Beranda Opini Antara Shalawat dan Cinta yang Berkhianat

Antara Shalawat dan Cinta yang Berkhianat

14
0
BERBAGI
Foto : Google Image
Maulid, Cinta dan Kebenaran yang Sering Kita Ingkari, Mulut kita Bershalawat, tetapi Tangan Masih Mengkhianat
Oleh : Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Setiap tahun kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lampu dinyalakan. Masjid dihias. Spanduk dipasang. Shalawat dilantunkan. Al-Barzanji dibaca. Ceramah disampaikan. Makanan dibagikan. Para pejabat duduk di barisan depan. Tokoh masyarakat mendapat kursi kehormatan. Kamera menyala. Foto diambil.

Lalu kita pulang.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mungkin terlalu berbahaya untuk dijawab dengan jujur:

Apa yang sebenarnya pulang bersama kita setelah Maulid?

Apakah hanya nasi kotak?

Apakah hanya foto bersama?

Apakah hanya status di media sosial bertuliskan, “Cinta Rasulullah SAW sepanjang masa”?

Ataukah ada sesuatu yang benar-benar ikut pulang ke dalam hati kita?

Sebab cinta, kalau hanya tinggal di mulut, sebenarnya tidak terlalu sulit. Semua orang bisa mengucapkannya.

“Cinta Rasul.”

“Umat Nabi Muhammad.”

“Ya Rasulullah, kami mencintaimu.”

Tidak perlu sekolah tinggi untuk mengucapkannya. Tidak perlu menjadi wali untuk menuliskannya di spanduk. Tidak perlu menjadi orang saleh untuk mempostingnya.

Yang sulit adalah membuktikannya.

Karena Allah tidak pernah menyuruh kita sekadar mengagumi Nabi Muhammad SAW. Allah menunjukkan kepada kita bahwa dalam diri Rasulullah terdapat uswatun hasanah, teladan yang baik.

Allah SWT berfirman:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

(QS Al-Ahzab: 21).

Di situlah persoalannya.

Kita mungkin sangat pandai memperingati kelahiran Nabi. Tetapi apakah kita juga bersedia melahirkan kembali nilai-nilai Nabi dalam kehidupan kita?

Kita bisa menangis ketika mendengar kisah Rasulullah. Tetapi apakah kita juga menangis ketika melihat diri sendiri berbohong?

Kita berdiri ketika shalawat dibacakan. Tetapi apakah kita juga berdiri tegak ketika harus membela kebenaran?

Kita mencium kitab Maulid. Tetapi apakah kita mencium aroma kejujuran dalam birokrasi, dalam rumah tangga, dalam perdagangan, dalam politik, dan dalam kekuasaan?

Jangan-jangan Maulid kita semakin meriah, tetapi Nabi semakin jauh dari perilaku kita.

Cinta yang Diuji oleh Kenyataan

Cinta itu mudah diucapkan.

Seorang suami bisa berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.”

Setiap hari.

Setiap malam.

Bahkan mungkin dengan kata-kata yang sangat puitis.

Tetapi bagaimana kalau pada saat yang sama ia berselingkuh?

Bagaimana kalau ia berbohong tentang keuangan?

Bagaimana kalau ia pulang dengan wajah suci, tetapi telepon genggamnya penuh dengan rahasia?

Handphone dipasword?

Masihkah itu cinta?

Atau seorang istri berkata, “Aku setia kepada suamiku.”

Tetapi ia menyimpan kebohongan. Menutupi sesuatu. Mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.

Antara suami dan isteri masih menyimpan rasa takur, ketika ingin berbagi dengan ayah dan ibunya di kampung?

Masihkah itu cinta?

 

Cinta bukan sekadar kalimat.

Cinta adalah kesesuaian antara pengakuan dan kenyataan.

Kalau mulut mengatakan cinta tetapi perbuatan melakukan pengkhianatan, maka yang sedang kita rawat bukan cinta. Kita sedang merawat kepalsuan.

Demikian pula cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Kita berkata, “Saya umat Nabi Muhammad.”

Tetapi apakah perilaku kita mencerminkan umat Nabi Muhammad?

Kita memperingati Maulid Nabi.

Tetapi setelah Maulid selesai, apakah kita berhenti berbohong?

Apakah kita berhenti menipu?

Apakah kita berhenti mengambil yang bukan hak kita?

Apakah kita berhenti menyalahgunakan jabatan?

Apakah kita berhenti memfitnah orang lain?

Apakah kita berhenti mengkhianati amanah rakyat?

Kalau jawabannya belum, maka barangkali kita perlu mengadakan satu peringatan Maulid lagi.

Bukan di masjid.

