MUI Muara Enim, Keluarkan Tausiah Hadapi Kemarau, Karhutla, Kabut Asap dan Shalat Istisqa
MUARA ENIM, Inspirasinews.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim mengeluarkan Himbauan dan Tausiah Nomor: 001/MUI.ME/IX/2026 sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Muara Enim dan sekitarnya.
Himbauan tersebut secara khusus menyikapi sejumlah dampak yang berpotensi muncul akibat musim kemarau, antara lain ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pencemaran kabut asap, kekeringan, serta persoalan ketersediaan air bagi masyarakat.
Melalui tausiah tersebut, MUI Kabupaten Muara Enim mengajak pemerintah, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen umat Islam untuk bersama-sama melakukan ikhtiar lahir dan batin dalam menghadapi kondisi tersebut.
Ketua MUI Kabupaten Muara Enim, KH DR Solihan, S.Ag, M.Pd.I, mengingatkan umat Islam agar menjadikan kemarau panjang sebagai momentum untuk meningkatkan takwa, taubat dan istighfar, sekaligus mempererat silaturahmi, memperbanyak sedekah dan menjauhi segala bentuk maksiat.
“Bencana kekeringan dan kemarau panjang merupakan salah satu teguran dari Allah SWT. Umat Islam diimbau untuk memperbanyak istighfar, bertaubat atas dosa-dosa, mempererat silaturahmi, bersedekah, serta menjauhi segala bentuk maksiat,” demikian salah satu poin tausiah MUI Kabupaten Muara Enim.
MUI Tegaskan Larangan Membuka Lahan dengan Membakar
Selain aspek spiritual, MUI Kabupaten Muara Enim memberikan perhatian serius terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan.
MUI mengimbau seluruh masyarakat dan pelaku usaha tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. “Praktik tersebut dinilai dapat menimbulkan kemudaratan yang besar, baik bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan,” tegas Kiai Solihan.
Kiai Solihan menyebutkan, kabut asap akibat kebakaran, misalnya, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti ISPA. Di sisi lain, kebakaran juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat.
Dalam tausiah tersebut, MUI menegaskan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar merupakan perbuatan yang haram atau dilarang dalam Islam karena berpotensi menimbulkan kemudaratan yang luas.
Pesan tersebut menjadi penting karena menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis pemerintahan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan umat Islam.
Masjid dan Pesantren Diminta Perbanyak Doa
Kiai Solihan dan jajaran MUI Kabupaten Muara Enim juga mengajak para pengurus masjid, mushala dan pondok pesantren di seluruh wilayah Kabupaten Muara Enim untuk memperbanyak zikir dan doa memohon hujan.
“Ikhtiar tersebut diharapkan dapat dilakukan secara bersama-sama sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT sekaligus membangun kesadaran spiritual masyarakat dalam menghadapi musim kemarau,” tegasnya.
MUI juga mengimbau jajaran pemerintah daerah, mulai tingkat kecamatan hingga desa dan kelurahan, untuk berkoordinasi dengan para ulama dalam mengorganisasi pelaksanaan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan secara berjamaah di lapangan.
Menurut MUI, Shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon pertolongan Allah SWT ketika menghadapi kondisi kekeringan.
Tiga Hari Puasa Sebelum Shalat Istisqa
Dalam tausiah tersebut, MUI Kabupaten Muara Enim juga menyampaikan tuntunan pelaksanaan Shalat Istisqa sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW.
Sebelum melaksanakan Shalat Istisqa, jamaah dianjurkan berpuasa sunah selama tiga hari berturut-turut.
Selain itu, menurut Kiai Solihan, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebajikan, antara lain membayar hak orang lain, memperbaiki hubungan yang retak, mengembalikan hak yang terzalimi dan memperbanyak sedekah.
Pada saat pelaksanaan Shalat Istisqa, jamaah juga disunnahkan mengenakan pakaian sederhana, tidak berlebihan dalam berhias, serta menghadirkan sikap tawaduk, khusyuk dan penuh kerendahan hati.
Pesan tersebut menegaskan bahwa Shalat Istisqa bukan sekadar kegiatan meminta hujan, melainkan juga momentum muhasabah, taubat dan memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.
