Beranda Opini “Anu” (Misteri yang di mengerti)

“Anu” (Misteri yang di mengerti)

6
0
BERBAGI
Ilustrasi : Repro FB

Ada kata yang begitu sederhana, tetapi justru mampu menjelaskan hampir segala sesuatu. Ketika ingatan tiba-tiba menghilang, ketika nama sebuah benda tak kunjung ditemukan, ketika seseorang enggan menyebut sesuatu secara terang-terangan, atau ketika bahasa kehilangan kata yang tepat, muncullah “Anu”. Ia bisa menjadi apa saja, mewakili siapa saja, dan menjelaskan sesuatu tanpa benar-benar menjelaskan apa-apa. Barangkali, di situlah keistimewaan “Anu”: sebuah kata sederhana yang hidup di antara lupa dan ingatan, antara kejelasan dan misteri, tetapi anehnya tetap saja dapat dimengerti.

Penulis : Nano Tamas Pegiat Sosial dan Kebudayaan di Palembang

“Anu” sebuah kata yang sangat istimewa. Keberadaan “Anu” di Nusantara raya ini sangatlah banyak artinya. Bisa saja dia mewakili nama barang, orang, bahkan cuma mewakili kata. Dan anehnya, “Anu” sangatlah mudah untuk dipahami. Tanpa harus menjelaskan secara pasti, semua juga bisa dimengerti. Pembicaraan awal dari sebuah pokok bahasan akan dapat terwakili hanya dengan kata “Anu”.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tak jarang kita temui kata “Anu” yang mewakili banyak hal. Contoh: kata perintah yang mengatakan, “Ehh, tolong ambilkan ‘Anu’ di atas lemari” atau “Anu, tolong ‘Anu’-nya dikembalikan.” “Anu” itu bukan makanan, namun terkadang bisa juga dimakan. Dia bukan hitam walau terkadang gelap, dia tidak putih meski bisa menyilaukan. “Anu” itu, ya “Anu”.

Dalam keadaan terdesak, “Anu” bisa menjadi senjata. “Anu” juga bisa menjadi alasan untuk banyak kesalahan. Tapi “Anu” selalu saja dapat dipahami. Tak jarang “Anu” membuat hal tak mungkin menjadi mungkin, hal yang gampang menjadi sulit, namun sekali lagi “Anu” masih bisa dimengerti.

“Anu” di negeri ini bisa berarti apa saja, namun bisa juga berarti bukan apa-apa. Fenomena “Anu” sangat sering terjadi dari hal sederhana sampai hal yang paling sulit. Dari yang pakai duit sampai yang gratisan. Dari yang ada sampai yang tidak ada. Tapi “Anu” tetap ada.

Lupa pada sesuatu, “Anu” bisa dijadikan tumbal, dijadikan kata untuk mewakili yang terlupa, meski jika ingat si “Anu” yang kemudian dilupakan. Namun tenang saja, “Anu” masih punya banyak penggemar lain. “Anu” mudah mengerti dan mudah untuk dimengerti.

“Anu” ada di pengadilan, ada di kantor polisi, ada di masjid, ada di gereja, ada di mal, ada di istana negara, ada di tempat sampah, ada di rumah sakit, ada di rumah makan, ada di kamar tidur, ada di pangkalan ojek, ada di bank, ada di mana saja, “Anu” ada di mana-mana. Di mana ada alasan, “Anu” akan selalu ada. “Anu” bisa jadi sebuah alasan. Alasan yang mudah untuk dimengerti.

Bisa saja “Anu” adalah sosok gadis cantik, lelaki brewokan, tukang pijat, koruptor, tukang gali kubur, pohon tumbang, atau bahkan hanya sepotong tempe bacem lauk makan hari ini. “Anu” itu besar, tapi “Anu” juga terkadang sangatlah kecil. Dia sangat nyata meski tak jarang “Anu” tak mampu dilihat. “Anu” sangatlah luas, “Anu” juga bisa sempit. Dia masih bisa dipahami.

Sangat sulit menemukan manusia di Nusantara yang tak mengenal “Anu”. Dia sangatlah populer, lebih terkenal dari AK Ghani atau bahkan Donald Trump. “Anu” dikenal anak-anak sampai bapak dan mbahnya anak-anak. “Anu” adalah puing-puing, adalah bentuk utuh, adalah sepenggal, adalah sepotong, adalah segelintir, adalah tumpukan, adalah biji, adalah butir, adalah banyak hal yang sangat luas. “Anu” adalah semua hal.

Semakin digali, “Anu” akan menjadi semakin kaya. Semua hal akan bisa diwakili hanya dengan kata “Anu”. Jika “Anu” adalah jawaban, maka “Anu” juga pertanyaan. Bila “Anu” sebuah nilai, maka “Anu” adalah bilangan yang tak berbatas. “Anu” adalah kemajemukan arti. Meski mudah dipahami, “Anu” juga terkadang membingungkan.

Samudera yang luas banyak menyimpan “Anu”. Semesta yang tak berbatas dipenuhi oleh “Anu”. Tanah tandus juga ada “Anu”. Hingga angin pun bisikan “Anu”.

“Anu” kata sederhana yang memiliki jutaan makna. Kata yang punya jutaan arti. Kata yang mudah untuk dipahami, meski terkadang sulit dimengerti. Biarkan saja lupa tetap ada agar “Anu” juga tetap abadi. Relakan “Anu” menjadi MISTERI dengan segudang arti, tidak harus dipahami, cukup untuk dimengerti.

Palembang, 24 September 2015, 12.41 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here