Beranda Agama Kakeknya Berdosa, Kok Cucunya yang Bayar?

Kakeknya Berdosa, Kok Cucunya yang Bayar?

18
0
BERBAGI
Ilustrasi : Dialog Babang dengan Penulis (AI)
Apakah Kemiskinan Anak adalah Dosa yang Dibayar Leluhur? Membaca Kemiskinan Antargenerasi dari Perspektif Islam, Sosiologi, dan Epigenetika
Oleh : Imron Supriyadi, Jurnalis dan Pengasuh Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Pekan kedua Agustus 2026, di Pojok Dapur Masjid Nurul Yaqin, Banyuasin Sumsel, saya bertemu seorang mahasiswa semester V dari sebuah universitas ternama di Palembang. Panggilan akrabnya : Babang.

“Yah,” katanya, setelah ngobrol ngalor-ngidul, “saya dapat teori dari kawan-kawan kampus. Katanya, kemiskinan seseorang bisa jadi karena dosa leluhurnya. Jadi kalau kakeknya dulu jahat, cucunya sekarang susah rezeki. Benar begitu?”

Saya tersenyum.

“Babang, kalau begitu, bagaimana dengan anak yang lahir dari keluarga miskin? Dia belum sempat berbuat apa-apa, kok sudah harus membayar dosa orang lain?”

Babang diam.

“Justru itu yang membuat saya bingung, Yah.”

“Nah. Kebingungan itu bagus. Artinya otakmu belum pensiun.”

Kami tertawa.

Tetapi pertanyaan Babang sebenarnya tidak sederhana. Di dalamnya ada persoalan agama, filsafat, sosiologi, psikologi, bahkan biologi.

Lebih dari itu, ada persoalan moral: bolehkah kita menjelaskan penderitaan seseorang dengan menunjuk dosa orang lain yang bahkan sudah meninggal?

Mari kita urai pelan-pelan.

Al-Qur’an mempunyai prinsip yang sangat terang: “Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164).

Prinsip yang sama ditegaskan dalam beberapa ayat lain, antara lain QS. Al-Isra’: 15, QS. Fatir: 18, QS. Az-Zumar: 7, dan QS. An-Najm: 38–39.

“Jadi, dosa itu tidak diwariskan, Yah?”

“Dalam pertanggungjawaban moral kepada Allah, tidak. Anak tidak otomatis menjadi berdosa karena ayahnya berdosa. Cucu tidak memikul dosa kakeknya.”

“Lalu kenapa ada keluarga yang miskin turun-temurun?”

“Nah, itu pertanyaan kedua. Jangan kita campur pertanyaan pertama dengan pertanyaan kedua.”

Sebab dosa tidak diwariskan, tetapi akibat perbuatan bisa diwariskan secara sosial.

Ayah yang suka berjudi tidak membuat anaknya menjadi pendosa karena judi. Tetapi kalau uang sekolah habis di meja judi, anaknya bisa putus sekolah.

Ayah yang korup tidak membuat anaknya menjadi koruptor. Tetapi ketika aset keluarga hilang atau tersangkut perkara hukum, anak dapat ikut merasakan akibatnya.

Jadi, yang berpindah bukan dosa sebagai dosa. Yang berpindah adalah akibat kehidupan. 

Ilmu sosial sudah lama membicarakan persoalan semacam ini. Ada istilah intergenerational transmission of poverty (transmisi kemiskinan antargenerasi).

Orang tua yang miskin lebih mungkin memiliki anak yang tumbuh dalam keterbatasan, bukan karena ada “dosa kemiskinan” yang masuk ke tubuh anak, tetapi karena pendidikan, aset, pekerjaan, kesehatan, pola pengasuhan, dan lingkungan sosial ikut membentuk kesempatan hidup generasi berikutnya.

Coba bayangkan begini.

Kakek tidak punya pendidikan. Ia bekerja dengan upah kecil. Tidak punya tanah. Tidak punya tabungan. Anak-anaknya pun tumbuh dengan fasilitas pendidikan terbatas. Sebagian putus sekolah. Ketika dewasa, mereka bekerja dengan upah rendah. Anak-anak mereka kembali lahir dalam lingkungan yang sama.