Tata Cara Shalat Istisqa
MUI Kabupaten Muara Enim menjelaskan bahwa pelaksanaan Shalat Istisqa pada dasarnya menyerupai Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
- Shalat dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah di tanah lapang.
- Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, dilakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali di luar takbiratul ihram. Di sela-sela takbir tersebut jamaah membaca tasbih, tahmid atau takbir.
- Setelah itu imam membaca Surah Al-Fatihah yang dilanjutkan dengan surah lainnya, kemudian rukuk, sujud dan bangkit menuju rakaat kedua.
- Pada rakaat kedua dilakukan takbir tambahan sebanyak lima kali setelah takbir bangkit dari sujud. Selanjutnya imam membaca Al-Fatihah dan Surah Al-Ghasyiyah atau surah lainnya, kemudian dilanjutkan dengan rukuk, sujud, tasyahud akhir dan salam.
Khutbah dan Doa: Mengharap Perubahan dari Kemarau Menuju Hujan
- Setelah pelaksanaan shalat, rangkaian dilanjutkan dengan khutbah.
- Dalam tausiah MUI disebutkan, pada khutbah pertama diawali dengan istighfar sembilan kali, sedangkan khutbah kedua diawali dengan istighfar tujuh kali.
- Menjelang akhir khutbah kedua, khatib dan jamaah dianjurkan menghadap kiblat. Khatib kemudian membalikkan posisi selendang atau sorban, bagian kanan diletakkan di sebelah kiri dan bagian atas dibalik ke bawah.
- Gerakan tersebut menjadi simbol pengharapan dan optimisme akan terjadinya perubahan kondisi, dari kemarau menuju turunnya hujan.
- MUI juga mencantumkan doa Shalat Istisqa sebagai bagian dari rangkaian permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan.
Kemarau Menjadi Momentum Muhasabah
MUI Kabupaten Muara Enim menekankan bahwa menghadapi musim kemarau tidak cukup hanya dengan menunggu datangnya hujan.
Umat Islam diajak melakukan evaluasi terhadap diri sendiri melalui taubat, istighfar, memperbanyak amal kebajikan, memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial.
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan agar tidak melakukan tindakan yang dapat memperparah kondisi lingkungan, terutama pembakaran dalam pembukaan lahan.
Dengan demikian, ikhtiar menghadapi kemarau dilakukan secara menyeluruh: memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki hubungan antarmanusia, menjaga lingkungan dan melaksanakan ikhtiar bersama melalui Shalat Istisqa.
MUI: Mari Bersama Mengetuk Pintu Langit
MUI Kabupaten Muara Enim berharap seluruh elemen masyarakat dapat mengambil bagian dalam menghadapi musim kemarau dan ancaman karhutla.
Para ulama, pengurus masjid dan mushala, pondok pesantren, pemerintah daerah, tokoh masyarakat serta seluruh umat Islam diharapkan dapat memperkuat doa dan ikhtiar bersama.
Pesan utama tausiah MUI adalah agar masyarakat tidak hanya mengandalkan ikhtiar lahiriah, tetapi juga memperkuat taubat, istighfar, doa dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, hujan bukan sekadar fenomena alam yang ditunggu, tetapi juga nikmat Allah SWT yang patut disyukuri dan dimohonkan dengan penuh kerendahan hati.
MUI Kabupaten Muara Enim berharap Allah SWT menerima taubat seluruh masyarakat, memberikan perlindungan kepada Kabupaten Muara Enim dari bencana kebakaran dan kabut asap, serta segera menurunkan hujan yang membawa berkah dan rahmat bagi seluruh makhluk.
BACA OPINI LAINNYA : Antara Shalawat dan Cinta yang Berkhianat
“Semoga Allah SWT menerima taubat kita, memelihara Kabupaten Muara Enim dari bencana kebakaran dan asap, serta segera menurunkan hujan yang membawa berkah dan rahmat bagi seluruh makhluk,” tegasnya.*
Teks : Humas MUI Muara Enim | Editor : Imron Supriyadi












