Beranda Budaya Luay dan Rambut Putih Eyang Kakung

Luay dan Rambut Putih Eyang Kakung

23
0
BERBAGI
Ilustrasi : AI
Cerpen Imron Supriyadi

Kabar itu datang menjelang siang.

“Caca sudah hamil sembilan bulan, Yah. Sebentar lagi lahir.”

Aku membaca pesan itu berulang-ulang. Bukan karena kalimatnya sulit dipahami. Justru karena kalimat itu terlalu sederhana, sementara sesuatu yang besar sedang mengetuk-ngetuk dada.

Caca.

Putri sulungku.

Anak perempuan yang dulu masih cadel ketika memanggilku Ayah. Anak yang rambutnya sering berantakan dan yang kadang-kadang berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri dan Tuhan.

Kini ia akan menjadi seorang ibu.

Dan aku akan menjadi kakek.

Aku memandang istriku.

“Kita ke Palembang.”

Ia mengangguk.

Maka kami berangkat dari Muara Enim menuju Palembang.

Empat jam perjalanan terasa seperti perjalanan menuju sebuah zaman baru.

Di sepanjang jalan, Sumatera Selatan memperlihatkan wajahnya seperti biasa. Truk-truk batu bara berjalan berat. Kebun-kebun sawit memanjang. Warung kopi tetap ramai. Masjid berdiri di pinggir jalan. Sekolah-sekolah berdiri dengan papan nama yang kadang lebih megah daripada halaman belakangnya.

Dan baliho calon pemimpin.

Wajah-wajah tersenyum memenuhi pinggir jalan.

Ada yang tersenyum begitu lebar sampai aku bertanya-tanya: apakah mereka memang sebahagia itu, atau fotografernya yang terlalu pandai?

Aku melihat jalan berlubang.

Entah sudah berapa lama lubang itu berada di sana.

Mungkin pemerintah belum sempat memperbaikinya.

Atau mungkin lubang itu sengaja dipelihara supaya rakyat tidak lupa bahwa pembangunan memang ada, hanya belum sampai ke tempat mereka.

Aku tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya istriku.

“Tidak apa-apa.”

“Pasti mikir yang aneh-aneh.”

Aku tertawa kecil.

“Cuma berpikir. Kalau semua bayi yang lahir kelak menjadi pemimpin, mungkin Indonesia tidak perlu terlalu banyak aturan.”

Istriku menoleh.

“Memangnya bayi sudah bisa memimpin?”

“Belum.”

Aku menahan tawa.

“Tapi bayi belum punya rekening.”

Kami tertawa.

Hanya sebentar.

Sebab sesungguhnya kami sedang menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada politik.

Kami sedang menuju kelahiran.

Seorang manusia kecil akan datang ke dunia yang belum pernah ia kenal.

Ia belum tahu harga beras.

Belum tahu harga rumah.

Belum tahu apa itu korupsi.

Belum tahu apa itu kemiskinan.

Belum tahu apa itu jabatan.

Belum tahu bahwa kelak ada orang yang bisa bertengkar hanya karena berbeda pilihan politik.

Ia belum tahu bahwa ada orang yang bisa membangun masjid dengan marmer mahal, sementara di luar pagar masjid itu seorang ibu masih bingung membeli susu untuk anaknya.

Ia belum tahu apa-apa.

Ia hanya tahu satu hal:

Ia hendak lahir.

Sesampainya di Palembang, Caca menyambut kami dengan senyum yang sulit dijelaskan.

Faiz, suaminya, juga menyambut dengan pelukan hangat.

Aku memeluk Caca cukup lama.

Tiba-tiba mataku basah.

“Ayah tidak percaya, Nak,” kataku.

“Sebentar lagi Ayah menjadi kakek.”

Caca tersenyum.

Di dalam pelukan itu, aku seperti sedang memeluk dua zaman sekaligus.

Zaman ketika ia masih menjadi anakku.

