Beranda Agama Masjid Al Hidayah Dusun VI Talang Kelapa : Maulid Bukan Hanya Ceremoni

Masjid Al Hidayah Dusun VI Talang Kelapa : Maulid Bukan Hanya Ceremoni

8
0
BERBAGI
MAULID NABI - Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag, M.Hum, Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim, sedang menyampaikan materi ceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SDAW di Masjid Al Hidayah, Dusun VI, Talang Kelapa, Karang Raja, Tanjung Enim, (Ahad, 30 Agustus 2026)

MUARA ENIM-TALANG KELAPA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Hidayah, Dusun VI Talang Kelapa, Karang Raja, Tanjung Enim, berlangsung ramai dan khidmat. Puluhan hingga ratusan jamaah dari berbagai latar belakang hadir untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW sekaligus menggali kembali makna kecintaan kepada Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan yang berlangsung Hari Ahad 30 Agustus 20206 itu, mulai pukul 20.00 hingga 21.30 WIB diikuti warga setempat, di antaranya karyawan perusahaan di kawasan Tanjung Enim, petani karet dan sawit, ustadz dan ustazah, pegiat pendidikan, serta jamaah majelis taklim Masjid Al Hidayah.

Sejumlah unsur pemerintahan setempat juga hadir, antara lain Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dusun VI, dan Babinsa setempat. Dari unsur pengurus masjid, kegiatan tersebut diwakili Ustadz Ari Susanto, SE, M.M.

Dalam sambutannya, Ustaz Ari mengajak jamaah tidak menjadikan peringatan Maulid Nabi sekadar agenda tahunan. Menurutnya, peringatan kelahiran Rasulullah SAW harus mampu menghadirkan kesadaran baru bahwa setiap Muslim merupakan umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kewajiban untuk meneladani akhlaknya.

SAMBUTAN – Ustadz Ari Susanto, SE. MM, (berdiri) Mewakili Pengurus Masjid sedng memberi sambutan , dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SDAW di Masjid Al Hidayah, Dusun VI, Talang Kelapa, Karang Raja, Tanjung Enim, (Ahad, 30 Agustus 2026)

“Semoga dari peringatan Maulid Nabi ini kita bisa mengambil hikmah. Kita sadar bahwa kita adalah umat Nabi Muhammad SAW yang berkewajiban meneladani perilaku beliau, baik secara lahir maupun batin,” ujar Ustaz Ari.

Ia juga mengajak jamaah menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai energi untuk memakmurkan masjid. Menurutnya, memenuhi masjid dengan ibadah, pengajian, silaturahmi dan kegiatan positif merupakan salah satu wujud kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Peringatan Maulid Nabi Ini Tidak Bermanfaat”

Suasana ceramah berubah ketika Ustaz Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum., Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba sekaligus Dosen UIN Raden Fatah Palembang, melemparkan sebuah pertanyaan kepada jamaah.

“Kira-kira bermanfaat atau tidak peringatan Maulid Nabi ini?” tanyanya.

“Bermanfaat!” jawab jamaah secara serempak.

Namun, jawaban itu justru disambut dengan pernyataan yang membuat jamaah terdiam.

“Peringatan Maulid Nabi ini tidak bermanfaat…” kata Ustaz Imron.

Sejenak suasana hening.

Ustaz Imron kemudian melanjutkan penjelasannya. Pernyataan tersebut, kata dia, bukan berarti Maulid Nabi tidak memiliki nilai kebaikan. Justru sebaliknya, peringatan Maulid akan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti sebagai seremoni dan tidak melahirkan perubahan perilaku.

“Peringatan Maulid Nabi tidak bermanfaat kalau setelah kita keluar dari masjid ini perilaku kita tidak berubah,” tegasnya.

Menurut Ustaz Imron, setiap tahun umat Islam memperingati berbagai hari besar Islam, mulai dari Maulid Nabi, Isra Mikraj hingga Tahun Baru Islam. Namun, peringatan tersebut akan menjadi rutinitas kosong apabila tidak mampu mengubah akhlak manusia.

“Acara ini jangan hanya kumpul-kumpul, makan-makan, manggut-manggut mendengar ceramah, kemudian pulang. Kalau tidak ada pelajaran untuk perubahan perilaku, ini yang sangat kita sesalkan,” katanya.

Dari sinilah, alumnus Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam (PPMIA) Surakarta tahun 1989 ini mengajak jamaah melihat kembali makna Maulid Nabi secara lebih mendalam.

Mengapa Kita Malas Meneladani Rasulullah?

Ustaz Imron kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan reflektif.