Lalu kita melihat cucunya dan berkata:

“Memang keturunan itu susah.”

Benarkah sesederhana itu?

Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, mengajak kita melihat lebih dalam. Keluarga tidak hanya mewariskan uang. Mereka juga mewariskan modal budaya dan modal sosial: pendidikan, kebiasaan, pengetahuan, cara berbicara, jaringan pergaulan, kepercayaan diri, bahkan kemampuan berhadapan dengan lembaga pendidikan dan institusi sosial.

Artinya, setiap anak sebenarnya lahir dengan “bekal awal” yang tidak sama.

Anak keluarga berada mungkin sejak kecil punya buku, internet, kursus, guru privat, lingkungan pendidikan, dan orang tua yang tahu bagaimana mengurus sekolah atau membuka jaringan pekerjaan.

Anak keluarga miskin mungkin sejak kecil sudah membantu orang tua bekerja.

Kemudian ketika dewasa kita membandingkan keduanya:

“Yang satu sukses karena rajin. Yang satu gagal karena malas.”

Lho, tunggu dulu.

Bukankah garis start mereka memang tidak sama?

Sosiolog William Julius Wilson juga menunjukkan bahwa kemiskinan tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan orang miskin malas. Ada struktur pekerjaan, pendidikan, lingkungan, jaringan sosial, perubahan ekonomi, dan kebijakan publik yang ikut menentukan.

Annette Lareau melalui Unequal Childhoods juga menunjukkan bagaimana kelas sosial membentuk pengalaman masa kanak-kanak dan kesempatan hidup seseorang.

Babang kembali menyela.

“Kalau begitu, Yah, apakah semua kemiskinan disebabkan lingkungan?”

“Tidak juga. Jangan pindah dari satu penyederhanaan ke penyederhanaan lain.”

Manusia tetap punya ikhtiar. Ada pilihan pribadi. Ada kerja keras. Ada keberuntungan. Ada struktur sosial. Ada kebijakan negara. Ada pendidikan. Ada kesehatan. Banyak faktor bekerja sekaligus.

Karena itu ilmu pengetahuan tidak boleh berubah menjadi mantra baru.

Lalu bagaimana dengan epigenetika? Ini bagian yang sering disalahpahami.

Epigenetika mempelajari perubahan dalam regulasi ekspresi gen tanpa mengubah urutan DNA.

Penelitian mengenai stres berat, trauma, kekurangan gizi, dan kondisi ekstrem menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme biologis yang berhubungan dengan generasi berikutnya. Tetapi penelitian pada manusia masih berkembang dan mekanismenya tidak sesederhana “pengalaman masuk ke gen lalu diwariskan.”

Jadi jangan sampai kita berkata:

“Kakeknya berdosa, dosanya masuk ke DNA, lalu cucunya miskin.”

Itu bukan kesimpulan ilmu pengetahuan.

Begitu pula konsep intergenerational trauma. Trauma satu generasi memang dapat berpengaruh kepada generasi berikutnya melalui pola pengasuhan, lingkungan, perilaku, kondisi sosial, respons stres, dan kemungkinan mekanisme biologis. Tetapi mengatakan bahwa seluruh trauma pasti diwariskan melalui DNA adalah penyederhanaan.

“Berarti,” kata Babang, “kalau ada orang miskin, kita tidak boleh mengatakan dia sedang dihukum karena dosa leluhurnya?”

“Jangan buru-buru.”

“Maksudnya?”

“Karena kita tidak tahu perkara gaib. Kita juga tidak tahu seluruh sejarah dosa keluarganya. Dan yang paling penting, Al-Qur’an sendiri tidak memberi kita izin untuk memikul posisi sebagai hakim atas orang lain.”

Nabi Ayyub memberikan pelajaran yang dalam. Beliau mengalami penderitaan luar biasa, tetapi kisahnya tidak dapat dijadikan rumus bahwa setiap penderitaan adalah hukuman dosa.

