Beranda Agama Kiai Abdul Majid : Jangan Lupa Bernapas

Kiai Abdul Majid : Jangan Lupa Bernapas

50
0
BERBAGI
Oleh: Kiai Abdul Madjid, Pendiri dan Pegiat Pengajian Tombo Ati Tanjung Enim

Ada satu hal yang kita lakukan setiap detik, bahkan tanpa kita sadari: bernapas. Tarik, hembus. Tarik, hembus. Begitu terus. Begitu sederhana. Tapi justru karena terlalu sederhana, kita menganggapnya sepele. Tidak istimewa. Tidak perlu direnungkan.

Padahal, dari semua aktivitas manusia yang paling penting untuk hidup, napas adalah yang paling dasar. Manusia bisa hidup tanpa makan selama berhari-hari, tanpa minum pun bisa bertahan dua tiga hari, tapi tanpa napas, bahkan satu-dua menit pun nyawa sudah genting. Tapi ironisnya, kita sering lupa bernapas — bukan dalam arti fisiologis (biologis), tapi dalam makna kesadaran ruhani.

Napas yang Tak Pernah Kita Sadari

Semua makhluk bernapas. Tapi tidak semua bernapas dengan kesadaran. Kita menarik dan menghembuskan napas secara otomatis, spontan, tak pernah kita hitung atau kita syukuri. Karena ia terus hadir, kita lupa bahwa ia bisa pergi. Kita menganggap napas itu gratis. Dan memang, Allah tidak pernah menagih harga untuk udara yang kita hirup.

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita bernapas dalam sehari? Rata-rata manusia bernapas sekitar 20 ribu kali dalam 24 jam. Begitu banyak! Bahkan jantung kita berdetak sekitar 100 ribu kali dalam sehari, tanpa jeda, tanpa keluhan, tanpa pamrih. Tapi apa kita pernah mengucap terima kasih kepada-Nya?

Justru, kita baru sadar berharganya napas ketika ia sulit didapat. Ketika dada mulai sesak. Ketika oksigen menipis. Ketika paru-paru enggan bekerja. Ketika harus terburu-buru ke rumah sakit, masuk UGD, lalu ditancapkan selang oksigen ke hidung. Kita panik. Kita merintih. Kita minta tolong. Saat itulah napas jadi sangat mahal.

Harga Napas yang Ternyata Tidak Gratis

Tahukah Anda berapa harga sebuah tabung oksigen?

  • Tabung kecil isi 1 m³ harganya sekitar Rp 600.000 – Rp 800.000.
  • Tabung besar isi 6 m³ bisa mencapai Rp 1.800.000 – Rp 2.500.000, tergantung       kualitas dan tekanan isinya.

Kalau kita hitung kebutuhan napas sejak lahir hingga usia 50 tahun, kita bisa bayangkan betapa besar nilai oksigen yang telah kita nikmati secara cuma-cuma.

Ambillah contoh kasar: satu tabung besar 6 m³ bisa digunakan selama sekitar 6–8 jam untuk satu orang.

Maka dalam sehari, seseorang bisa membutuhkan sekitar 3 tabung besar, yang setara dengan Rp 6 juta per hari. Dalam setahun? Rp 2,1 miliar. Dalam 50 tahun? Rp 105 miliar. Itu pun hanya untuk napas. Belum makan, belum listrik, belum pulsa.

Tapi apakah Allah pernah mengirimkan tagihan? Tidak.

Allah Maha Pemurah, bahkan kepada manusia yang sering lupa dan kufur nikmat.

Kenikmatan yang Terlupakan

Napas adalah anugerah besar. Napas bukan sekadar udara. Napas adalah simbol kehidupan. Selama ada napas, berarti Allah masih memberi kesempatan.Selama ada napas, taubat masih terbuka. Selama ada napas, amal masih bisa dilakukan.

Napas menghidupkan seluruh tubuh. Tanpa napas, seluruh sistem kehidupan berhenti. Tapi sering kali kita tak pernah menganggap napas sebagai nikmat. Bahkan nyaris tak pernah kita disyukuri.

