
Dari pondok ke masjid, para santri tidak sekadar belajar menjadi imam, muazin, atau penceramah. Mereka sedang berlatih menjadi bagian dari masyarakat.
MUARA ENIM, Inspirasinews.com — Langit belum benar-benar terang ketika sejumlah santri Pondok Pesantren (PP) Tahfidz dan Dakwah Laa Roiba Muara Enim mulai bergerak meninggalkan pesantren. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 04.15 WIB.
Tujuannya bukan sekolah. Bukan pula lapangan tempat mereka berolahraga. Mereka menuju masjid.
Ahad, 13 September 2026, Masjid Al Amin Pelitasari Muara Enim menjadi tujuan pertama Safari Subuh, program Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) PP Laa Roiba Muara Enim. Kegiatan digelar selepas salat Subuh.

Pagi itu para santri datang bukan sekadar sebagai jamaah. Mereka membawa tugas masing-masing.
Ada yang mengumandangkan azan dan iqamah. Ada yang menjadi imam. Ada yang memandu acara. Ada yang menyampaikan kultum. Ada pula yang memimpin doa penutup.
Dengan kata lain, pagi itu masjid menjadi ruang kelas. Bedanya, tidak ada papan tulis.
Tidak ada buku pelajaran. Yang ada adalah jamaah. Dan para santri harus berhadapan langsung dengan mereka.
Di Masjid Al Amin Pelitasari, Dedi Nicho Azizwandy bertugas sebagai MC, Fadhillah Mahesya sebagai muazin dan pelaksana iqamah, Rizki Nando sebagai imam, Kaiz Saputra menyampaikan kultum, sedangkan Adib Barlana Al-Alawy memimpin doa penutup. Dokumentasi ditangani Ustaz Arvey Siregar.
Mereka didampingi KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba Muara Enim.
Safari Subuh di Masjid Al Amin Pelitasari sekaligus menjadi safari perdana GEMMA PP Laa Roiba pada 2026. Setelah itu, tim santri akan bergilir mengunjungi masjid-masjid lain di Muara Enim, Tanjung Enim hingga Kabupaten Lahat.
Masjid sebagai Ruang Praktik
Bagi Kiai Taufik Hidayat, ada alasan sederhana mengapa santri perlu dibawa keluar dari lingkungan pesantren. Ia mengibaratkan Safari Subuh seperti pendidikan kejuruan.
“Kalau anak SMK jurusan perhotelan, praktiknya di hotel. Kalau jurusan mesin, praktiknya di Balai Latihan Perbengkelan. Kalau akademi kebidanan, praktiknya di rumah sakit,” Kiai Taufik.
“Kalau santri, praktiknya di masjid.”
Perumpamaan itu menjadi filosofi Safari Subuh. Pesantren, menurut Kiai Taufik adalah tempat pembekalan. Sementara masjid menjadi ruang praktik untuk menguji apakah pembekalan tersebut dapat digunakan ketika santri berhadapan dengan masyarakat.
“Kalau di pondok itu masa pembekalan, dan di masjid melalui Safari Subuh adalah praktik,” ujarnya.
Karena itu, santri tidak cukup hanya pandai membaca Al-Qur’an atau menghafal kitab di dalam pondok, tetapi mereka perlu belajar berbicara di depan jamaah, mengumandangkan adzan, memimpin salat, menyampaikan pesan agama, menjadi pembawa acara, memimpin doa, sekaligus berinteraksi dengan pengurus dan jamaah masjid.
Ada keberanian yang harus dibangun. Ada rasa percaya diri yang harus dilatih.
Dan ada satu hal yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kelas: pengalaman berhadapan dengan masyarakat.
Mengapa Harus Subuh?
Pertanyaan berikutnya: mengapa harus Subuh? Mengapa bukan Magrib atau Isya yang biasanya lebih ramai?
Kiai Taufik punya jawaban. “Karena Subuh ini salah satu waktu yang paling berat,” katanya.
Pada waktu Magrib, banyak orang masih berada di sekitar rumah. Isya juga relatif lebih mudah dijangkau. Tetapi Subuh menuntut seseorang bangun ketika sebagian besar orang masih berada di balik selimut.
Karena itu, menurut Kiai Taufik, jamaah Subuh dapat menjadi salah satu gambaran tentang kesungguhan seseorang dalam menjaga ibadah.

“Bukan berarti jamaah Magrib atau Isya tidak baik. Bukan begitu. Tetapi Subuh memang punya tantangan tersendiri,” ujarnya.
Al-Qur’an memberikan perhatian khusus kepada waktu fajar. Dalam QS Al-Isra’ ayat 78, Allah menyebut bacaan atau salat fajar sebagai masyhudan, yakni disaksikan.
Rasulullah SAW juga memberikan perhatian khusus terhadap salat Subuh dan Isya serta keutamaannya bagi orang yang melaksanakannya secara berjamaah.