Dan zaman ketika ia sebentar lagi menjadi ibu bagi anaknya.

Barangkali ia tidak tahu bahwa pada saat itu seorang ayah sedang berhadapan dengan waktu.

Aku masih ingat Caca ketika berumur dua tahun.

Ia lucu.

Rambutnya sering berantakan.

Kalau berbicara, beberapa huruf belum jelas.

Kadang ia menyebut sesuatu dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri dan Tuhan.

Sekarang usianya dua puluh satu tahun.

Sebentar lagi ia menjadi ibu.

Sementara Nissi dan Salsa, teman karibnya di pesantren, masih berkutat dengan dunia akademik. Caca harus menunda semuanya.

Garis langit menentukan lain.

Menjadi ibu.

Orang mungkin mengatakan dua puluh satu tahun masih terlalu muda.

Tetapi takdir tidak pernah meminta pendapat manusia sebelum menuliskan sebuah peristiwa.

Malam pertama berlalu tanpa tanda-tanda kelahiran.

Malam kedua keadaan mulai berbeda.

Caca berkali-kali masuk toilet.

Istriku yang sudah pernah mengalami pengalaman serupa mulai curiga.

“Jangan ditahan, Nak. Kalau sudah terasa, kita ke rumah sakit.”

“Belum, Bun. Masih tahan.”

“Tapi kenapa berkali-kali ke toilet?”

“Cuma buang air besar.”

Istriku menggeleng.

“Caca, itu bisa jadi kontraksi.”

Caca terdiam.

Ia memang belum tahu.

Ini pengalaman pertamanya menjadi ibu.

Sementara perempuan paruh baya di sampingnya sudah tahu bahwa tubuh seorang perempuan kadang-kadang lebih jujur daripada mulutnya.

Pukul sembilan malam kami berangkat.

Rumah Sakit Sriwijaya Palembang malam itu tampak sepi.

Lampu-lampu menyala terang, tetapi lorong-lorong terasa sunyi.

Sebuah kursi roda keluar dari pintu UGD.

Caca dipapah.

Aku melihat putriku duduk di atas kursi roda itu.

Aneh.

Dulu aku yang menggendongnya ketika ia menangis.

Malam itu, ia didorong menuju ruang UGD untuk melahirkan anaknya sendiri.

Barangkali begitulah cara waktu mengajarkan manusia bahwa tidak ada yang benar-benar tinggal di tempat yang sama.

Beberapa menit kemudian istriku keluar.

“Yah, Caca harus dirawat.”

“Kenapa?”

“Ternyata dia diare. Dokter menyarankan dirawat karena sudah mendekati waktu kelahiran.”

Aku diam.

Sebagai calon kakek, aku tahu ada saat ketika pendapat seorang ayah harus berhenti dan keputusan dokter harus didengar.

“Ya sudah. Mana yang terbaik menurut dokter.”

Pada 12 Agustus 2026, sekitar pukul 13.30 WIB, datang kabar bahwa pembukaan sudah satu.

Aku menghitung dalam hati.

Satu.

Berarti masih sembilan.

“Insya Allah tengah malam sudah sepuluh,” pikirku.

Aku terlalu percaya kepada matematika.

Padahal kelahiran manusia bukan soal matematika.

Beberapa jam kemudian pembukaan tidak juga bertambah.

Dokter melakukan induksi.

Tetapi manusia hanya dapat merencanakan.

Tuhanlah yang menentukan.

Pembukaan berhenti di angka dua.

Dua.

Angka sederhana.

Namun bagi seorang perempuan yang sedang menahan sakit, angka itu mungkin terasa seperti gunung.

Caca mulai tidak kuat.

Faiz meminta Caca bersiap untuk operasi caesar.

Tetapi Caca masih menolak.

“Adik masih kuat, Yang.”

Faiz mengelus pinggangnya.

Entah berapa jam ia memijat pinggang istrinya yang kian berat.