Tetapi di dalam hati.

Dan mungkin itu jauh lebih sulit.

Siddiq: Ketika Negeri Ini Kekurangan Orang yang Berani Jujur

Sifat pertama Rasulullah adalah Siddiq: benar dan jujur.

Sederhana.

Tetapi justru karena sederhana, sifat ini sangat mahal.

Di negeri yang penuh dengan informasi, kadang-kadang kita justru semakin sulit menemukan kebenaran.

Informasi ada di mana-mana.

Pernyataan ada di mana-mana.

Konferensi pers ada di mana-mana.

Berita copy paste sudah lebih dari sampah.

Tetapi kebenaran?

Kadang harus dicari seperti mencari jarum di dalam tepung.

Pejabat berkata : rakyat harus sabar.

Rakyat bertanya: sampai kapan?

Pejabat berkata : keadaan terkendali.

Rakyat melihat harga-harga.

Pejabat berkata : semua sesuai prosedur.

Rakyat melihat kenyataan.

Lalu siapa yang harus dipercaya?

Siddiq berarti tidak memanipulasi kenyataan.

Siddiq berarti tidak mengubah bahasa agar kesalahan terlihat seperti keberhasilan.

Siddiq berarti tidak mengubah kebenaran menjadi pembenaran

Siddiq berarti berani berkata, “Kami salah.”

Dan mungkin, di antara semua kalimat yang paling sulit diucapkan oleh manusia yang sedang berkuasa adalah: “Kami salah.”

Lebih mudah menyalahkan keadaan.

Lebih mudah menyalahkan bawahan.

Lebih mudah menyalahkan pemerintah sebelumnya.

Lebih mudah menyalahkan rakyat yang dianggap kurang sabar.

Tetapi mengakui kesalahan?

Itu membutuhkan akhlak.

Karena itu, Maulid Nabi seharusnya juga menjadi Maulid bagi keberanian untuk berkata jujur.

Terutama bagi mereka yang memegang kebijakan.

Sebab kebohongan seorang individu mungkin hanya merusak satu keluarga.

Tetapi kebohongan yang lahir dari kekuasaan dapat merusak kehidupan jutaan orang.

Seorang pemegang kebijakan yang tidak jujur bukan hanya sedang berbohong kepada manusia.

Ia sedang mengkhianati kepercayaan.

Dan setiap kepercayaan adalah amanah.

Amanah: Jabatan Bukan Hadiah, tetapi Titipan

Sifat kedua Rasulullah adalah Amanah.

Dapat dipercaya.

Kalimat ini juga sederhana.

Tetapi coba kita letakkan di depan pintu-pintu kekuasaan.

Jabatan adalah amanah.

Kekuasaan adalah amanah.

Anggaran negara adalah amanah.

Pajak rakyat adalah amanah.

Kursi yang diduduki seorang pejabat adalah amanah.

Masalahnya, kadang-kadang kita memperlakukan amanah seperti warisan keluarga.

Setelah mendapatkan jabatan, yang pertama dipikirkan bukan: “Apa yang bisa saya lakukan untuk rakyat?”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya dapatkan?”

Ini yang membuat negeri sering mengalami penyakit yang aneh.

Seseorang sudah kaya.

Rumahnya banyak.

Mobilnya banyak.

Tanahnya luas.

Anak-anaknya sekolah di tempat yang baik.

Hidupnya sudah cukup.

Tetapi ketika ada kesempatan mengambil uang yang bukan haknya, tangannya masih gemetar.

Bukan karena takut kepada Allah.

Tetapi karena takut ketahuan.

Kalau tidak ketahuan, mungkin dianggap aman.

Padahal aman dari pemeriksaan manusia tidak berarti aman dari pemeriksaan Tuhan.

Inilah tragedi amanah.

Kita sering menganggap jabatan sebagai fasilitas untuk memperbesar kehidupan pribadi, padahal jabatan adalah kesempatan untuk memperbesar manfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW tidak mengajarkan bahwa pemimpin harus hidup paling mewah.

Beliau mengajarkan tanggung jawab.

Beliau hadir bersama umat.

Beliau merasakan kesulitan umat.

Karena pemimpin yang baik tidak cukup mengetahui angka kemiskinan di atas kertas.

Ia harus mengerti bagaimana rasanya rakyat yang kebingungan membeli beras.

Tidak cukup mengetahui statistik pengangguran.

Ia harus memahami kecemasan seorang ayah yang pulang ke rumah tanpa membawa penghasilan.

Tidak cukup mengatakan, “Negara hadir.”

Pertanyaannya:

Hadir di mana?

Di spanduk?

Di podium?

Di televisi?