Karena itu, dalam pembahasan tentang hifzh al-anfās (menjaga napas) para sufi mengatakan, “Setiap napas yang berlalu tanpa mengingat Allah adalah kerugian.”

Di sinilah letak pentingnya kesadaran dalam bernapas. Agar kita tidak sekadar bernapas secara biologis, tapi juga bernapas secara spiritual. Agar setiap tarikan napas menjadi pengingat bahwa kita masih hidup, masih diberi kesempatan, dan masih bisa memperbaiki diri.

Maka isilah napas itu dengan dzikir.

Dzikir bukan hanya ucapan lisan. Tapi juga kesadaran batin. Dengan berdzikir dalam napas, kita sedang menjadikan tiap hela nafas sebagai bentuk penghambaan. Tarik napas: “Allāh…” Hembuskan: “…Hu.” Atau “Lā ilāha…” tarik, “…illa Allāh” hembus.

Mengapa Napas Harus Diisi Dzikir?

Karena napas adalah denyut hidup yang diatur oleh Allah sendiri. Kita tidak bisa mempercepat atau memperlambatnya seenak hati. Ia bergerak dalam kendali-Nya. Maka saat kita menyadari itu, kita sedang kembali kepada posisi kita sebagai hamba.

Seorang hamba yang tahu bahwa ia hanya bisa bangkit, bekerja, bergerak, dan mencintai karena diberi napas oleh Tuhannya.

Bayangkan jika napas kosong dari dzikir. Ia akan jadi ruang kosong. Dan ruang kosong dalam jiwa selalu mengundang syetan masuk. Kosong itulah yang membuat manusia gelisah, marah, tamak, dan kehilangan kendali.

Napas kosong itu menjadi jalan bagi nafsu untuk berkuasa, hingga manusia bisa melakukan apa saja: menipu, menindas, mencuri, bahkan membunuh — tanpa merasa bersalah. Mereka adalah orang-orang yang bernapas tapi kosong.

Napas Ruhani: Kosong yang Berisi

Dalam dunia tasawuf, ada istilah menarik: “kosong yang berisi.” Kosong dari ego, tapi berisi dengan cahaya ilahi. Kosong dari keluh kesah dunia, tapi berisi dengan ketenangan karena merasa cukup. Kosong dari nafsu, tapi berisi dengan kerinduan pada Sang Pemilik Nafas. Itulah napas ruhani.

Itulah napas yang menyelamatkan jiwa kita dari kerusakan dunia. Itulah yang dimaksud Nabi dalam sabdanya, “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Umur itu bukan sekadar hitungan tahun, tapi hitungan napas yang diisi dengan amal dan dzikir.

Jangan Lupa Bernapas!

Di tengah kesibukan dunia ini — kerja, dagang, rapat, sosial media, hura-hura — kita sering lupa satu hal: kita masih bernapas. Kita masih hidup. Kita masih bisa kembali. Tapi napas itu bisa habis kapan saja. Kita bisa tersungkur di tengah tawa, atau terkapar di tengah pesta.

Maka sebelum itu terjadi, jangan lupa bernapas — bukan hanya dengan paru-paru, tapi dengan hati. Jangan biarkan napas kita kosong. Isilah ia dengan dzikir, dengan syukur, dengan harapan kepada-Nya. Jangan menunggu tabung oksigen di rumah sakit baru sadar bahwa udara itu mahal.

Kalau napas kita sudah kosong sejak sekarang, maka kita sedang menyiapkan jalan menuju kehampaan hakiki. Tapi kalau kita isi napas dengan dzikir, insya Allah, kita sedang menyambung diri kepada-Nya.

Dan ketika ajal datang, kita bisa mengembuskan napas terakhir dengan tenang. Karena kita tahu, napas kita selama ini bukan milik kita, tapi titipan dari Allah yang sudah kita syukuri dengan kesadaran.

Semoga kita semua menjadi hamba yang tidak lupa bernapas. Bernapas dengan makna. Bernapas dengan cinta. Bernapas dengan dzikir.**

 Tanjung Enim, Juli 2025, dalam tarikan napas subuh yang penuh harap.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here