Beranda Opini Masjid yang Hadir untuk Umat : Mengembalikan Masjid sebagai Rumah Peradaban

Masjid yang Hadir untuk Umat : Mengembalikan Masjid sebagai Rumah Peradaban

7
0
BERBAGI
Foto : Sebuah Masjid terlihat bagian dalam (Sumber : Google Image)
Oleh : Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I

Ada satu pertanyaan sederhana yang sesekali perlu kita ajukan   kepada diri sendiri: untuk apa masjid dibangun? Jawabannya   tentu bukan sekadar tempat salat. Masjid adalah tempat manusia   menghadap Allah, menenangkan hati, memperbaiki diri, dan   menemukan kembali arah hidup. Tetapi pada saat yang sama,   masjid juga hadir di tengah kehidupan manusia dengan segala   persoalannya.

 Di sekitar masjid ada orang tua yang kesepian, anak-anak yang   membutuhkan pendampingan, remaja yang sedang mencari identitas,   keluarga yang menghadapi persoalan ekonomi, pedagang kecil yang   membutuhkan penguatan, dan masyarakat yang sesungguhnya   membutuhkan ruang untuk bertemu serta saling menguatkan.

  Karena itu, barangkali sudah waktunya kita bertanya kembali: apakah masjid kita sudah cukup hadir di tengah persoalan umat?

Al-Qur’an menggunakan istilah ‘imarah al-masajid—memakmurkan masjid. Dalam QS At-Taubah ayat 18, Allah menyebut bahwa yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”

Ayat ini menarik karena memakmurkan masjid tidak berhenti pada bangunan yang bersih, indah, dan megah. Di dalamnya terdapat salat dan zakat. Ada dimensi hubungan manusia dengan Allah sekaligus hubungan manusia dengan sesamanya. Masjid yang hidup adalah masjid yang membuat kehidupan di sekitarnya ikut hidup.

Masjid Nabi: Lebih dari Tempat Salat

Jika kita menengok sejarah Rasulullah SAW, masjid memiliki peran yang jauh lebih luas. Masjid Nabawi bukan hanya tempat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat melaksanakan salat.

Ia menjadi ruang pembelajaran, tempat membangun persaudaraan, tempat menerima tamu, tempat berdiskusi, dan salah satu pusat kehidupan masyarakat Muslim.

Tentu kita tidak harus menyalin seluruh bentuk pengelolaan masjid pada masa Nabi ke dalam konteks hari ini. Zaman telah berubah. Persoalan masyarakat juga semakin kompleks.

Namun ada satu nilai yang tetap relevan: masjid tidak boleh tercerabut dari kehidupan masyarakat. Masjid harus tetap menjadi tempat yang membuat manusia merasa dekat kepada Allah sekaligus merasa dekat dengan sesama manusia.

Rasulullah SAW bersabda bahwa salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah orang yang hatinya terpaut kepada masjid.

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut kepada masjid-masjid…”

Hadis ini sering kita pahami dalam konteks kecintaan kepada masjid. Namun ada pertanyaan lanjutan yang juga penting: mengapa hati seseorang bisa terpaut kepada masjid?

Mungkin karena di sana ia menemukan ketenangan. Mungkin karena di sana ia menemukan guru. Mungkin karena di sana anaknya mendapatkan pendidikan. Mungkin karena ketika sedang mengalami kesulitan, ada orang yang bersedia mendengarkan. Atau mungkin karena masjid membuatnya merasa bahwa ia tidak sendirian menghadapi kehidupan. Di sinilah masjid memperoleh makna sosialnya.

Kesalehan yang Tidak Berhenti di Dalam Masjid

Islam tidak mengajarkan kesalehan yang hanya tampak dalam ritual, tetapi tidak terasa dalam kehidupan sosial.

 Surah Al-Ma’un memberikan pelajaran yang sangat kuat.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin…

Jelas di ayat diatas, Al-Qur’an mempertanyakan orang yang mendustakan agama, lalu menggambarkannya melalui sikap terhadap anak yatim dan orang miskin.  Pesannya sederhana: keberagamaan harus mempunyai akibat sosial.

Karena itu, keberhasilan sebuah masjid tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak jamaah salat Jumat, berapa kali kajian diselenggarakan, atau seberapa megah bangunannya.

Kita juga perlu bertanya:

Ø Berapa anak yang terbantu pendidikannya? Berapa
Ø keluarga yang mendapatkan pendampingan?
Ø Berapa pelaku usaha kecil yang tumbuh?
Ø Berapa anak muda yang menemukan ruang untuk berkembang?
Ø Berapa orang yang datang dalam keadaan memiliki masalah, lalu pulang dengan harapan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi makna ibadah. Justru sebaliknya. Ia membantu kita melihat bahwa ibadah memiliki jejak dalam kehidupan.

Masjid sebagai Rumah Bersama

Masjid juga perlu menjadi rumah bersama. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kita membutuhkan ruang yang mampu mempertemukan manusia, bukan memperlebar jarak.

Al-Qur’an (Al-Hujurat: 13) mengingatkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar li ta’arafu—saling mengenal.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…

Lalu disebutkan, Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku atau kelompoknya, tetapi oleh ketakwaannya.

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Semangat ta’aruf ini penting bagi kehidupan masjid. Masjid tidak boleh menjadi ruang yang membuat seseorang takut datang hanya karena merasa berbeda.

Perbedaan pilihan fikih, latar belakang pendidikan, profesi, usia, bahkan cara memahami persoalan sosial tidak seharusnya menghilangkan semangat persaudaraan.