Aku berada di luar.

Menunggu.

Dalam keadaan seperti itu seorang ayah belajar sesuatu yang aneh:

Cinta kadang-kadang tidak mempunyai pekerjaan selain berdoa.

Akhirnya, pada 13 Agustus pagi, sekitar pukul lima, dokter memutuskan operasi caesar.

Beberapa saat kemudian, dunia kami berubah.

“Nawit Luay Muafi.”

Seorang bayi laki-laki lahir.

Sehat.

Hasil observasi dokter menunjukkan Luay lahir tanpa gejala yang mengkhawatirkan.

Seorang suster keluar dari ruang persalinan.

“Bayinya sehat, Bu. Ganteng nian.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi kami ia seperti pengumuman dari langit.

Kami spontan bahagia.

Aku menjadi kakek.

Istriku menjadi nenek.

Tetapi ia ingin dipanggil Oma.

Pukul enam pagi, seorang manusia kecil memasuki dunia tanpa membawa apa-apa kecuali tangisan.

Barangkali manusia memang seharusnya belajar dari bayi.

Ia datang tanpa membawa jabatan.

Tanpa membawa uang.

Tanpa membawa ijazah.

Tanpa membawa kartu anggota partai.

Tanpa membawa rekening bank.

Ia hanya membawa kehidupan.

Maka jangan sampai kelak ia tumbuh dan diajari bahwa keberhasilan adalah memiliki sebanyak-banyaknya, meskipun harus mengambil yang bukan haknya.

Jangan sampai ia diberi makan oleh tangan-tangan yang memasukkan uang haram ke dalam piring.

Sebab perut seorang anak bukan tempat menyimpan dosa orang dewasa.

Aku memandang Luay.

Dalam hati aku berbisik:

Cucuku, kelak jadilah manusia baik.

Jadilah cahaya bagi semesta.

Jangan pernah memasukkan uang haram ke dalam perutmu.

Aku tidak tahu apakah ia mendengar.

Bayi memang belum mengerti bahasa manusia dewasa.

Tetapi mungkin langit sudah mencatatnya.

Tiga hari kemudian, kami membawa Luay pulang ke rumah Faiz dan Caca, di sebelah Masjid Nurul Yaqin, Talang Keramat.

Jamaah masjid menyambutnya dengan bahagia.

Faiz adalah imam di masjid itu.

Maka kelahiran Luay bukan hanya peristiwa keluarga.

Ia menjadi bagian kecil dari kehidupan sebuah komunitas.

Kebetulan pada 1 Rabiul Awal 1448 H, Masjid Nurul Yaqin menggelar pembacaan Kitab Al-Barzanji, syair-syair yang ditulis Syeh Djakfat Al-Barzanji, yang memuji kebesaran Nabi Muhammad SAW ketika lahir ke dunia.

Bagi kami, tidak ada tempat yang lebih baik untuk memperdengarkan shalawat pertama kepada Luay.

Faiz menggendong Luay ke hadapan jamaah.

Lalu bersama-sama mereka membaca Marhaban.

Suara shalawat memenuhi ruang masjid.

Aku duduk di antara jamaah, di sudut dekat tiang.

Mendengarkan.

Menyimak dengan batin.

Aku membayangkan perjalanan Nabi sejak lahir hingga diangkat menjadi rasul, dengan segala terpaan siksa dan nestapa yang menyertainya.

Air mataku mengalir tanpa diundang.

Entah karena teringat Nabi.

Entah karena melihat cucu.

Atau mungkin karena tiba-tiba aku sadar bahwa hidup manusia memang hanya sebentar.

Kemudian pikiranku mengembara.

Aku membayangkan Luay dua puluh tahun lagi.

Tiga puluh tahun lagi.

Mungkin ia akan hidup di Indonesia yang berbeda.

Aku berharap begitu.

Aku berharap Luay tumbuh di negeri yang tata kelolanya semakin baik.

