Menelusuri Jejak Pendidikan di Islamic Center
MUARA ENIM, Inspirasinews.com — Pendidikan anak usia dini sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebuah ruang belajar, beberapa anak, guru yang mendampingi, dan harapan orang tua agar putra-putrinya tumbuh menjadi generasi yang baik.
Namun, di balik sebuah lembaga pendidikan yang terus berjalan, selalu ada sejarah yang menyertainya.
Sejarah itu kadang tersimpan dalam ingatan para pengelola. Kadang berada dalam cerita para guru dan orang tua. Tetapi, yang paling kuat adalah ketika sejarah tersebut tercatat dalam dokumen kelembagaan.
Jejak itulah yang kembali ditelusuri ketika Badan Pelaksana Pendidikan, Pemahaman Ajaran serta Budaya Islam (BP4ABI) Kabupaten Muara Enim melakukan kunjungan silaturahmi ke Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Babussalam Islamic Center, Senin, 10 Agustus 2026.
Pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB itu bukan sekadar kunjungan biasa. Di dalamnya terdapat upaya untuk melihat kembali perjalanan TKIT Babussalam, memperjelas status kelembagaan, sekaligus membuka kemungkinan sinergi baru bagi pengembangan pendidikan Islam di lingkungan Islamic Center Muara Enim.
Sebuah Kunjungan Balasan
Suasana pertemuan berlangsung hangat. Jajaran pengelola TKIT Babussalam Islamic Center menyambut kedatangan rombongan BP4ABI Muara Enim.
Kunjungan tersebut sekaligus merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya pengelola TKIT Babussalam bersilaturahmi ke Islamic Center Muara Enim.
Rombongan BP4ABI dipimpin Kepala BP4ABI KH Kumyadi, didampingi Sekretaris H. Deni Putra, S.Pd.I., serta KH Elham Fajri, Kepala Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat, yang hadir mewakili personel BP4ABI lainnya yang pada waktu bersamaan masih menjalankan tugas.
Bagi kedua pihak, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membangun kembali komunikasi. Bukan hanya berbicara mengenai kondisi TKIT saat ini, tetapi juga menengok kembali bagaimana lembaga pendidikan anak usia dini tersebut lahir dan berkembang.
Di sinilah dokumen lama kemudian menemukan kembali maknanya.
Jejak yang Tersimpan Sejak 2010
Dalam penelusuran tersebut, BP4ABI menemukan sebuah dokumen penting: Surat Dinas Pendidikan Kabupaten Muara Enim Nomor 420/732/II/Pend/2010 tentang Izin Operasional TK, tertanggal 10 Februari 2010.
Surat tersebut ditujukan kepada Pengelola TKIT Babussalam Kecamatan Muara Enim. Dokumen itu merupakan tindak lanjut dari surat permohonan Nomor 21/BP4ABI/I/2010 tanggal 29 Januari 2010 mengenai permohonan izin operasional TKIT Babussalam.
Dokumen tersebut menjadi salah satu jejak administratif penting dalam perjalanan TKIT Babussalam.
Di dalamnya tercantum sejumlah ketentuan penyelenggaraan pendidikan. Di antaranya, penggunaan kurikulum yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional, kewajiban menaati peraturan perundang-undangan, serta ketentuan bahwa penerimaan murid baru dapat dilakukan mulai tahun pelajaran 2010/2011.
Pengelola juga diwajibkan menyampaikan laporan bulanan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Muara Enim melalui Kepala UPTD Kecamatan Muara Enim.
Dengan demikian, tahun 2010 bukan sekadar angka dalam sebuah dokumen. Tahun tersebut menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan TKIT Babussalam Islamic Center.
Dokumen Lama, Cerita yang Masih Hidup
Penelusuran BP4ABI tidak berhenti pada surat izin operasional tersebut.
Ditemukan pula Surat Keterangan BP4ABI Nomor 47/BP4ABI/2013 tentang Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Babussalam Islamic Center Kabupaten Muara Enim.
Surat keterangan yang diterbitkan pada September 2013 itu menerangkan bahwa BP4ABI Kabupaten Muara Enim telah mendirikan TKIT Babussalam Islamic Center mulai tahun ajaran 2010/2011.
Pendirian TK tersebut dimaksudkan untuk menampung anak-anak usia dini yang berasal dari desa-desa di sekitar Islamic Center Muara Enim.
Dokumen itu juga menerangkan bahwa pendirian TKIT Babussalam telah memperoleh izin atau persetujuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Muara Enim melalui surat tertanggal 10 Februari 2010 Nomor 420/732/II/Pend/2010.
Lebih dari itu, surat keterangan tahun 2013 tersebut mencatat bahwa hingga tahun ajaran 2013/2014, keberadaan TKIT Babussalam mendapatkan animo yang cukup baik dari masyarakat, khususnya orang tua atau wali murid.
