Beranda Agama PEDOMAN PELAKSANAAN SHALAT ISTISQA

PEDOMAN PELAKSANAAN SHALAT ISTISQA

8
0
BERBAGI
Memohon Turunnya Hujan dan Rahmat Allah SWT

Shalat Istisqa adalah shalat sunnah yang dilaksanakan oleh umat Islam untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan, terutama ketika terjadi musim kemarau panjang, kekeringan, krisis air, serta berbagai kondisi yang membutuhkan turunnya rahmat Allah SWT.

Pelaksanaan Shalat Istisqa bukan hanya sekadar memohon hujan, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak taubat, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta membangun kepedulian sosial terhadap sesama.

A. PERSIAPAN SEBELUM SHALAT ISTISQA

Sebelum pelaksanaan Shalat Istisqa, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin.

1. Memperbanyak Taubat dan Istighfar

  • Umat Islam dianjurkan untuk:
  • Memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada         Allah  SWT.
  • Bertaubat dengan sungguh-sungguh dari segala dosa dan kesalahan.
  • Meninggalkan perbuatan maksiat dan kezaliman.
  • Memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
  • Mengembalikan hak orang lain apabila pernah melakukan kesalahan atau kezaliman.
  • Kekeringan dan berbagai musibah hendaknya menjadi pengingat agar manusia kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebajikan

Sebelum pelaksanaan Shalat Istisqa, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak:

  • Sedekah kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan.
  • Amal kebajikan.
  • Silaturahmi dan perdamaian.
  • Kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kekeringan.

3. Dianjurkan Berpuasa Sunnah

Sebagian ulama menganjurkan umat Islam untuk melakukan puasa sunnah selama tiga hari berturut-turut sebelum pelaksanaan Shalat Istisqa.

Baca Berita Terkait : PP Laa Roiba Ajak Masyarakat Gelar Puasa Sunnah dan Shalat Istisqa

Puasa ini menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk menundukkan hawa nafsu, memperbanyak doa, serta menunjukkan kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

4. Berangkat dengan Sederhana dan Penuh Kerendahan Hati

Pada hari pelaksanaan, umat Islam dianjurkan keluar menuju tempat pelaksanaan shalat dengan penampilan sederhana, tidak berhias secara berlebihan, serta menunjukkan sikap rendah hati dan penuh pengharapan kepada Allah SWT.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat dapat mengajak seluruh lapisan umat, termasuk anak-anak dan orang tua, sebagai wujud kebersamaan dalam memohon rahmat Allah SWT.


B. TATA CARA PELAKSANAAN SHALAT ISTISQA

1. Tanpa Adzan dan Iqamah

Shalat Istisqa dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah.

Sebelum shalat dimulai, dapat diserukan:

اَلصَّلَاةُ جَامِعَةً

Ash-shalātu jāmi‘ah

Artinya:

“Mari kita melaksanakan shalat secara berjamaah.”


2. Niat Shalat Istisqa

Niat Shalat Istisqa dilakukan di dalam hati.

Lafal niat yang dapat dibaca:

أُصَلِّي سُنَّةَ الِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat melaksanakan shalat sunnah Istisqa dua rakaat karena Allah Ta‘ala.”


C. PELAKSANAAN SHALAT ISTISQA

RAKAAT PERTAMA

  1. Imam dan jamaah berdiri menghadap kiblat.
  2. Melaksanakan takbiratul ihram.
  3. Membaca doa iftitah sebagaimana shalat sunnah pada umumnya.
  4. Membaca takbir tambahan sebanyak tujuh kali sebelum membaca Surah Al-Fatihah.
  5. Di antara takbir dianjurkan membaca tasbih, tahmid, dan dzikir.
  6. Membaca Surah Al-Fatihah.
  7. Dilanjutkan dengan membaca surah Al-Qur’an secara jahr, yaitu dengan suara yang dikeraskan.
  8. Melakukan rukuk.
  9. Bangkit untuk iktidal.
  10. Melakukan dua kali sujud.
  11. Duduk di antara dua sujud.
  12. Berdiri untuk melaksanakan rakaat kedua.