Negeri yang pejabatnya menganggap jabatan sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.

Negeri yang pembangunan tidak hanya terlihat dari gedung tinggi, tetapi juga dari anak-anak yang tidak lapar.

Negeri yang masjidnya bukan sekadar tempat orang berdebat tentang perbedaan kecil, tetapi menjadi pusat pendidikan, ekonomi umat, kebudayaan, dan peradaban.

Negeri yang orang miskinnya tidak terus-menerus diminta bersabar, sementara orang kaya terus-menerus diberi kesempatan menambah kekayaan.

Negeri yang hukum tidak tajam kepada mereka yang lemah dan tumpul kepada mereka yang kuat.

Barangkali ini terlalu ideal.

Tetapi bukankah setiap bayi lahir membawa hak untuk mendapatkan dunia yang lebih baik?

Dan kalau kita tidak berusaha memperbaikinya, kepada siapa kelak kita harus menjelaskan?

Kepada cucu kita?

Atau kepada Tuhan?

Aku kembali memandang Luay.

Namanya berarti harapan tentang seorang laki-laki yang berani, bijak, dan pemaaf.

Tetapi hari itu aku sadar:

Kelahiran Luay bukan hanya menambah anggota keluarga.

Ia juga mengurangi jarak kami menuju kematian.

Aku sudah berkepala lima.

Rambutku memutih.

Dulu aku tidak pernah memperhatikan rambut putih itu.

Kini aku melihatnya sebagai surat kecil dari Tuhan.

Isinya sederhana:

Waktu berjalan.

Istriku kini sudah menjadi Oma Putri.

Kami bahagia, tentu saja.

Namun di balik kebahagiaan itu ada kesadaran yang pelan-pelan mengetuk pintu hati:

Usia kami bertambah.

Sementara Luay baru memulai.

Kami sedang berjalan menuju senja.

Luay baru membuka mata melihat pagi.

Maka ayat itu tiba-tiba terlintas:

“Wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad.”

Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.

Hari esok.

Bagi seorang bayi, hari esok berarti kehidupan panjang yang belum ia kenal.

Bagi kami, hari esok mungkin berarti sesuatu yang jauh lebih dekat:

Pertemuan dengan Tuhan.

Karena itu kelahiran Luay terasa seperti cermin.

Di satu sisi kami melihat seorang cucu.

Di sisi lain kami melihat diri kami sendiri.

Ia bertanya tanpa suara:

“Eyang, apa yang sudah Eyang siapkan?”

Aku tidak segera menjawab.

Sebab pertanyaan itu bukan untuk dijawab dengan kata-kata.

Ia harus dijawab dengan amal.

Di dalam Masjid Nurul Yaqin, suara shalawat masih terdengar.

Luay tertidur dalam gendongan ayahnya.

Aku tersenyum.

Seorang bayi telah datang membawa kebahagiaan.

Tetapi diam-diam ia juga membawa pesan:

Bahwa kehidupan harus diteruskan dengan kebaikan.

Bahwa kekuasaan harus dikelola dengan amanah.

Bahwa harta harus dicari dengan halal.

Bahwa masjid harus menjadi cahaya.

Bahwa keluarga harus menjadi sekolah pertama bagi manusia.

Dan bahwa setiap kelahiran sesungguhnya adalah pengingat tentang kematian.

Aku mengusap rambut putihku.

Untuk pertama kalinya aku tidak merasa rambut itu sebagai tanda usia.

Ia seperti jam yang diletakkan Tuhan di atas kepala.

Setiap helainya menunjukkan bahwa waktuku telah berkurang.

Aku kemudian berbisik kepada Luay:

“Cucuku, tumbuhlah menjadi cahaya.

Jangan hanya menjadi besar.

Jadilah baik.

Jangan hanya pintar mencari uang.

Pandailah menjaga keberkahan.

