Beranda Agama MUI Muara Enim, Ajak Umat Muslim Ikut Shalat Istisqo : Mohon Hujan...

MUI Muara Enim, Ajak Umat Muslim Ikut Shalat Istisqo : Mohon Hujan dan Perlindungan Terhindar Karhutla

11
0
BERBAGI
Foto Karhutla (Sumber : Kompas.com)
Shalat Istisqo dijadwalkan akan digelar pada Hari Rabu, tanggal 2 September 2026 di Masjid Agung Muara Enim, Pukul 09.00 WIB.
KH DR Solihan, S.Ag, M.Pd,I, Ketua MUI Kabupaten Muara Enim

MUARA ENIM, Inspirasinews.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim mengajak seluruh umat Islam di Kabupaten Muara Enim untuk bersama-sama melaksanakan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar memohon pertolongan Allah SWT di tengah musim kemarau yang mulai berdampak pada ketersediaan air dan kondisi lingkungan di sejumlah wilayah.

Shalat Istisqa akan dilaksanakan pada Hari Rabu, 2 September 2026 di Masjid Agung Muara Enim pada pukul 09.00 WIB.

Kegiatan tersebut digelar atas kerja sama Pengurus Masjid Agung Muara Enim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim dengan mengajak berbagai unsur umat Islam di Muara Enim.

Ketua MUI Kabupaten Muara Enim, Dr. H. Solihan, M.Pd.I., mengatakan Shalat Istisqa merupakan bagian dari ikhtiar spiritual umat Islam ketika menghadapi kondisi kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan.

“Shalat Istisqa adalah bentuk ketundukan dan pengakuan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ketika air berkurang dan hujan belum turun sebagaimana yang kita harapkan, kita kembali memohon kepada Allah SWT,” ujar Solihan.

Menurutnya, fenomena musim kemarau perlu menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Terlebih, dalam beberapa titik di Tanah Air telah terjadi kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta kesulitan memperoleh air yang mulai dirasakan sebagian masyarakat.

Kondisi tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dihadapi dengan pendekatan teknis, tetapi juga perlu disertai ikhtiar batin melalui doa, istighfar, sedekah dan ibadah.

Memohon Pertolongan Allah

Solihan mengingatkan bahwa Al-Qur’an memberikan tuntunan agar manusia senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ketika menghadapi berbagai persoalan.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 186:

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

Ayat tersebut, menurut Solihan, menunjukkan bahwa pintu doa senantiasa terbuka. Manusia tidak boleh merasa mampu menyelesaikan seluruh persoalan hanya dengan kekuatan dirinya sendiri.

“Allah meminta kita untuk berdoa dan Allah menjanjikan akan mengabulkan doa hamba yang berdoa kepada-Nya. Karena itu, ketika menghadapi kondisi seperti sekarang, mari kita kembali kepada Allah,” katanya.

Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan manusia tentang pentingnya memohon ampun kepada Allah sebagai bagian dari jalan turunnya rahmat dan keberkahan.

Dalam QS Nuh ayat 10–11, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.”

Ayat tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam tradisi umat Islam ketika menghadapi kekeringan. Istighfar dan doa bukan sekadar permohonan turunnya hujan, tetapi juga bentuk muhasabah dan pertobatan manusia kepada Allah SWT.

Kemarau Juga Menjadi Ujian

Ketua MUI Muara Enim tersebut menegaskan, musim kemarau hendaknya tidak hanya dipandang sebagai persoalan cuaca, tetapi juga sebagai ujian bagi manusia untuk tetap bersabar, berikhtiar, berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT.

“Ujian itu bukan hanya ketika terjadi musibah besar. Ketika hujan terlambat turun, ketika air mulai sulit diperoleh, ketika tanaman membutuhkan air, itu juga menjadi pengingat bagi kita bahwa kehidupan ini berada dalam kekuasaan Allah,” ujarnya.

Karena itu, menurut Solihan, umat Islam tidak seharusnya baru berdoa setelah kebakaran hutan dan lahan terjadi atau setelah kekeringan semakin parah.

“Jangan menunggu terjadi kebakaran hutan dan lahan, jangan menunggu sumur-sumur mengering, baru kita mengangkat tangan kepada Allah. Selama kita masih diberi kesempatan, mari kita memohon kepada Allah sebelum keadaan menjadi semakin berat,” katanya.

Shalat Istisqa, lanjutnya, menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama untuk mengetuk pintu langit dengan penuh kerendahan hati.

Memohon Hujan, Memohon Keselamatan

Melalui pelaksanaan Shalat Istisqa tersebut, MUI Muara Enim berharap Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Doa juga diarahkan agar berbagai persoalan yang muncul akibat musim kemarau, khususnya kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan di berbagai penjuru Tanah Air, segera mendapatkan penyelesaian.

“Semoga Allah SWT menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan. Semoga kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah segera berhenti, masyarakat yang mengalami kekurangan air segera mendapatkan pertolongan, dan Muara Enim senantiasa dijauhkan dari bencana,” ujar Solihan.

Ia menambahkan, hujan yang diharapkan bukan sekadar hujan yang turun, tetapi hujan yang menjadi rahmat, membawa manfaat bagi manusia, tanaman, hewan dan seluruh ekosistem.

Ajak Seluruh Elemen Umat Hadir

MUI Muara Enim mengajak seluruh elemen umat Islam untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan Shalat Istisqa tersebut.

Ajakan itu ditujukan kepada ormas-ormas Islam, pondok pesantren, masjid dan musala, majelis taklim, para ulama, ustaz dan ustazah, tokoh agama, tokoh masyarakat serta seluruh jamaah Muslim di Kabupaten Muara Enim.

“Ini bukan kegiatan satu organisasi saja. Ini adalah ikhtiar bersama umat Islam. Karena itu, kami mengajak seluruh umat Islam di Muara Enim untuk hadir dan bersama-sama memohon kepada Allah SWT,” tutur Solihan.

Ia berharap pelaksanaan Shalat Istisqa dapat menjadi momentum memperkuat persaudaraan umat sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa manusia sangat bergantung kepada rahmat Allah.

“Mari kita datang dengan hati yang rendah, memperbanyak istighfar, memperbanyak doa dan memohon kepada Allah. Kita ikhtiar secara lahir dan batin. Semoga Allah segera menurunkan hujan dan memberikan keselamatan serta keberkahan bagi negeri kita.”

Shalat Istisqa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi perubahan musim, kekeringan maupun bencana lingkungan, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam, melakukan ikhtiar nyata, sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Dengan demikian, kemarau tidak hanya menjadi masa menunggu datangnya hujan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali kepada Allah, memperbanyak istighfar, memperbaiki perilaku dan memperkuat kepedulian terhadap lingkungan serta sesama.

Shalat Istisqa di Masjid Agung Muara Enim, pukul 09.00 WIB. Mari hadir, berdoa dan mengetuk pintu langit bersama-sama.**

Teks : Imron Supriyadi  |  Foto : Google Image

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here