Beranda Agama Safari Subuh GEMMA Laa Roiba: Santri Belajar Mengisi Masjid dan Mengingat Sisa...

Safari Subuh GEMMA Laa Roiba: Santri Belajar Mengisi Masjid dan Mengingat Sisa Umur

13
0
BERBAGI
SAFARI SUBUH di Masjid At-Takawa Muara Enim, 25 September 2026 yang diselenggarakan oleh GEMMA (Gerakan Memaurkan Masjid) PP Laa Roiba Muara Enim.

MUARA ENIM, Inspirasinews.com — Langit Muara Enim belum sepenuhnya terang ketika jamaah mulai berdatangan ke Masjid At-Takwa, Ps. II kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumsel, Jumat pagi, 25 September 2026.

Setelah salat Subuh berjamaah, kegiatan berlanjut dengan kuliah Subuh yang disampaikan santri Pondok Pesantren (PP) Laa Roiba Muara Enim.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) PP Laa Roiba melalui program Safari Subuh.

Pada pagi itu, santri Adib Barlana Alawy tampil menyampaikan Kultum dalam rangkaian kegiatan, dengan Redino Aersy sebagai pembawa acara dan Ustaz Aril Pratama sebagai imam salat Subuh, yang di rokaat pertama melakukan sujud tilawah.

Safari Subuh tidak berhenti pada pelaksanaan salat berjamaah. Kegiatan dilanjutkan dengan kuliah Subuh, sambutan pengurus masjid, serta silaturahmi antara santri, pengasuh pesantren, dan jamaah Masjid At-Takwa.

Membuka Pintu untuk GEMMA

Ketua Pengurus Masjid At-Takwa Muara Enim, H. Riswandar, menyambut antusias kedatangan Tim GEMMA PP Laa Roiba. Ia bahkan membuka ruang bagi kegiatan serupa untuk kembali dilaksanakan di Masjid At-Takwa Muara Enim.

Menurut Riswandar, Safari Subuh bukan sekadar kunjungan pesantren ke masjid. Kehadiran para santri sekaligus menjadi pengingat bagi jamaah mengenai pentingnya mengisi perjalanan usia dengan ibadah.

“Safari Subuh ini mengingatkan kita untuk mengisi kebaikan dengan berjamaah. Apalagi usia sudah mulai menua. Sisa umur harus diisi dengan ibadah sebagai bekal untuk kehidupan akhirat,” kata Riswandar.

Ia mengatakan salat Subuh merupakan salah satu bentuk ibadah yang perlu terus dijaga, selain empat waktu salat fardu lainnya.

Riswandar juga menyampaikan terima kasih kepada PP Laa Roiba, khususnya para santri yang hadir di Masjid At-Takwa.

“Terima kasih adik-adik santri. Kalian masih sangat muda, tetapi sudah bisa mengingatkan kami yang sudah mulai tua ini untuk selalu ingat dengan sisa umur dan mengisi hari-hari dengan ibadah. Sekali lagi, terima kasih.”

Menurut Riswandar, kehadiran generasi muda di masjid memiliki arti tersendiri bagi jamaah.

Santri bukan hanya datang untuk melaksanakan salat, tetapi juga membawa pesan keagamaan yang mengingatkan jamaah tentang kewajiban sebagai hamba Allah.

Mengapa Memilih Waktu Subuh?

Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba Muara Enim, sekaligus penggagas GEMMA PP Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., menyampaikan apresiasi atas sambutan pengurus Masjid At-Takwa.

Taufik mengatakan Safari Subuh merupakan bagian dari GEMMA yang tidak hanya bertujuan mengajak masyarakat melaksanakan salat berjamaah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat menjalankan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ustadz Taufik hal ini dapat dimaknai sebagai upaya menjadikan ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan keagamaan, tetapi juga diamalkan dalam perilaku sehari-hari.

Dalam konteks Safari Subuh GEMMA PP Laa Roiba, semangat tersebut tercermin melalui kebiasaan menjaga salat berjamaah, membiasakan bangun dan beraktivitas sejak waktu Subuh, mempererat silaturahmi, memakmurkan masjid, menjaga kebersihan, serta membangun kepedulian terhadap sesama.