Atau benar-benar hadir di tengah penderitaan rakyat?

Kalau rakyat lapar, negara memang harus bertanggung jawab.

Tetapi tanggung jawab bukan sekadar kalimat dalam pidato.

Tanggung jawab harus berubah menjadi kebijakan yang jujur, adil, dan dapat dirasakan.

Tabligh: Jangan Menjadi Pemerintah yang Pandai Berbicara tetapi Gagal Mendengar

Sifat ketiga Rasulullah adalah Tabligh, menyampaikan.

Tetapi tabligh bukan sekadar kemampuan berbicara.

Banyak orang pandai berbicara.

Bahkan terlalu pandai.

Saking pandainya, rakyat tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Bahasanya panjang.

Istilahnya rumit.

Penjelasannya berputar-putar.

Ketika rakyat bertanya A, jawabannya sampai Z.

Padahal inti pertanyaannya tidak pernah dijawab.

Rasulullah menyampaikan kebenaran.

Bukan menyampaikan kebingungan.

Seorang pemegang kebijakan juga seharusnya demikian.

Jangan menyembunyikan kenyataan dengan bahasa yang indah.

Jangan membungkus kesalahan dengan istilah teknis.

Jangan menjadikan komunikasi sebagai alat untuk membuat rakyat lupa.

Tabligh adalah keberanian menyampaikan yang benar.

Tetapi dalam kehidupan berbangsa, tabligh juga membutuhkan satu kemampuan lain:

mendengar.

Pemimpin yang tidak mau mendengar rakyat sebenarnya sedang berbicara sendirian.

Ia mungkin memiliki mikrofon.

Tetapi kehilangan telinga.

Padahal rakyat tidak selalu membutuhkan pidato.

Kadang mereka hanya ingin didengar.

Seorang petani tidak membutuhkan seribu slogan tentang ketahanan pangan jika pupuk sulit diperoleh.

Seorang pedagang kecil tidak membutuhkan seminar tentang pertumbuhan ekonomi jika daya beli masyarakat melemah.

Seorang anak muda tidak selalu membutuhkan motivasi, jika lapangan pekerjaan tidak tersedia.

Maka tabligh bukan hanya menyampaikan keberhasilan.

Tabligh juga berarti menyampaikan kebenaran tentang masalah.

Dan setelah itu, menyelesaikannya.

Fathanah: Pintar Belum Tentu Cerdas

Sifat Rasulullah yang keempat adalah Fathanah: cerdas.

Tetapi kita perlu membedakan antara pintar dan cerdas.

Pintar bisa berarti banyak tahu.

Cerdas berarti tahu untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Pintar bisa menghasilkan strategi untuk memenangkan jabatan.

Cerdas menghasilkan kebijakan untuk menyelamatkan rakyat.

Pintar bisa menemukan cara agar tidak ketahuan.

Cerdas menemukan cara agar tidak melakukan kesalahan.

Pintar bisa mengumpulkan kekayaan.

Cerdas memahami bahwa kekayaan tidak dibawa mati.

Pintar kadang membuat seseorang merasa paling hebat.

Cerdas membuat seseorang sadar bahwa dirinya masih harus belajar.

Pintar bisa mengubah regulasi untuk kepentingan pribadi dan para petinggi

Cerdas mengubah regulasi untuk kejayaan negeri bukan manipulasi

Di sinilah Fathanah menjadi penting bagi para pemegang kebijakan.

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar.

Gelar akademik banyak.

Ahli ekonomi banyak.

Ahli hukum banyak.

Konsultan banyak.

Data banyak.

Komputer semakin canggih.

Kecerdasan buatan semakin berkembang.

Tetapi pertanyaannya: Mengapa masalah manusia tetap begitu banyak?

 

Mungkin karena kita terlalu sibuk menjadi pintar, tetapi belum cukup cerdas.

Mengutip istiolah Budayawan Cak Nun : Kadang-kadang kita sudah benar tapi belum betul. Kadang-kadang kita sudah betul tapi belum benar.

 

Fathanah Rasulullah bukan kecerdasan yang berdiri sendiri.

Ia selalu berjalan bersama Siddiq.

Cerdas tetapi jujur.

Bersama Amanah.

Cerdas tetapi dapat dipercaya.

Bersama Tabligh.

Cerdas tetapi mampu menyampaikan dan membawa kebaikan.

Kalau kecerdasan dipisahkan dari kejujuran, ia bisa menjadi kecerdikan.

Kalau kepintaran dipisahkan dari amanah, ia bisa menjadi alat penipuan.

Kalau ilmu dipisahkan dari akhlak, ia bisa menjadi senjata untuk menindas.

