Beranda Agama KH Taufik Hidayat : Tekankan Pentingnya Karakter, Komitmen, dan Kecerdasan Spiritual

KH Taufik Hidayat : Tekankan Pentingnya Karakter, Komitmen, dan Kecerdasan Spiritual

27
0
BERBAGI
KH Taufik Hidayat saat memberi materi di SMA Bukti Asam

Pembinaan  Kesiswaan dan Kepemimpinan Siswa (Religi) di SMA Bukit Asam Tanjung Enim

TANJUNG ENIM –  Program Pembinaan  Kesiswaan dan Kepemimpinan Siswa (Religi) di SMA Bukit Asam Tanjung Enim yang berlangsung pada 20 dan 22 Oktober 2026 menghadirkan KH Taufik Hidayat, pendiri sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba, sebagai pembicara utama.

Kegiatan yang berlansung di Gedung Serba Guna (GSG) SMA Bukit Asam Tanjung Enim ini, bertema “Menuntun Langkah dengan Iman, Menembus Batas dengan Kepemimpinan” dihadiri Kepala SMA Bukti Asam, Tenny Dahyani, S.Pd.M.Pd, didampingi sejumlah guru lainnya.

Pada kesempatan itu, KH Taufik Hidayat menekankan pentingnya pembentukan karakter, penguatan komitmen, serta keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam menyiapkan generasi muda yang berintegritas dan bertanggung jawab.

KH Taufik Hidayat saat memberi materi di SMA Bukti Asam

Dalam pemaparannya, KH Taufik Hidayat mengajak para siswa memahami bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga oleh sikap, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain.

Melalui ilustrasi sederhana tentang mengolah bahan makanan yang sama menjadi hasil berbeda, ia menjelaskan bahwa keberhasilan membutuhkan takaran, komposisi, dan proses yang tepat. Demikian pula dalam membangun kualitas sumber daya manusia, diperlukan perpaduan antara keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude).

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan. Sikap dan karakter justru menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang dapat dipercaya dan mampu menjalankan amanah.

“Pemimpin bukanlah orang yang harus bisa melakukan segala sesuatu, melainkan orang yang memiliki kepribadian, tanggung jawab, kedisiplinan, dan mampu membangun kerja sama,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam pembinaan tersebut.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah. Permasalahan kedisiplinan, sikap tidak hormat kepada guru, dan rendahnya tanggung jawab menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari perilaku dan kepribadian peserta didik.

Tiga Kecerdasan sebagai Fondasi Kepemimpinan

Dalam sesi berikutnya, KH Taufik Hidayat memaparkan tiga kecerdasan yang perlu dikembangkan secara seimbang, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan intelektual berkaitan dengan kemampuan berpikir, merencanakan, dan mengambil keputusan secara rasional. Kecerdasan emosional membantu seseorang mengenali serta mengelola perasaan, membangun hubungan yang sehat, dan memahami orang lain. Sementara itu, kecerdasan spiritual menjadi landasan dalam menemukan makna hidup, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan di hadapan Allah SWT.

Ketiga kecerdasan tersebut, jelasnya, akan membentuk komitmen yang menjadi pegangan seseorang dalam menjalani kehidupan dan kepemimpinan.

Ia mengingatkan bahwa komitmen intelektual yang tidak disertai integritas dapat mendorong seseorang menghalalkan berbagai cara demi memperoleh hasil atau keuntungan.

Sementara itu, komitmen emosional yang tidak dikelola dengan baik dapat melahirkan sikap pilih kasih, fanatisme kelompok, dan kecenderungan mengutamakan orang-orang terdekat dibandingkan kepentingan bersama.

Adapun komitmen spiritual menjadi pengendali moral yang menuntun seseorang untuk tetap jujur dan bertanggung jawab, termasuk ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Untuk memperjelas pesan tersebut, ia mengisahkan keteladanan Khalifah Umar bin Khattab yang mengingatkan tentang kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa melihat setiap perbuatan manusia. Nilai inilah yang menjadi dasar bagi lahirnya kejujuran, amanah, dan tanggung jawab dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan kepemimpinan.

Menurutnya, pembangunan daerah dan kemajuan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, jabatan, atau kemampuan teknis. Semua itu harus ditopang oleh integritas, kepedulian, dan komitmen moral yang kuat.

Kisah tentang Ibu Menggugah Kesadaran Siswa

Suasana pembinaan semakin menyentuh ketika peserta mengikuti sesi pemutaran film dan refleksi bertema hubungan antara ibu dan anak melalui kisah berjudul “Rincian yang Tak Pernah Bisa Dibayar.”

Kisah tersebut menceritakan seorang anak yang telah sukses, tetapi memperhitungkan biaya perawatan ibunya yang sakit secara terperinci. Setelah sang ibu meninggal dunia, anak itu baru menyadari bahwa ibunya telah memberikan seluruh kasih sayang, pengorbanan, waktu, dan perhatian sepanjang hidupnya tanpa pernah meminta balasan.

Melalui kisah tersebut, KH Taufik Hidayat mengajak para siswa merenungkan besarnya pengorbanan orang tua serta pentingnya menghormati, menyayangi, dan berbakti kepada mereka selagi masih memiliki kesempatan.

Pesan yang disampaikan bukan sekadar tentang kewajiban membantu orang tua secara materi, melainkan juga tentang kehadiran, perhatian, kesediaan mendengarkan, dan penghargaan atas pengorbanan yang selama ini diberikan.

Kisah tersebut menghadirkan suasana reflektif di kalangan peserta. Mereka diajak melihat kembali sikap dan perilaku terhadap orang tua, termasuk sejauh mana rasa hormat, kepedulian, dan ketaatan telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun Pemimpin yang Berkarakter dan Berintegritas

Pembinaan kepemimpinan kesiswaan ini menjadi pengingat bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan kokoh secara spiritual.

Melalui materi, ilustrasi, interaksi, dan refleksi, para siswa diajak memahami bahwa kepemimpinan sejati berawal dari kemampuan memimpin diri sendiri, menghormati orang tua dan guru, menjaga kedisiplinan, serta menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesadaran.

Pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah bahwa jabatan dan prestasi tidak akan memiliki makna yang utuh tanpa karakter dan integritas. Kecerdasan perlu diarahkan oleh nilai-nilai kebaikan, sedangkan kemampuan harus disertai sikap rendah hati dan tanggung jawab.

Dengan demikian, pembinaan kepemimpinan di SMA Bukit Asam Tanjung Enim diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menumbuhkan calon pemimpin masa depan yang berpengetahuan, berkepribadian kuat, mampu bekerja sama, menghargai orang tua dan guru, serta senantiasa menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan bertindak.**

TEKS/FOTO : IMRON SUPRIYADI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here