Namun bagi Kiai Taufik, persoalan Subuh tidak berhenti pada soal jumlah jamaah.
Ia melihat ada persoalan lain yang lebih besar: bagaimana masjid yang secara fisik semakin baik dapat benar-benar hidup oleh jamaahnya.
“Gedungnya bagus. Menaranya didirikan. Ruangan pakai AC. Sempurna fisiknya. Tapi hal penting yang sering kali terlupakan adalah mengisi masjid setelah dibangun dengan megah,” katanya.
Melalui Safari Subuh, GEMMA Pesantren Laa Roiba, ingin mencoba mengisi ruang yang sering kali terlupakan itu.
Karena itu, Safari Subuh bukan sekadar agenda kunjungan antarmasjid. Ada pesan yang hendak ditanamkan kepada para santri: masjid harus menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar bangunan yang didatangi ketika ada kegiatan.
Syafii Antonio dan Fenomena Jamaah Subuh
Dalam menjelaskan alasan memilih waktu Subuh, Kiai Taufik juga menyinggung Muhammad Syafii Antonio, tokoh Muslim dan praktisi ekonomi syariah yang dikenal sebagai seorang mualaf.
Menurut penjelasan Kiai Taufik, menjelaskan tentang Syafii Antonio pernah memberikan perhatian terhadap fenomena jamaah salat Subuh yang jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan jamaah pada waktu salat lainnya.
“Syafii Antonio pernah meneliti atau mengamati tentang jamaah Subuh. Dari situ kita bisa melihat bahwa jamaah Subuh memang tidak sebanyak jamaah pada waktu-waktu salat lainnya,” ujarnya.
Mengutip penjelasan hasil penelitian itu, Kiai Taufik menyebutkan, umat Muslim di Indonesia, sebagaimana dijelaskan Syafii Antonio, ternyata hanya ada sekitar 20 persen yang benar-benar shalat.
“Jadi kalau ada seratus jemaah, berarti hanya ada dua puluh orang. Kemudian diteliti lagi yang shalat ke masjid, hanya berkisar antara satu sampai dua persen. Kalau jemaahnya seratus, berarti hanya ada satu atau dua persen yang shalat ke masjid,” ujarnya.
Kiai Taufik tidak menggunakan fenomena tersebut bukan untuk menghakimi orang yang tidak datang ke masjid ketika Subuh. Ia justru menjadikannya bahan perenungan.
Sebab, menurut dia, persoalannya bukan sekadar menghitung berapa orang yang hadir.
Yang lebih penting adalah memahami mengapa salat Subuh memiliki tantangan yang berbeda.
“Ini yang menarik. Subuh itu tidak bisa direkayasa. Orang yang datang memang harus melawan rasa kantuk, dingin dan keinginan untuk tetap tidur, dan inilah jemaah yang asli,” ujarnya.
Ia bahkan membandingkannya dengan keramaian yang terkadang muncul karena kepentingan sosial-politik.
“Tidak juga bisa direkayasa. Kalau di rekayasa misalnya saat Pilkada, Pileg dan lainnya. Tapi setelah itu masjid kembali sepi,” katanya.
Karena itu, menurut dia, jamaah Subuh dapat menjadi salah satu pintu untuk melihat sejauh mana kebiasaan beribadah benar-benar tumbuh dari dalam diri seseorang.
Kiai Taufik kembali menegaskan bahwa hal tersebut bukan ukuran mutlak keimanan seseorang.
“Bukan berarti yang tidak datang Subuh itu tidak beriman. Bukan begitu,” tegasnya. “Tetapi Subuh menjadi salah satu ukuran kesungguhan kita dalam menjaga ibadah.”
Dengan demikian, pembicaraan tentang sedikitnya jamaah Subuh tidak dimaksudkan untuk membuat semacam peringkat kesalehan.
Yang hendak dibangun justru sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa masjid cenderung lebih lengang pada waktu Subuh, padahal salat fajar memiliki keutamaan yang besar? Pertanyaan itulah yang hendak dibawa GEMMA ke tengah masyarakat.
Belajar dari Jamaah yang Sedikit
Cerita tentang sedikitnya jamaah Subuh, menurut Kiai Taufik, bukan untuk menghakimi orang-orang yang tidak datang.
Ia justru menggunakannya sebagai bahan introspeksi. Sebab persoalannya bukan sekadar menghitung kepala yang hadir di masjid. Yang lebih penting adalah bertanya kepada diri sendiri: mengapa sebagian orang sanggup bangun sebelum matahari terbit untuk memenuhi panggilan salat, sementara sebagian lainnya belum mampu melakukannya?
Di situlah Subuh menjadi semacam cermin. Bukan cermin untuk melihat kesalehan orang lain. Melainkan untuk melihat diri sendiri.