Tidak semua orang yang susah sedang dihukum.

Kemiskinan bisa menjadi ujian. Kekayaan juga bisa menjadi ujian. Jabatan bisa menjadi ujian. Kehilangan bisa menjadi ujian. Bahkan kemampuan untuk menolong orang lain juga merupakan ujian.

Maka ketika melihat orang miskin, pertanyaan kita jangan:

“Dosa leluhurnya apa?”

Pertanyaan yang lebih manusiawi adalah:

  • “Kenapa dia miskin?”
  • Apakah tanahnya hilang?
  • Apakah sekolahnya buruk?
  • Apakah ia terlilit utang?
  • Apakah akses pekerjaannya terbatas?
  • Apakah keluarganya mengalami trauma?
  • Apakah lingkungan sosialnya tidak memberi kesempatan?
  • Apakah ia tidak memiliki modal?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kepada ikhtiar. Sedangkan tuduhan tentang dosa leluhur sering membawa kita kepada prasangka. Dan prasangka semacam itu bisa menjadi kejam.

Bayangkan seorang anak mendengar: “Kamu miskin karena keluargamu dulu banyak dosa.”

Anak itu tidak melakukan apa-apa. Tetapi tiba-tiba ia dipaksa merasa bersalah atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.

Bukankah itu tidak adil? Islam datang dengan prinsip yang sangat sederhana: setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri.

Karena itu saya kira kita perlu membedakan dua kalimat.

Pertama: “Anak miskin karena membayar dosa leluhurnya.”

Kedua: “Anak dapat mengalami kesulitan karena konsekuensi sosial, ekonomi, psikologis, dan lingkungan yang terbentuk pada generasi sebelumnya.”

Kalimat pertama melahirkan fatalisme.

Kalimat kedua membuka pintu penelitian, pendidikan, kebijakan sosial, ikhtiar, dan perubahan.

“Jadi apa kesimpulan Ayah?”

Saya menjawab:

“Babang, jangan cari dosa leluhur ketika kamu melihat kemiskinan. Cari sebabnya. Dan kalau sudah menemukan sebabnya, tanyakan apa yang bisa kita lakukan.”

Sebab agama tidak seharusnya membuat orang miskin semakin malu terhadap kemiskinannya.

Agama seharusnya membuat orang yang berkecukupan bertanya:

Apa yang bisa saya lakukan agar anak orang miskin hari ini tidak menjadi orang miskin berikutnya?

Kalau kemiskinan bisa diwariskan melalui keadaan, maka kebaikan juga bisa diwariskan melalui pendidikan.

Kakek mungkin tidak punya harta. Tetapi anaknya bisa memperoleh ilmu.

Anaknya mungkin tidak punya banyak uang. Tetapi ia bisa memberikan pendidikan kepada cucunya.

Cucunya mungkin membangun usaha. Generasi sesudahnya mendirikan sekolah.

Begitulah sejarah manusia semestinya bergerak.

Dosa tidak diwariskan. Tetapi dampak perbuatan bisa menjalar. Dan kebaikan pun bisa menjalar.

Maka jangan kita wariskan kepada anak-anak kita dunia yang penuh luka lalu menyebutnya takdir.

Tugas kita bukan mencari siapa leluhur yang berdosa. Tugas kita adalah memastikan bahwa rantai keburukan berhenti pada generasi kita, sementara rantai ilmu, kasih sayang, amal, dan kemanusiaan terus berjalan menuju generasi berikutnya.

Barangkali itulah cara paling sehat memahami hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan: Islam mengajarkan keadilan tanggung jawab pribadi. Ilmu pengetahuan mengajarkan kita memahami mekanisme kehidupan. Dan keduanya bertemu pada satu pekerjaan besar: memperbaiki kehidupan manusia.**

Pojok Dapur, Masjid Nurul Yaqin, Talang Keramat, Kab. Banyuasin Jelang Ashar, 8 Agustus 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here