Mengapa kita rajin memperingati Maulid Nabi, tetapi perilaku tidak banyak berubah?

Mengapa kita mengetahui banyak kisah kehidupan Rasulullah, tetapi masih malas meneladaninya?

Mengapa kita mengetahui perintah Allah, tetapi terkadang masih berat menjalankannya?

Jawabannya, kata dia, salah satunya adalah kemalasan manusia untuk benar-benar mengenal Allah dan Rasul-Nya.

“Sejatinya kita selama ini sudah shalat, sudah mengikuti acara Maulid Nabi, Isra Mikraj dan berbagai kegiatan keagamaan. Tetapi hati kita belum tentu hadir. Mengapa? Karena boleh jadi kita belum benar-benar mengenal Allah dan Rasul-Nya,” ujarnya.

Menurutnya, mengenal Allah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang jauh dan abstrak. Manusia justru dapat memulainya dari dirinya sendiri.

Ia mengutip ungkapan yang populer dalam khazanah tasawuf, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”—barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Ungkapan tersebut masyhur dalam literatur keislaman, meskipun tidak berstatus sebagai hadis Nabi yang sahih.

Mengenal Allah dari Hal yang Paling Dekat

Ustaz Imron kemudian mengajak jamaah bertafakur melalui sesuatu yang sangat sederhana dalam kehidupan manusia.

“Coba kita lihat hal yang paling kecil dan dekat dengan kehidupan kita. Setiap hari kita buang air besar dan buang air kecil. Semuanya berjalan lancar. Pernahkah kita setiap hari meminta secara khusus kepada Allah agar proses itu berjalan dengan baik?” tanyanya.

Jamaah menyimak.

Menurut dia, manusia sering kali tidak menyadari bahwa berbagai fungsi tubuh berlangsung secara teratur tanpa diperintah oleh manusia secara sadar.

“Kapan makanan diproses, kapan menjadi kotoran, kapan dikeluarkan. Begitu juga air kecil. Semuanya diatur dengan sangat sempurna. Setelah buang air, kita merasakan lega. Lalu tanyakan kepada diri kita: siapa yang menciptakan rasa lega itu? Siapa yang mengatur semua sistem dalam tubuh kita sehingga kita bisa sehat sampai hari ini?” paparnya.

Bagi Ustadz Imron, pertanyaan sederhana tersebut merupakan pintu untuk tafakur. Manusia diajak berhenti sejenak dari kesibukan dunia, membaca dirinya sendiri, menyadari kelemahannya, kemudian menemukan kebesaran Allah SWT.

Ia mengaitkan perenungan tersebut dengan firman Allah dalam QS At-Tin ayat 4, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

“Semua ini diatur. Maka penting bagi kita duduk diam sebentar, membaca diri kita, bertanya siapa diri kita dan siapa yang menciptakan kita. Dari sana kita belajar mengenal Allah,” katanya.

Kesadaran tersebut, lanjutnya, semestinya melahirkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Allah SWT.

Maulid dan Tugas Menyempurnakan Akhlak

Bagian penting lain dari ceramah Ustaz Imron adalah mengenai akhlak.

Ia mengingatkan jamaah bahwa Rasulullah SAW diutus bukan hanya untuk mengajarkan ritual ibadah, tetapi juga membangun manusia yang memiliki akhlak mulia.

Hal ini sejalan dengan hadis yang sangat masyhur:  Innama Buitstu li utammimaa-makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak) (HR Ahmad dan sejumlah jalur periwayatan lainnya)

Menurut Ustadz Imron, istilah akhlak, moral, etika dan adab memiliki nuansa makna yang berbeda. Akhlak, khususnya dalam perspektif Islam, tidak berhenti pada penampilan lahiriah, tetapi berkaitan dengan keadaan batin yang kemudian tercermin dalam perilaku.

“Kalau menyempurnakan, berarti akhlak kita memang belum sempurna,” katanya.

Ia kemudian mengajak jamaah melakukan pemeriksaan terhadap diri sendiri.

Apakah hati kita masih menyimpan iri?

Apakah masih ada dengki?

Apakah masih mudah berprasangka buruk?

Apakah masih ada rasa ujub?

Apakah kesombongan masih bersemayam dalam diri?

Menurutnya, semua itu merupakan bagian dari pekerjaan besar seorang Muslim untuk memperbaiki akhlak.

