Beranda Film KCFI Sumsel: SANFFEST Bukti Pesantren Mulai Menggarap Ruang Kebudayaan

KCFI Sumsel: SANFFEST Bukti Pesantren Mulai Menggarap Ruang Kebudayaan

12
0
BERBAGI
Yosep Suterisno, SE – Ketua KCFI Sumsel

PALEMBANG, Inspirsinews.com — Pesantren memiliki peran yang lebih luas dalam menjawab persoalan bangsa.

Tidak hanya melalui pendidikan dan dakwah, pesantren juga dapat mengambil bagian dalam ruang kebudayaan. Salah satunya melalui film yang diproduksi dan digerakkan langsung oleh para santri.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumatera Selatan, Yosep Suterisno, SE, menanggapi penyelenggaraan Santri Film Festival (SANFFEST) 2026 yang mengusung tema “The Verses in Motion.”

Menurut Yosep, festival film santri merupakan momentum penting karena memperlihatkan bahwa pesantren mulai memasuki ruang kebudayaan dengan bahasa yang dekat dengan generasi muda.

“Saya melihat festival film santri ini bukan sekadar ajang perlombaan membuat film. Ini adalah bentuk kepedulian pesantren untuk ikut menyelesaikan persoalan bangsa dari sisi kebudayaan,” kata Yosep.

Ia menilai selama ini pesantren lebih banyak dikenal masyarakat sebagai lembaga pendidikan dan pusat pengajaran keagamaan. Padahal, menurut dia, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan kebudayaan bangsa.

Film, kata Yosep, dapat menjadi salah satu pintu masuknya.

Melalui film, santri dapat membawa berbagai persoalan yang mereka lihat dan alami ke ruang publik. Persoalan kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, kemiskinan, perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga kehidupan masyarakat dapat direfleksikan dari perspektif nilai-nilai Islam.

Di sinilah, menurut Yosep, tema “The Verses in Motion” menjadi menarik.

“Ayat-ayat yang dipelajari santri di ruang kelas jangan berhenti sebagai hafalan atau pengetahuan. Melalui film, ayat itu bisa direfleksikan menjadi kehidupan nyata,” ujarnya.

Ayat Tidak Hanya di Mikrofon

Yosep mengatakan, salah satu tantangan dakwah dan pendidikan keagamaan saat ini adalah bagaimana membuat nilai-nilai yang diajarkan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, film dapat menjadi medium untuk memperlihatkan bagaimana sebuah nilai keagamaan bekerja dalam realitas, bukan sekadar bagaimana nilai tersebut disampaikan melalui ceramah.

“Jangan sampai ayat hanya didengungkan di mikrofon. Ayat harus lebih membumi. Ketika santri melihat persoalan di sekitarnya, kemudian mencoba menjawabnya dengan nilai yang sudah mereka pelajari, lalu dituangkan ke dalam film, di situlah ayat bergerak menjadi tindakan,” kata dia.

Ia mencontohkan, ayat tentang kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah. Santri dapat membuat cerita tentang bagaimana kepedulian tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula dengan nilai menjaga lingkungan. Santri dapat mengangkat persoalan sampah, pencemaran sungai, krisis air, atau kerusakan alam di sekitar mereka. Nilai keislaman kemudian menjadi perspektif yang membingkai cerita tersebut.

Dengan demikian, film tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi.

Pesantren Berbicara kepada Masyarakat

SANFFEST 2026 memberikan ruang cukup luas bagi santri untuk mengeksplorasi berbagai tema. Panitia membuka kemungkinan cerita mengenai budaya dan sosial, sains dan teknologi, ekologi dan lingkungan, kemanusiaan, sejarah, kehidupan pesantren, serta pengalaman dan perspektif santri.

Karya yang dikirimkan tetap harus memperhatikan nilai pendidikan, kemanusiaan, dan syariat Islam.

Bagi Yosep, keluasan tema tersebut justru menunjukkan bahwa kehidupan pesantren tidak harus dipisahkan dari persoalan masyarakat.

“Pesantren jangan hanya berbicara tentang pesantren. Pesantren juga harus berbicara tentang bangsa. Film memberi kesempatan kepada santri untuk melihat persoalan di luar pagar pesantren, kemudian memberikan perspektifnya,” katanya.

Menurut dia, langkah tersebut penting karena kebudayaan merupakan salah satu cara membangun kesadaran masyarakat.

Film yang lahir dari pesantren, kata dia, tidak harus selalu berupa film dakwah dalam pengertian konvensional. Cerita tentang manusia, lingkungan, teknologi, sejarah, ataupun kehidupan sosial tetap dapat membawa nilai Islam selama nilai tersebut hadir secara organik dalam cerita.

“Yang menarik adalah ketika penonton tidak merasa sedang diceramahi, tetapi setelah menonton film mereka justru berpikir: ternyata nilai Al-Qur’an bisa seperti ini kalau diterapkan dalam kehidupan,” ujarnya.

Dari Pesantren untuk Semua

SANFFEST 2026 menyediakan tiga kategori peserta, yakni Santri Pelajar untuk santri berusia maksimal 20 tahun, Santri Dewasa bagi santri dan alumni pesantren usia 21–30 tahun, serta Santri Inklusi bagi tim yang melibatkan santri penyandang disabilitas fisik dan/atau sensorik dan/atau berasal dari pesantren di wilayah 3T.

Setiap tim minimal terdiri atas tiga orang.

Film yang dikirimkan berdurasi 7–12 menit, diproduksi langsung oleh santri, dan menggunakan format MP4 dengan resolusi minimal Full HD 1080p.

Peserta juga diminta menyertakan sinopsis, penjelasan kisah Al-Qur’an yang menjadi pijakan cerita, hubungan kisah tersebut dengan kehidupan masa kini, poster film, serta Behind the Scenes.

Bagi Yosep, keterlibatan langsung santri dalam seluruh proses produksi merupakan bagian penting dari festival tersebut.

Santri tidak hanya menjadi penonton film, tetapi menjadi penulis cerita, pembuat gambar, pengarah adegan, sekaligus penyampai gagasan kepada masyarakat.

“Ini yang saya kira penting. Santri bukan hanya objek yang diceritakan oleh orang lain. Santri sendiri yang bercerita. Mereka melihat dunia dengan pengalaman dan perspektifnya, lalu menyampaikannya melalui film,” kata Yosep.

Pada akhirnya, ia berharap film-film yang lahir dari SANFFEST tidak hanya berputar di lingkungan pesantren.

“Filmnya harus keluar dari pesantren dan bertemu dengan masyarakat. Karena kalau ayat ingin membumi, maka nilai itu harus bisa dirasakan semua orang, bukan hanya santri,” ujarnya.

Dengan perspektif tersebut, “The Verses in Motion” tidak berhenti sebagai slogan festival.

Ia menjadi sebuah gagasan tentang bagaimana ayat bergerak dari teks menuju kehidupan, dari ruang kelas menuju ruang publik, dan dari pesantren menuju masyarakat.

Dan film menjadi salah satu kendaraan untuk menggerakkan perjalanan itu.**

Teks : Imron Supriyadi | Ilustrasi : Panpel SANFFEST

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here