
Laboratorium Teater Serat Ulu Menawarkan Bahasa Tubuh yang Gelisah
Di atas lantai panggung Gedung Pertunjukan Museum Batubara Museum Batubara, seorang remaja laki-laki menjatuhkan tubuhnya ke ruang sunyi. Kepalanya mendongak ke langit-langit, tangan kirinya mengepal di dada, sementara tubuhnya seperti sedang menahan ledakan yang tak selesai. Di belakangnya, huruf-huruf besar bertuliskan “SELAMAT BU…” menggantung samar di latar putih. Penonton terdiam. Tak ada dialog panjang. Tubuh menjadi bahasa.

MUARA ENIM, Inspirasinews.com – Itulah salah satu fragmen pertunjukan “Presentasi Karya Hasil Laboratorium Teater” yang digelar Yayasan Serat Ulu di Tanjung Enim,
Sabtu sore, 9 Mei 2026. Sebuah pertunjukan yang tak sekadar menampilkan hasil latihan teater, tetapi juga memperlihatkan bagaimana generasi muda mencoba membaca ulang kecemasan sosial melalui ekspresi artistik.
Pementasan itu merupakan bagian dari program laboratorium teater yang selama beberapa waktu terakhir digagas Serat Ulu Foundation bersama anak-anak muda di wilayah Sumatera Selatan.
Di tengah maraknya budaya digital yang serba cepat dan instan, laboratorium ini justru mengajak peserta kembali menyelami tubuh, emosi, ruang, dan kesadaran sosial sebagai bahan utama pertunjukan.
Ketua Yayasan Serat Ulu, Gusti Wiratama, mengatakan laboratorium teater bukan semata pelatihan teknik bermain peran, melainkan ruang pembentukan kepekaan generasi muda terhadap lingkungan sosial dan budaya mereka sendiri.
“Teater itu bukan hanya panggung hiburan. Ia ruang membaca zaman. Kami ingin anak-anak muda belajar merasakan kegelisahan sosial, membaca tubuh mereka sendiri, lalu menerjemahkannya menjadi karya artistik,” ujar Gusti kepada wartawan usai pertunjukan.
Menurutnya, pendekatan laboratorium dipilih karena memberi ruang eksplorasi yang lebih bebas kepada peserta. Mereka tidak dibebani tuntutan menjadi aktor profesional, tetapi didorong menemukan ekspresi personal melalui tubuh dan pengalaman sehari-hari.
Pendekatan itu terasa kuat sepanjang pertunjukan. Alih-alih bertumpu pada dialog verbal, para pemain lebih banyak menggunakan gerak tubuh, repetisi, tatapan kosong, dan komposisi ruang yang minimalis. Kadang terasa mentah, tetapi justru di situlah letak energi pertunjukan ini: jujur dan tidak dibuat-buat.
Beberapa adegan bahkan menyerupai ledakan emosi yang belum selesai dipahami pemainnya sendiri. Seorang aktor remaja berjalan memutar sambil memukul dadanya perlahan, sementara pemain lain berdiri diam membelakangi penonton.
Di sudut lain, seorang perempuan muda memejamkan mata cukup lama sebelum tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Penonton seperti dipaksa masuk ke ruang psikologis yang ganjil dan gelisah.
Dalam tradisi teater modern, pendekatan semacam ini mengingatkan pada eksplorasi tubuh ala teater eksperimental yang menempatkan tubuh sebagai teks utama. Dialog tidak lagi menjadi pusat. Gerak, jeda, dan keheningan justru berbicara lebih keras.
Namun yang menarik, Serat Ulu tidak sepenuhnya meninggalkan akar lokal. Di beberapa bagian, ritme gerak para pemain terasa dipengaruhi pola-pola gerak tradisi Melayu dan atmosfer pertunjukan rakyat Sumatera Selatan. Meski samar, jejak lokal itu masih terasa hidup.
Gusti mengatakan, mereka memang sengaja tidak membuat pertunjukan yang terlalu “rapi” secara teknis. Baginya, laboratorium adalah ruang proses, bukan sekadar hasil akhir.
“Kami ingin keberanian bereksperimen itu tumbuh dulu. Anak-anak muda hari ini terlalu sering diminta sempurna, padahal seni justru lahir dari keberanian mencoba dan kemungkinan gagal,” katanya.

Pernyataan itu terasa relevan. Sebab di tengah dunia seni pertunjukan yang makin terjebak estetika media sosial—serba cepat, serba visual, serba viral—pertunjukan ini justru menawarkan sesuatu yang lebih sunyi: proses pencarian.
Kegiatan laboratorium dan presentasi karya teater ini, menurut Gusti juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana sebagai bagian dari upaya penguatan ekosistem seni dan pemajuan kebudayaan di daerah.
“Dukungan ini sangat penting untuk membuka ruang kreatif bagi komunitas seni muda di Sumatera Selatan, terutama dalam mendorong lahirnya regenerasi teater yang berakar pada identitas lokal namun tetap terbuka terhadap eksplorasi artistik kontemporer,” tegasnya.
Ketua Forum Teater Sekolah Sumsel, Yosep Suterisno, SE menilai, laboratorium teater seperti yang dilakukan Serat Ulu penting bagi regenerasi teater di Sumatera Selatan. Menurut pria asli Muaraenim ini, ruang-ruang kreatif semacam ini mulai jarang ditemukan, terutama untuk pelajar dan komunitas muda.
“Yang menarik dari pementasan Serat Ulu adalah keberanian mereka membangun bahasa tubuh dan eksplorasi artistik yang tidak klise. Anak-anak muda diberi ruang berpikir dan merasakan, bukan sekadar menghafal dialog,” ujar Yosep, yang sempat menimba ilmu di Teater Sembade Muaraenim -era 80-an.

Ia juga menilai pertunjukan tersebut menjadi penanda bahwa geliat teater sekolah dan komunitas muda di Sumatera Selatan masih hidup.
Menurutnya, dukungan terhadap ruang laboratorium seni harus terus diperkuat agar teater tidak hanya hadir sebagai tontonan seremonial, tetapi menjadi medium pendidikan sosial dan kebudayaan.
Di penghujung pertunjukan, tepuk tangan penonton terdengar panjang. Bukan tepuk tangan yang meledak-ledak, melainkan tepuk tangan yang seperti sedang mengapresiasi keberanian.
Keberanian untuk gelisah. Keberanian untuk mencari bentuk. Dan keberanian untuk tetap percaya bahwa panggung teater masih bisa menjadi ruang percakapan tentang manusia.
Di tengah dunia yang semakin riuh oleh layar dan algoritma, malam itu tubuh-tubuh muda di panggung Museum Batubara membuktikan satu hal: seni pertunjukan belum mati. Ia hanya sedang mencari bahasa baru untuk berbicara kepada zamannya.**
Teks : Newsroom | Editor : Imron Supriyadi