“Akhlak itu ada di dalam hati, ada dalam lisan dan kemudian terwujud dalam perilaku. Inilah yang diajarkan Rasulullah SAW. Kita menyempurnakan akhlak, tutur kata, hati dan perilaku agar kita benar-benar menjadi umat Nabi Muhammad SAW, bukan hanya mengaku sebagai umat beliau, tetapi perilakuknya masih jauh dari ketauladanan Rasulullah SAW,” tegasnya.

Adab Tidak Boleh Kalah oleh Ilmu

Ustaz Imron juga mengingatkan jamaah tentang ungkapan yang sangat dikenal dalam tradisi pendidikan Islam:

“Al-adabu fauqal ‘ilmi” — adab berada di atas ilmu.

Menurutnya, banyaknya ilmu pengetahuan tidak otomatis membuat seseorang memiliki akhlak yang baik.

Seseorang bisa berpendidikan tinggi, memahami banyak teori, memiliki jabatan dan kemampuan profesional, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan ia mampu menghormati tetangga, menjaga lingkungan, menghargai orang lain dan mensyukuri nikmat Allah.

Karena itu, pendidikan dalam Islam tidak semata-mata menghasilkan manusia yang berilmu, tetapi juga manusia yang beradab.

“Ilmu yang banyak bukan jaminan seseorang akan beradab kepada orang tua, kepada tetangga, kepada alam sekitar dan terhadap semua kenikmatan yang diberikan Allah,” katanya.

Pesan tersebut terasa relevan bagi jamaah yang sehari-hari menjalani kehidupan dengan profesi yang beragam—sebagai karyawan, petani, pengelola rumah tangga maupun pelaku aktivitas sosial kemasyarakatan.

Sebab, menurut Ustadz Imron, keteladanan Rasulullah SAW harus hadir dalam semua ruang kehidupan, bukan hanya ketika seseorang berada di masjid.

Maulid Harus Pulang Bersama Perubahan

Menjelang akhir ceramah, Ustaz Imron kembali mengajak jamaah melihat Maulid Nabi sebagai sebuah cermin.

Peringatan Maulid bukan tentang seberapa meriah acara dilaksanakan. Bukan pula sekadar tentang banyaknya makanan yang disediakan atau berapa lama jamaah duduk mendengarkan ceramah.

Yang paling penting adalah apa yang dibawa pulang oleh hati dan perilaku jamaah setelah meninggalkan masjid.

Jika seorang suami pulang kemudian menjadi suami yang lebih baik, jika seorang istri menjadi lebih lembut dan bertanggung jawab, jika seorang karyawan bekerja lebih jujur dan amanah, jika seorang petani semakin menjaga tanah dan lingkungan, jika seorang tetangga semakin peduli kepada tetangganya, maka di situlah Maulid menemukan maknanya.

Rasulullah SAW menjadi teladan dalam seluruh kehidupan: sebagai kepala keluarga, sebagai tetangga, sebagai pemimpin, sebagai anggota masyarakat dan sebagai hamba Allah SWT.

Karena itu, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak ungkapan cinta dan shalawat di lisan. Cinta harus menemukan bentuknya dalam ketaatan dan keteladanan.

Pulang Membawa Pesan

Ceramah berakhir sekitar pukul 21.20 WIB, ditutup dengan doa. Jamaah kemudian menikmati makanan dan makanan ringan yang telah disediakan secara sederhana oleh panitia dan warga.

Sekitar pukul 21.30 WIB, satu per satu jamaah mulai meninggalkan Masjid Al Hidayah.

Malam itu, mereka pulang membawa sesuatu yang lebih penting daripada sekadar makanan: sebuah pertanyaan tentang diri sendiri.

Sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah?

Sudahkah kecintaan itu mengubah cara kita berbicara?

Sudahkah ia mengubah cara kita memperlakukan pasangan, anak, tetangga dan sesama?

Sudahkah ia mengubah cara kita bekerja?

Dan yang paling mendasar: sudahkah kita menjadi umat Muhammad SAW dalam akhlak, bukan hanya dalam pengakuan?

Peringatan Maulid Nabi di Dusun VI Talang Kelapa Karang Raja akhirnya tidak berhenti pada malam 20.00–21.15 WIB itu. Ia justru baru dimulai ketika jamaah pulang ke rumah masing-masing dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah Maulid bukan berapa banyak orang yang hadir di masjid, melainkan berapa banyak hati yang berubah setelah keluar dari masjid.

BACA ARTIKEL TERKAIT : Antara Shalawat dan Cinta yang Berkhianat

Dan di situlah cinta kepada Rasulullah SAW menemukan makna yang sesungguhnya: dikenang dengan lisan, dihidupkan dalam hati, lalu dibuktikan melalui akhlak dalam kehidupan sehari-hari.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here