Dan kalau suatu hari engkau memegang amanah untuk mengurus negeri ini, ingatlah bahwa rakyat bukan angka dalam laporan.

Mereka adalah manusia.”

Luay tetap tidur.

Ia belum menjawab.

Tidak apa-apa.

Mungkin memang belum waktunya.

Sebab kelak, ketika ia sudah dewasa, dunia akan meminta jawabannya sendiri.

Malam semakin turun di Talang Keramat.

Dari masjid, suara orang-orang masih terdengar samar.

Aku menatap cucuku.

Kecil.

Rapuh.

Belum mengerti apa-apa.

Tetapi justru karena belum mengerti apa-apa, ia datang tanpa dosa.

Dunia belum sempat mengajarinya menjadi serakah.

Belum sempat mengajarinya berdusta.

Belum sempat mengajarinya memuja jabatan.

Belum sempat mengajarinya bahwa orang miskin adalah angka statistik.

Belum sempat mengajarinya bahwa masjid cukup dibangun dengan beton dan marmer, sementara manusia di sekelilingnya dibiarkan retak.

Ia masih bening.

Dan mungkin itulah sebabnya setiap kelahiran sebenarnya adalah teguran bagi orang-orang tua.

Kita sering sibuk memikirkan masa depan anak-anak, tetapi lupa bertanya:

Masa depan seperti apa yang sedang kita wariskan?

Kita ingin anak-anak menjadi baik, tetapi apakah negeri yang kita tinggalkan mengajarkan kebaikan?

Kita ingin mereka jujur, tetapi apakah mereka akan melihat kejujuran sebagai jalan hidup atau sebagai kebodohan?

Kita ingin mereka mencintai masjid, tetapi apakah masjid akan hadir sebagai rumah peradaban atau hanya menjadi bangunan yang ramai ketika hari raya?

Kita ingin mereka menghormati hukum, tetapi apakah hukum akan memberi contoh bahwa keadilan memang berlaku bagi semua?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ditujukan kepada Luay.

Belum.

Pertanyaan itu justru ditujukan kepada kami.

Kepada generasi yang lebih dulu lahir.

Kepada mereka yang sekarang memegang kekuasaan.

Kepada mereka yang mengelola uang negara.

Kepada mereka yang mengurus masjid.

Kepada para orang tua.

Kepada para guru.

Kepada siapa saja yang hari ini sedang membuat dunia yang kelak akan diwarisi oleh anak-anak.

Sebab bayi tidak pernah memilih negeri tempat ia dilahirkan.

Ia hanya menerima.

Kitalah yang menentukan apa yang akan ia terima.

Aku kembali menyentuh rambut putihku.

Barangkali kelak, ketika Luay sudah dewasa, ia tidak lagi mengingat bagaimana pertama kali aku memandangnya.

Barangkali ia tidak akan ingat suara Marhaban yang mengiringi tidurnya.

Barangkali ia bahkan tidak akan mengingat wajah Eyang Kakung yang rambutnya telah memutih.

Tidak apa-apa.

Kenangan memang tidak selalu harus tinggal di kepala.

Sebagian cukup tinggal sebagai doa.

Dan pada hari itu aku hanya ingin meninggalkan satu doa:

Semoga Luay tumbuh bukan sekadar menjadi manusia yang berhasil.

Tetapi menjadi manusia yang berguna.

Bukan sekadar memiliki kekayaan.

Tetapi memahami keberkahan.

Bukan sekadar mempunyai kekuasaan.

Tetapi mengerti amanah.

Bukan sekadar pandai berbicara tentang Tuhan.

Tetapi mampu menghadirkan kasih sayang Tuhan dalam kehidupannya.

Dan jika suatu hari ia menjadi pemimpin, semoga ia ingat bahwa kursi kekuasaan bukan milik pantatnya.

Ia hanya tempat sementara bagi amanah.

Jika ia menjadi orang kaya, semoga ia tahu bahwa harta bukan ukuran kemuliaan.