 

Karena itu, negeri ini bukan hanya membutuhkan orang-orang pintar.

Negeri ini membutuhkan orang-orang yang benar, cerdas dan mencerdaskan.

Maulid Jangan Menjadi Upacara Tahunan

Barangkali inilah pertanyaan yang paling penting.

Untuk apa kita memperingati Maulid setiap tahun?

Apakah hanya agar kalender keagamaan kita tidak kosong?

Apakah hanya agar acara-acara besar tetap berlangsung?

Apakah hanya agar kita memiliki kesempatan berpidato tentang Nabi Muhammad SAW?

Ataukah Maulid sebenarnya adalah alarm?

Alarm bagi hati yang mulai lupa.

Alarm bagi kekuasaan yang mulai sombong.

Alarm bagi keluarga yang mulai kehilangan kejujuran.

Alarm bagi masyarakat yang mulai terbiasa dengan kebohongan.

Alarm bagi orang-orang yang mengaku mencintai Nabi tetapi malu meniru akhlaknya.

Cinta kepada Rasulullah bukan sekadar banyak menyebut namanya.

Cinta adalah kesediaan untuk menjadi sedikit lebih jujur karena mengenal Siddiq.

Sedikit lebih bertanggung jawab karena mengenal Amanah.

Sedikit lebih berani menyampaikan kebenaran karena mengenal Tabligh.

Dan sedikit lebih bijaksana karena belajar Fathanah.

Di rumah, itu berarti suami tidak mengkhianati istrinya sambil berkata cinta.

Istri tidak mengkhianati suaminya sambil mengaku setia.

Orang tua tidak berbohong kepada anak.

Anak tidak berbohong kepada orang tua.

Dalam perdagangan, pedagang tidak mengurangi timbangan sambil mengucapkan shalawat.

Dalam pendidikan, guru tidak hanya mengajarkan akhlak tetapi juga memperlihatkannya.

Dalam pemerintahan, pejabat tidak hanya berbicara tentang rakyat, tetapi bekerja untuk rakyat.

Dan dalam politik, cinta kepada negeri tidak dibuktikan dengan spanduk, tetapi dengan keberanian untuk tidak mencuri dari negeri.

Mulut Bershalawat, Tangan Jangan Mengkhianat

Mungkin itulah ujian terbesar kita.

Tidak ada yang melarang kita memperingati Maulid dengan meriah.

Tidak ada yang salah dengan shalawat.

Tidak ada yang salah dengan Al-Barzanji.

Tidak ada yang salah dengan ceramah, makanan, atau perayaan.

Semuanya baik.

Tetapi kebaikan itu akan menjadi jauh lebih bermakna apabila Maulid tidak berhenti ketika acara selesai.

Ketika lampu dimatikan.

Ketika panggung dibongkar.

Ketika spanduk diturunkan.

Ketika tamu pulang.

Ketika kamera berhenti mengambil gambar.

Di situlah Maulid yang sebenarnya dimulai.

Ketika seorang pejabat menemukan kesempatan untuk korupsi, tetapi ia memilih menolak.

Ketika seorang suami memiliki kesempatan untuk mengkhianati istrinya, tetapi ia memilih setia.

Ketika seorang pedagang bisa menipu, tetapi ia memilih jujur.

Ketika seorang pemimpin bisa berbohong kepada rakyat, tetapi ia memilih berkata benar.

Ketika seseorang bisa menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan pribadi, tetapi ia memilih mencerdaskan orang lain.

Di situlah Nabi Muhammad SAW tidak hanya diperingati.

Tetapi diteladani.

Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya:

“Seberapa besar acara Maulid kita?”

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Seberapa besar Nabi Muhammad SAW hadir dalam perilaku kita?”

Kita boleh mengaku cinta.

Kita boleh bershalawat.

Kita boleh membuat peringatan.

Tetapi cinta yang sebenarnya selalu meminta bukti.

Dan bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW bukan sekadar air mata ketika mendengar kisah kelahirannya.

BACA ARTIKEL TERKAIT : Maulid Nabi di PP Laa Roiba, Santri Diajak Teladani Empat Sifat Rasulullah

Bukti cinta adalah ketika mulut kita bershalawat, hati kita jujur, tangan kita amanah, kata-kata kita menyampaikan kebenaran, dan kecerdasan kita digunakan untuk menghadirkan rahmat bagi sesama.

Kalau itu belum terjadi, mungkin kita belum kekurangan Maulid.

Kita hanya kekurangan keberanian untuk benar-benar menjadi umat Muhammad.**

Pojok Pesantren Laa Roiba, 31 Agustus 2026/Robiul Awal 1448 H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here