Menurut Kiai Taufik, menghidupkan Subuh berarti membangun kebiasaan. Jika anak-anak muda, termasuk para santri, sejak dini dibiasakan dekat dengan masjid pada waktu fajar, kebiasaan itu diharapkan menjadi bagian dari kehidupan mereka ketika kelak kembali ke masyarakat.
Santri Tidak Hanya Mengisi Mimbar
Di Masjid Al Amin Pelitasari, Safari Subuh tidak berhenti ketika acara selesai. Sejumlah santri ikut membantu membersihkan masjid.
Adegan itu mungkin tampak sederhana. Tidak ada pengeras suara. Tidak ada podium. Tidak ada tepuk tangan. Namun justru di situlah pesan GEMMA menemukan bentuknya.
Memakmurkan masjid bukan hanya mengisi mimbar dengan ceramah. Bukan pula sekadar membuat masjid ramai ketika ada acara besar.
Masjid juga harus dirawat, dibersihkan, dijaga dan dihidupkan bersama-sama. Para santri belajar bahwa menjadi bagian dari masjid berarti bersedia mengerjakan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.
Pengurus Masjid Menyambut
Pengurus Masjid Al Amin Pelitasari menyambut positif kegiatan tersebut.
Haji Rasyid, yang mewakili pengurus masjid, mengapresiasi kehadiran Tim GEMMA PP Laa Roiba.
Bagi pengurus, kedatangan para santri memberi warna tersendiri bagi kegiatan Subuh sekaligus membuka ruang perjumpaan antara pesantren dan masyarakat.
Program seperti ini, pada akhirnya, tidak hanya menguntungkan santri. Masjid juga mendapatkan energi baru. Ada anak-anak muda yang datang. Ada suara azan dari santri. Ada imam muda. Ada kultum. Ada percakapan antara pengurus masjid dan pesantren. Dan yang lebih penting: ada perjumpaan.
Empat Tim, Banyak Masjid
Safari Subuh GEMMA PP Laa Roiba tidak dirancang sebagai kegiatan sekali jalan.
Tim GEMMA membentuk empat tim yang masing-masing didampingi ustaz pengasuh.
Tim-tim tersebut akan bergerak ke sejumlah masjid yang telah dijadwalkan. Setiap kunjungan membawa konsep yang relatif sama: santri mengambil bagian dalam pelayanan kegiatan Subuh.
Mereka belajar menjadi MC, muazin, imam, penyampai kultum, hingga dai cilik dan dai remaja.
Dengan pola seperti itu, pesantren ingin mempertemukan dua dunia yang selama ini kadang berjalan sendiri-sendiri: dunia pesantren dan kehidupan masyarakat.
Di pesantren, santri belajar agama. Di masjid, mereka belajar bagaimana agama hadir di tengah masyarakat. Itulah sebabnya Kiai Taufik berharap Safari Subuh terus berjalan.
Bahkan masjid yang sudah pernah dikunjungi tidak harus merasa selesai. Pengurus masjid tetap dapat mengundang kembali Tim GEMMA untuk jadwal yang berbeda.
“Kalau ada masjid yang sudah dikunjungi, tetap boleh menjadwalkan Safari Subuh lagi. Pengurus masjid bisa menghubungi Tim GEMMA,” kata Ustaz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum., Koordinator Program GEMMA PP Laa Roiba.
Dari Pondok, Kembali ke Masyarakat
Pekan ini, Safari Subuh dijadwalkan berlangsung di Masjid Al Muhajirin BTN Karang Asam, Tanjung Enim, Ahad, 20 September 2026.
Dari sana, perjalanan akan berlanjut ke masjid-masjid lainnya. Program itu barangkali sederhana: bangun sebelum fajar, datang ke masjid, azan, salat, kultum, lalu membersihkan masjid. Tetapi bagi pesantren, ada sesuatu yang lebih besar di balik rutinitas itu.
Santri sedang dipersiapkan untuk pulang ke masyarakat. Sebab pada akhirnya seorang santri tidak akan selamanya tinggal di pesantren.
Ia akan menjadi guru. Imam. Dai. Pemimpin masyarakat. Pengusaha. Orang tua. Atau sekadar warga biasa yang suatu hari harus berdiri ketika masyarakat membutuhkan seseorang untuk memimpin doa atau salat.
BACA BERITA TERKAIT : Akhir Pekan ini, Safari Subuh GEMMA PP Laa Roiba Hadir di Masjid Al Muhajirin BTN Karang Asam
Karena itu, sebelum mereka benar-benar kembali ke masyarakat, mereka perlu belajar terlebih dahulu bagaimana berdiri di tengah masyarakat.
Dan Safari Subuh menjadi ruang latihan itu.
Fajar mungkin hanya berlangsung sebentar. Tetapi dari masjid, para santri sedang belajar sesuatu yang waktunya jauh lebih panjang: bagaimana menjadi manusia yang berguna bagi umat.
Teks: Tim Media PP Laa Roiba | Foto: Dok. GEMMA/Arvey