“Dengan demikian, sunnah Rasulullah SAW dihadirkan sebagai nilai yang hidup dalam keseharian—bukan sekadar dibicarakan dalam ceramah, tetapi dipraktikkan melalui tindakan nyata,” tegasnya.

Ustadz Taufik mengakui, ada sejumlah pengurus dan jamaah masjid yang dikunjungi sebelumnya sempat mempertanyakan pilihan waktu Subuh.

Mengapa harus Subuh? Mengapa tidak Magrib atau Isya yang secara umum lebih memungkinkan diikuti lebih banyak jamaah?

Menurut Ustadz Taufik, jawabannya terletak pada tantangan yang dihadapi jamaah Subuh.

“Jamaah Subuh itu punya tantangan yang berat. Orang harus bangun, berwudu, kemudian keluar rumah menuju masjid. Bagi yang belum terbiasa, itu tidak mudah. Tetapi justru di situlah tantangannya,” ujarnya.

Ustadz Taufik mengatakan kebiasaan datang ke masjid pada waktu Subuh membutuhkan proses. Jika dilakukan berulang-ulang, kehadiran di masjid dapat menjadi bagian dari rutinitas seseorang.

“Ada, Pak, orang yang tidak terbiasa salat Subuh di masjid. Sekali-kali datang, karena tidak terbiasa masuk masjid pada waktu Subuh, masuk dalam keadaan masih gelap dan tidak tahu letak saklarnya,” kata Ustadz Taufik, yang disambut gelak tawa jamaah.

 

Menurut Ustadz Taufik, contoh tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan beribadah juga membutuhkan latihan.

“Kalau sering berjamaah Subuh dan dilakukan berulang-ulang, lama-lama akan tersimpan dalam alam bawah sadar dan menjadi kebiasaan. Kalau suatu ketika tidak salat Subuh berjamaah, dipastikan ada sesuatu yang terasa kurang,” katanya.

Keutamaan Subuh Berjamaah

Ustadz Taufik kemudian mengaitkan pentingnya salat Subuh dengan sejumlah keterangan dalam hadis.

Salah satunya hadis riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu salat Fajar.

Hadis tersebut juga dikaitkan dengan QS Al-Isra ayat 78 yang menyebut bahwa bacaan Al-Qur’an pada waktu Fajar disaksikan.

Dalam penjelasannya, Ustadz Taufik menekankan bahwa keutamaan Subuh bukan sekadar soal waktu pelaksanaannya. Ada proses yang harus dilalui seseorang: meninggalkan tempat tidur, mengambil wudu, berjalan menuju masjid, kemudian berdiri bersama jamaah.

“Karena itu, ada nilai perjuangan dalam salat Subuh. Bukan hanya sampai di masjid, tetapi bagaimana seseorang membiasakan dirinya untuk memenuhi panggilan Allah pada waktu ketika sebagian orang masih tidur,” ujarnya.

Sujud Tilawah di Rakaat Pertama

Pada Safari Subuh di Masjid At-Takwa, jamaah juga melaksanakan sujud tilawah pada rakaat pertama ketika imam membaca ayat sajdah.

Bagi sebagian jamaah, sujud tilawah mungkin bukan sesuatu yang dilakukan setiap hari. Bahkan, ada yang mungkin baru mengalaminya dalam salat berjamaah.

Praktik tersebut memiliki dasar dalam sunnah. Sejumlah hadis sahih menunjukkan Nabi Muhammad SAW melakukan sujud ketika membaca ayat yang mengandung sajdah.

Dalam salah satu riwayat Bukhari, Ibnu Umar menyebut Nabi SAW membaca surah yang mengandung ayat sajdah, lalu beliau bersujud dan para sahabat ikut bersujud.

Karena itu, Safari Subuh sekaligus menjadi ruang bagi santri untuk mempraktikkan pengetahuan keagamaan yang mereka pelajari di pesantren dalam situasi nyata bersama jamaah.