RAKAAT KEDUA

  1. Setelah berdiri, membaca takbir tambahan sebanyak lima kali sebelum membaca Surah Al-Fatihah.
  2. Membaca dzikir di antara takbir.
  3. Membaca Surah Al-Fatihah.
  4. Dilanjutkan dengan membaca surah Al-Qur’an secara jahr.
  5. Melaksanakan rukuk.
  6. Iktidal.
  7. Sujud pertama.
  8. Duduk di antara dua sujud.
  9. Sujud kedua.
  10. Duduk tahiyat akhir.
  11. Mengakhiri shalat dengan salam.

D. KHUTBAH SETELAH SHALAT ISTISQA

Setelah Shalat Istisqa selesai, imam atau khatib menyampaikan khutbah.

Khutbah dilaksanakan dua kali, sebagaimana khutbah pada shalat Id, dengan isi utama berupa:

  • Memperbanyak istighfar.
  • Mengajak jamaah untuk bertaubat.
  • Mengingatkan umat agar meninggalkan kemaksiatan dan kezaliman.
  • Mengajak masyarakat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
  • Memperbanyak doa memohon turunnya hujan.
  • Memohon agar Allah SWT memberikan rahmat, kesuburan, keselamatan, dan keberkahan.

KHUTBAH PERTAMA

Khatib dapat memperbanyak bacaan istighfar dan mengajak seluruh jamaah untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

Dianjurkan memperbanyak bacaan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ

Astaghfirullāhal-‘azhīm

Artinya:

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

Dalam beberapa tata cara yang dikenal di masyarakat, khutbah pertama diawali dengan istighfar sebanyak sembilan kali.


KHUTBAH KEDUA

  • Khutbah kedua juga diisi dengan:
  • Istighfar.
  • Taubat.
  • Doa memohon hujan.
  • Permohonan agar Allah SWT mengangkat kekeringan dan        kesulitan.
  • Dalam beberapa tata cara yang dikenal di masyarakat,      khutbah kedua diawali dengan istighfar sebanyak tujuh kali.

E. DOA MEMOHON TURUNNYA HUJAN

Pada akhir khutbah, imam dan jamaah dianjurkan untuk menghadap kiblat dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.

Imam dapat mengangkat kedua tangan sebagai tanda kerendahan hati dan kesungguhan dalam memohon kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allāhumma aghitsnā, Allāhumma aghitsnā, Allāhumma aghitsnā.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Dapat pula berdoa:

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum Muslimin. Turunkanlah kepada kami hujan yang membawa rahmat, keberkahan, kesuburan, dan kehidupan. Janganlah Engkau jadikan hujan itu sebagai bencana dan azab bagi kami.”


F. MEMBALIKKAN SELENDANG ATAU SORBAN

Pada akhir doa, terdapat sunnah yang dilakukan oleh imam atau khatib, yaitu membalikkan selendang atau sorban yang dikenakannya.

Misalnya, bagian kanan dipindahkan ke sebelah kiri dan bagian kiri dipindahkan ke sebelah kanan.

Hal tersebut merupakan simbol pengharapan kepada Allah SWT agar keadaan berubah:

dari kekeringan menjadi kesuburan,
dari kesulitan menjadi kemudahan,
dari kekurangan menjadi kecukupan,
dan dari musibah menuju rahmat Allah SWT.


PENUTUP

Shalat Istisqa mengajarkan kepada umat Islam bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada rahmat Allah SWT. Ketika bumi mengalami kekeringan dan langit tidak menurunkan hujan, umat Islam tidak hanya melakukan ikhtiar secara fisik dan ilmiah, tetapi juga melakukan ikhtiar spiritual.

Shalat Istisqa menjadi momentum untuk kembali kepada Allah SWT melalui taubat, istighfar, sedekah, doa, memperbaiki akhlak, serta meninggalkan segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan.

Karena sesungguhnya, hujan bukan hanya persoalan air yang turun dari langit, tetapi juga rahmat Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

Mari kita bermunajat dengan penuh kerendahan hati:

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan kekeringan ini sebagai azab bagi kami, tetapi jadikanlah ia sebagai pengingat agar kami kembali kepada-Mu. Turunkanlah kepada kami hujan yang membawa rahmat, keberkahan, keselamatan, dan kehidupan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here