Dari dokumen tersebut terlihat bahwa keberadaan TKIT Babussalam sejak awal tidak berdiri jauh dari kebutuhan masyarakat. Ada kebutuhan akan pendidikan anak usia dini yang kemudian direspons melalui pendirian lembaga pendidikan di lingkungan Islamic Center.
Pendidikan Anak Usia Dini Bukan Sekadar Ruang Belajar
Di balik dokumen-dokumen kelembagaan tersebut terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana membangun fondasi pendidikan sejak usia dini.
Anak-anak yang datang ke TK bukan sekadar belajar mengenal huruf dan angka. Pada fase inilah mereka mulai mengenal kedisiplinan, kebersamaan, tanggung jawab, sopan santun, serta nilai-nilai yang akan membentuk karakter mereka pada tahap pendidikan berikutnya.
Dalam konteks TKIT Babussalam, pendidikan juga bersentuhan dengan nilai-nilai keislaman.
Karena itu, keberadaan lembaga pendidikan anak usia dini di lingkungan Islamic Center memiliki arti strategis. Ia bukan hanya tempat anak-anak belajar, tetapi juga menjadi salah satu ruang awal untuk memperkenalkan nilai agama, akhlak dan kehidupan sosial kepada generasi muda.
Dari Menemukan Dokumen Menuju Membangun Masa Depan
Bagi Kepala BP4ABI Muara Enim KH Kumyadi, dokumen-dokumen yang ditemukan dalam pertemuan tersebut menjadi bagian penting untuk memperjelas sejarah dan keberadaan TKIT Babussalam Islamic Center.
Namun, menurutnya, penelusuran sejarah tidak semestinya berhenti pada dokumen.
Sejarah justru dapat menjadi pijakan untuk membangun masa depan.
“Ke depan BP4ABI Muara Enim akan membuka ruang sinergi dengan TKIT Babussalam. TKIT Babussalam juga bagian dari tanggung jawab BP4ABI Muara Enim, khususnya dalam bidang pendidikan, pelatihan dan dakwah,” ujar KH Kumyadi.
Pernyataan tersebut membuka ruang baru bagi hubungan kelembagaan BP4ABI dengan TKIT Babussalam.
Sinergi yang dimaksud diharapkan dapat diarahkan pada penguatan pendidikan Islam, pembinaan karakter anak sejak usia dini serta pengembangan berbagai kegiatan pendidikan dan keagamaan di lingkungan Islamic Center.
Bagi dunia pendidikan, sinergi semacam ini penting. Sebab, pendidikan tidak pernah berjalan sendirian. Ia membutuhkan lembaga, guru, orang tua, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan untuk bergerak dalam arah yang sama.
Menyambut Ruang Kolaborasi
Gagasan penguatan sinergi tersebut mendapat sambutan positif dari pengelola TKIT Babussalam Islamic Center.
Pihak pengelola merespons baik dan terbuka terhadap komunikasi, koordinasi maupun kemungkinan kerja sama yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Pertemuan ini akhirnya bukan hanya tentang mencari dokumen lama.
Ia menjadi kesempatan untuk membaca kembali perjalanan sebuah lembaga pendidikan.
Dari sebuah surat izin operasional tahun 2010, muncul kembali cerita tentang sebuah lembaga yang sejak tahun ajaran 2010/2011 hadir untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak usia dini di sekitar Islamic Center Muara Enim.
Dan dari dokumen tahun 2013, terlihat bahwa perjalanan itu telah mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Kini, pada 2026, sejarah tersebut kembali dibicarakan.
Bukan untuk sekadar mengenang masa lalu, tetapi untuk menjadikannya pijakan dalam membangun langkah berikutnya.
Merawat Sejarah, Menyiapkan Masa Depan
Pendidikan yang baik membutuhkan kesinambungan.
Karena itu, memperjelas sejarah dan status sebuah lembaga pendidikan bukan sekadar urusan administrasi. Ia juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan lembaga agar tetap memiliki arah yang jelas.
Kunjungan BP4ABI Muara Enim ke TKIT Babussalam Islamic Center menjadi momentum untuk menata kembali komunikasi kelembagaan sekaligus membuka ruang kolaborasi.
Pada akhirnya, pendidikan anak usia dini adalah tentang masa depan.
Anak-anak yang hari ini belajar mengenal dunia di ruang-ruang TK, kelak akan menjadi bagian dari masyarakat yang menentukan wajah daerah dan bangsa.
Maka, merawat lembaga pendidikannya berarti merawat masa depan.
Dan ketika sejarah, kelembagaan serta semangat kolaborasi dipertemukan, sebuah lembaga pendidikan tidak hanya memiliki masa lalu untuk dikenang, tetapi juga memiliki pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Teks: Tim Media BP4ABI Muara Enim | Editor: Imron Supriyadi