Pesantren Tempat Belajar, Masjid Tempat Praktik

Ustadz Taufik mengatakan, santri sengaja dibawa ke sejumlah masjid untuk mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat.

Menurut dia, kehidupan santri di pondok merupakan masa pembekalan. Setelah itu, mereka perlu mendapatkan pengalaman langsung sebelum kelak kembali mengabdi dan terjun ke masyarakat.

“Kalau SMK praktik di balai latihan kerja, kalau mahasiswa fakultas kedokteran, Akademi Perawat atau Akademi Kebidanan praktiknya di rumah sakit atau puskesmas. Kalau santri, lokasi praktiknya adalah masjid. Di pondok mereka dibekali teori, dan mereka harus praktik di masjid,” tegas Ustadz Taufik.

Melalui Safari Subuh, santri belajar menjadi imam, muazin, pembawa acara, penyampai materi keagamaan, sekaligus belajar berkomunikasi dengan jamaah.

Pengalaman itu menjadi bagian dari pendidikan sosial santri. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan pengetahuan agama, tetapi juga bagaimana bersikap ketika berada di tengah masyarakat.

Dari Subuh Menuju Isyraq

Sekitar pukul 06.15 WIB, setelah rangkaian kuliah Subuh selesai dan waktu syuruq tiba, sebagian jamaah melaksanakan salat Isyraq, yakni salat sunnah dua rakaat setelah matahari terbit.

Praktik ini berkaitan dengan sebuah riwayat Tirmidzi tentang seseorang yang melaksanakan salat Fajar berjamaah, kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit dan melaksanakan dua rakaat.

Riwayat tersebut menyebut keutamaan yang sangat besar, bahkan diserupakan dengan pahala haji dan umrah secara sempurna.

Dalam konteks Safari Subuh, rangkaian tersebut menjadi kesempatan bagi jamaah untuk memperpanjang waktu ibadah setelah salat Fajar, sembari menunggu matahari terbit.

Santri dan Pelajaran tentang Kebersihan

Sebelum meninggalkan Masjid At-Takwa, para santri tidak langsung beranjak. Mereka membantu mengumpulkan sejumlah gelas bekas minuman dan kotak makanan yang masih tersisa di sekitar tempat jamaah. Sampah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tempat sampah.

Bagi Tim GEMMA, tindakan sederhana itu merupakan bagian dari pendidikan karakter. Masjid bukan hanya tempat untuk mengajarkan ibadah secara verbal, tetapi juga tempat membangun kebiasaan menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Santri belajar bahwa menjadi bagian dari jamaah berarti ikut menjaga ruang bersama. Setelah menggunakan fasilitas masjid, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk merapikannya.

Ungkapan yang populer di tengah masyarakat, “kebersihan sebagian dari iman”, ini sebagai bentuk bahwa ajaran Islam memberikan perhatian kuat terhadap kebersihan, kesucian, dan larangan membuat lingkungan menjadi kotor atau terganggu.

Karena itu, memungut sampah setelah kegiatan keagamaan dapat ditempatkan sebagai praktik akhlak: sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa pendidikan agama tidak hanya berbicara tentang apa yang diucapkan di mimbar, melainkan juga apa yang dilakukan setelah acara selesai.

Bagi para santri, Safari Subuh akhirnya bukan hanya perjalanan menuju masjid untuk menunaikan salat. Ada pelajaran lain yang dibawa pulang: bagaimana menjadi imam, bagaimana berbicara di hadapan jamaah, bagaimana menghormati pengurus masjid, dan bagaimana meninggalkan tempat ibadah dalam keadaan lebih bersih daripada ketika mereka datang.

BACA BERITA TERKAIT : Safari Subuh GEMMA Laa Roiba: Santri Belajar Mengisi Masjid dan Mengingat Sisa Umur

Dari pesantren ke masjid, lalu kembali kepada masyarakat—itulah semangat yang hendak dibangun GEMMA PP Laa Roiba melalui Safari Subuh.**

Teks/Foto : Tim GEMMA PP Laa Roiba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here