politik. Sebuah negara juga bisa mengalami penyakit bantal.

Apa penyakit bantal itu? Penyakit ketika pejabat terlalu nyaman duduk di kursinya, sementara rakyat justru tidur tanpa kasur.

Penyakit ketika jabatan diperlakukan sebagai tempat bersandar, bukan amanah untuk bekerja.

Penyakit ketika fasilitas negara empuk, tetapi kehidupan rakyat keras.

Penyakit ketika rapat dibuat nyaman, tetapi hasilnya tidak nyaman bagi masyarakat.

Kita mengenal istilah “kursi kekuasaan”. Kursi itu sebenarnya hanya benda. Tetapi setelah diberi kekuasaan, kursi bisa berubah menjadi bantal.

Orang yang tadinya berjanji mengabdi, setelah duduk mulai mencari kenyamanan.

Awalnya berkata : “Demi rakyat.” Lama-lama: “Demi periode berikutnya.” Setelah itu: “Demi kelompok.” Kemudian: “Demi keluarga.” Dan akhirnya, yang paling menyedihkan: demi diri sendiri. Di situlah amanah berubah menjadi bantal.

Bantal yang terlalu empuk membuat kepala kehilangan kewaspadaan. Padahal seorang pemimpin justru harus mempunyai kepala yang tegak, telinga yang terbuka, dan hati yang gelisah melihat penderitaan rakyat. Pemimpin tidak boleh terlalu nyaman.

Sebab rakyat masih banyak yang belum nyaman. Rumah Sakit Bernama Indonesia. Barangkali Indonesia tidak kekurangan orang pintar.

Kita juga tidak kekurangan aturan. Undang-undang ada. Peraturan ada. Lembaga ada. Kementerian ada. Komisi ada. Rapat ada. Seminar ada. Seragam ada. Spanduk ada.

Bahkan slogan tentang perubahan pun ada.

 

Yang sering kurang adalah satu hal: rasa sakit terhadap penderitaan rakyat.

Sebab kalau seorang pemimpin benar-benar merasakan sakit rakyat, ia tidak akan mudah tidur di atas bantal kekuasaan. Ia akan merasa terganggu.

Harga beras naik, ia terganggu. Petani kesulitan pupuk, ia terganggu. Guru honorer hidup pas-pasan, ia terganggu. Anak-anak miskin kesulitan sekolah, ia terganggu. Rumah sakit kekurangan fasilitas, ia terganggu. Korupsi terjadi, ia terganggu.

Ketika rakyat menangis, pemimpin tidak boleh terlalu cepat mencari bantal.

Ia harus mencari jalan keluar.

Sebab kepemimpinan dalam Islam bukan perkara siapa yang paling tinggi duduknya. Kepemimpinan adalah perkara siapa yang paling berat memikul amanahnya.

Jangan Tunggu Bantal Itu Dibawa. Maka sekali lagi: Jangan pernah membawa bantal ke rumah sakit.

Bukan karena bantal itu haram. Bukan karena bantal itu berbahaya. Bukan pula karena rumah sakit membencinya. Tetapi jadikan kalimat itu sebagai alarm kehidupan: Jangan menunggu sakit untuk menghargai sehat.

Jangan menunggu ibu masuk rumah sakit baru kita mencium tangannya. Jangan menunggu ayah terbaring baru kita mengucapkan terima kasih.

Jangan menunggu anak tumbuh besar baru kita menyadari betapa cepat masa kanak-kanak berlalu. Jangan menunggu miskin baru belajar berbagi. Jangan menunggu tua baru belajar mengaji. Jangan menunggu mati baru bertanya apakah hidup kita sudah berarti.

Dan kepada para pemegang amanah negara: jangan tunggu rakyat membawa bantal ke rumah sakit bernama Indonesia.

Sebab kalau rakyat sudah datang ke rumah sakit, persoalannya mungkin bukan lagi sekadar sakit kepala. Mungkin yang sakit adalah sistemnya. Mungkin yang sakit adalah tata kelolanya. Mungkin yang sakit adalah mentalitasnya. Mungkin yang sakit adalah rasa malunya.

Dan penyakit semacam itu tidak cukup diobati dengan konferensi pers. Ia membutuhkan keberanian. Kejujuran. Keteladanan. Dan kesediaan untuk turun dari kursi yang empuk, berjalan ke bawah, lalu bertanya kepada rakyat: “Apa yang sebenarnya sakit?”

Karena seorang pemimpin sejati bukan orang yang paling empuk bantalnya. Ia adalah orang yang paling sedikit membutuhkan bantal ketika rakyat sedang membutuhkan pertolongan.

Dan seorang manusia yang bijaksana bukanlah orang yang baru bersyukur setelah kehilangan. Ia adalah orang yang, ketika masih sehat, masih muda, masih kaya, masih lapang dan masih hidup, sudah berkata: Alhamdulillah. Lalu menggunakan semua itu untuk menjadi manusia yang berguna.

Sebab pada akhirnya, setiap kepala akan menemukan bantalnya. Tetapi tidak setiap manusia sempat menemukan kesadarannya.

Maka sebelum bantal itu kita bawa ke rumah sakit, lebih baik kita bawa terlebih dahulu kesadaran ke dalam rumah kita, ke dalam hati kita, dan ke dalam cara kita mengelola negeri.

Sebab jangan-jangan yang selama ini kita kira membutuhkan bantal hanyalah kepala. Padahal yang sesungguhnya membutuhkan sandaran adalah : jiwa.**

Pojok Rumah Sakit Rabain – Muara Enim, 11 September 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here