Kita tentu boleh berbeda pendapat. Tetapi masjid mengajarkan kita satu hal yang lebih penting: bagaimana tetap menjadi saudara ketika berbeda.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW menghubungkan iman kepada Allah dan hari akhir dengan kemampuan berkata baik, berbuat baik kepada tetangga, dan memuliakan tamu.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam; hendaklah ia memuliakan tetangganya; dan hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa kualitas keberagamaan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di hadapan mihrab, tetapi juga ketika ia berhadapan dengan manusia.

Dari Pengajian Menuju Pemberdayaan

Majelis taklim merupakan salah satu kekuatan penting dalam kehidupan masjid. Namun majelis taklim juga menghadapi tantangan zaman.

Jamaah hari ini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Pengetahuan agama tidak lagi hanya diperoleh dari ustaz di masjid. Ia bisa datang melalui YouTube, TikTok, WhatsApp, podcast, dan berbagai platform digital.

Karena itu, majelis taklim tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui. Ia juga perlu membantu jamaah memahami bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk menghadapi kehidupan.

Ø Membicarakan fikih ekonomi, misalnya, dapat dilanjutkan dengan literasi keuangan keluarga.
Ø Membicarakan zakat dapat dilanjutkan dengan pemberdayaan mustahik.
Ø Membicarakan akhlak dapat dihubungkan dengan etika bermedia sosial.
Ø Membicarakan pendidikan Islam dapat dilanjutkan dengan penguatan keluarga.

Inilah semangat pembaruan yang pernah dikembangkan Muhammad Abduh: pendidikan Islam perlu membuka ruang bagi akal, ilmu pengetahuan, dan persoalan nyata masyarakat.

Kajian terhadap pemikirannya menunjukkan penekanannya pada pembaruan pendidikan, integrasi ilmu, dan kemampuan berpikir kritis.

Artinya, agama tidak kehilangan kesakralannya ketika berbicara tentang kehidupan. Justru di situlah nilai agama diuji.

Masjid dan Masa Depan Peradaban

Cendekiawan Muslim Indonesia Nurcholish Madjid pernah menekankan pentingnya agar Islam tampil melalui tawaran kultural yang produktif dan konstruktif serta membawa kebaikan bagi semua. Nilai-nilai universal agama, menurutnya, perlu dihubungkan dengan kondisi nyata ruang dan waktu agar menjadi etika sosial yang efektif.

Gagasan ini penting untuk kita renungkan. Masjid tidak perlu kehilangan identitas keislamannya untuk menjadi ruang yang terbuka. Sebaliknya, dengan nilai Islam yang kuat, masjid dapat menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, kemanusiaan dan pemberdayaan.

Bayangkan jika sebuah masjid memiliki perpustakaan kecil yang hidup.

 Ø Ada ruang belajar anak-anak.

Ø Ada forum remaja.
Ø Ada majelis taklim yang membahas persoalan keluarga.
Ø Ada pelatihan usaha bagi jamaah.
Ø Ada layanan sosial.
Ø Ada ruang konsultasi.
Ø Ada kegiatan lingkungan.
Ø Ada dialog kebudayaan.
Ø Ada literasi digital.

Dan semuanya berangkat dari satu semangat: mencari ridha Allah dengan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.

Bukankah itu salah satu wajah Islam yang kita cita-citakan? Masjid yang Membuat Orang Pulang dengan Harapan

Pada akhirnya, masjid bukan hanya persoalan bangunan. Ia adalah persoalan kehadiran. Masjid yang indah tentu baik. Tetapi akan lebih indah apabila keindahan itu terasa dalam kehidupan masyarakat.

Masjid yang ramai tentu menggembirakan. Tetapi akan lebih bermakna apabila keramaiannya melahirkan kepedulian.

Masjid yang memiliki banyak program tentu patut diapresiasi. Tetapi yang lebih penting adalah apakah program itu menjawab kebutuhan umat.

Kita mungkin tidak membutuhkan masjid yang paling besar. Kita membutuhkan masjid yang paling terasa manfaatnya.

Masjid yang ketika seseorang datang dalam keadaan gelisah, ia menemukan ketenangan.

Ketika datang dengan ketidaktahuan, ia menemukan ilmu. Ketika datang dengan kesulitan, ia menemukan saudara. Ketika datang sebagai anak muda, ia menemukan masa depan.

Dan ketika pulang, ia membawa satu keyakinan sederhana: Islam ternyata bukan hanya mengajarkan bagaimana menjadi baik untuk diri sendiri, tetapi juga bagaimana menghadirkan kebaikan bagi kehidupan bersama. Di situlah masjid kembali menjadi lebih dari sekadar bangunan. Ia menjadi rumah peradaban.**

Palembang, 11 Agustus 2026

———————

Referensi :
1. Al-Qur’an, QS. At-Taubah [9]: 18 — tentang ‘imarah al-masajid atau memakmurkan masjid.
2. Al-Qur’an, QS. Al-Ma’un [107]: 1–7 — hubungan keberagamaan dengan kepedulian sosial.
3. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat [49]: 13 — ta’aruf, keberagaman dan kemuliaan manusia berdasarkan ketakwaan.
4. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis no. 660 — tentang orang yang hatinya terpaut kepada masjid.
5. Muslim, Shahih Muslim, hadis no. 47a — tentang berkata baik, berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu.
6. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din — khususnya pembahasan tentang adab, ibadah, ilmu dan pembentukan akhlak.
7. Muhammad Abduh, gagasan pembaruan pendidikan Islam dan integrasi ilmu agama dengan persoalan kehidupan modern.
8. Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban — mengenai Islam sebagai kekuatan kultural yang produktif, konstruktif dan membawa kebaikan bagi semua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here