Ia hanya titipan yang akan ditanyakan dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.

Jika ia menjadi imam, semoga ia tidak hanya mampu membuat orang menangis dalam doa, tetapi juga mampu membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Dan jika ia kelak hanya menjadi manusia biasa, semoga ia tetap tahu bahwa menjadi manusia baik sudah merupakan jabatan yang paling tinggi.

Aku menatap Luay sekali lagi.

Ia tidur.

Tenang.

Seperti dunia belum pernah menyakitinya.

Seperti masa depan belum pernah mengecewakannya.

Seperti Tuhan sedang memberinya selembar kertas putih.

Aku tidak tahu apa yang kelak akan ia tulis di atasnya.

Tetapi aku tahu satu hal:

Kami, generasi yang lebih tua, sedang menyerahkan pena itu kepadanya.

Dan kelak, ketika hari pertanggungjawaban tiba, mungkin bukan hanya Luay yang ditanya apa yang telah ia tulis.

Kami pun akan ditanya:

Mengapa kertas putih itu kau serahkan dalam keadaan kotor?

Aku terdiam.

Di kejauhan, suara azan terdengar.

Aku mengusap rambut putihku.

Kini aku tahu.

Rambut putih ini bukan sekadar tanda bahwa aku sudah tua.

Ia adalah saksi.

Saksi bahwa waktu pernah melewatiku.

Saksi bahwa aku pernah menjadi ayah.

Saksi bahwa kini aku menjadi kakek.

Dan saksi bahwa sebelum Luay belajar berjalan menuju masa depan, aku harus terlebih dahulu belajar mempertanggungjawabkan masa laluku.

Pada akhirnya manusia tidak ditanya berapa banyak yang berhasil dikumpulkannya.

Ia akan ditanya:

Apa yang telah ia lakukan dengan cahaya yang pernah dititipkan Tuhan kepadanya?

Aku memandang Luay.

Lalu tersenyum.

Barangkali inilah arti seorang cucu bagi seorang kakek:

Ia bukan hanya anak dari anak kita.

Ia adalah masa depan yang datang untuk mengingatkan kita agar tidak terlalu lama tinggal di masa lalu.

Dan malam itu, di Pojok Masjid Nurul Yaqin, Talang Keramat, aku berdoa dalam diam:

Ya Allah, jika rambut putih ini adalah tanda bahwa waktuku semakin sedikit, izinkanlah aku menggunakan sisa waktuku untuk menanam sesuatu yang kelak dapat dipetik Luay.

Jika tidak sempat oleh tanganku, biarlah oleh doaku.

Jika tidak sempat oleh doaku, biarlah oleh kebaikan yang pernah kutinggalkan.

Sebab aku tahu, anak cucu tidak hanya mewarisi darah.

Mereka juga mewarisi dunia.

Dan dunia yang kami wariskan kepada Luay semoga bukan dunia yang semakin kaya tetapi semakin kehilangan nurani.

Semoga bukan negeri yang gedungnya semakin tinggi tetapi manusia di bawahnya semakin rendah.

Semoga bukan masjid yang semakin megah tetapi hati jamaahnya semakin gersang.

Semoga bukan kekuasaan yang semakin kuat tetapi amanah semakin lemah.

Semoga bukan manusia yang semakin pintar menghitung keuntungan tetapi semakin lupa menghitung dosa.

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan manusia bukan seberapa tinggi ia berdiri di dunia.

Melainkan seberapa terang cahaya yang ia tinggalkan ketika ia pergi.

Dan ketika Luay kelak menoleh ke belakang, aku berharap ia tidak malu menjadi cucu dari seorang lelaki berambut putih yang pernah bercita-cita sederhana:

bahwa cucunya tidak sekadar hidup di dunia,

tetapi ikut menerangi dunia.**

Pojok Masjid Nurul Yaqin, Talang Keramat, Banyuasin, 15 Agustus 2026

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here