

MUARA ENIM, Inspirasinews.com — Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) Pondok Pesantren (PP) Laa Roiba Muara Enim kembali akan menggelar Safari Subuh ke-8 di Masjid Baiturrahman, Rumah Tumbuh, Muara Enim, Jumat (9/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Safari Subuh GEMMA selama September-Oktober 2026 yang membawa santri PP Laa Roiba untuk belajar dan berlatih secara langsung di masjid-masjid yang berada di luar lingkungan pesantren.
Dalam Safari Subuh kali ini, sejumlah santri yang telah mendapatkan pembinaan akan mendapat tugas dalam pelaksanaan kegiatan.
Arsa akan bertugas mengumandangkan azan dan iqamah, Mohammad Aan sebagai pembawa acara (MC), sedangkan Ustadz Aril Pratama atau Ustadz Arvhey Zaid akan bertugas sebagai imam salat Subuh sekaligus melaksanakan sujud tilawah pada rakaat pertama.
Sementara itu, Kaiz Saputra akan menyampaikan kultum setelah salat Subuh. Dokumentasi kegiatan akan ditangani Ustadz Zami.
Para santri tersebut akan didampingi KH Taufik Hidayat dan Ustadz Robby Musthopa, S.Pd.I., serta Koordinator Tim GEMMA, Imron Supriyadi, S.Ag., M.Hum.
Masjid sebagai Ruang Latihan Santri
Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., mengatakan Safari Subuh merupakan bagian dari proses pendidikan santri agar mereka tidak hanya memahami ilmu agama secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman ketika harus mengamalkannya di tengah masyarakat.
Menurut Ustadz Taufik, santri perlu dikenalkan dengan kehidupan masjid di luar lingkungan pesantren sejak masih menjalani pendidikan.
Dengan demikian, ketika mereka menyelesaikan pendidikan dan kembali ke masyarakat, mereka tidak mengalami culture shock atau kegamangan ketika harus menjalankan peran keagamaan.
“Sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka tidak mengalami kegamangan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru,” tegasnya.
Lebih lanjut, melalui GEMMA, santri akan terlatih untuk lebih dekat dengan masjid yang berada di luar lingkungan pondok.
“Mereka belajar langsung bagaimana berinteraksi dengan jamaah dan bagaimana menjalankan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat,” ujar tambah Ustadz Taufik.
Ia menjelaskan, kemampuan mengamalkan ilmu agama juga membutuhkan latihan. Tanpa pengalaman praktik, ilmu yang dimiliki seseorang belum tentu dapat diterapkan secara maksimal ketika berhadapan dengan situasi nyata di masyarakat.
Terlebih, kata Ustadz Taufik, banyak lulusan pesantren yang nantinya akan terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan di masjid dan musala, mulai dari menjadi imam, muazin, menyampaikan kultum, memimpin doa, hingga membantu mengelola berbagai kegiatan keislaman.
“Karena itu, jangan sampai santri baru belajar ketika sudah berada di masyarakat. Latihan harus dimulai sejak masih di pesantren. Mereka harus terbiasa tampil, terbiasa berkomunikasi dengan jamaah, dan terbiasa mengambil bagian dalam kegiatan masjid,” katanya.
Belajar Mengabdi Sejak di Pesantren
Safari Subuh juga menjadi sarana bagi GEMMA untuk membangun kedisiplinan santri. Mereka dibiasakan bangun lebih awal, mempersiapkan diri, kemudian datang ke masjid dan menjalankan tugas yang telah diberikan.
Setiap santri mendapatkan kesempatan untuk mengambil peran sesuai kemampuan dan hasil pembinaan.
Dengan pola tersebut, mereka tidak hanya belajar menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.
GEMMA berharap pengalaman tersebut menjadi bekal ketika para santri telah menyelesaikan pendidikan di PP Laa Roiba dan kembali ke daerah masing-masing.
Sementara Koordinator PrograM GEMMA PP Laa Roiba, Safari Subuh ke-8 di Masjid Baiturrahman Rumah Tumbuh sekaligus melanjutkan semangat GEMMA untuk mempertemukan pesantren, masjid, dan masyarakat dalam satu ruang pembelajaran dan pengabdian.
BACA ARTIKEL LAINNYA : GEMMA Laa Roiba “Menggugat Negara” di Masjid Al Muhajirin
“Melalui program tersebut, GEMMA PP Laa Roiba membawa semangat, dari Pesantren ke Masjid, dari Masjid ke Masyarakat,” tegasnya.**
Teks/Foto : Tim GEMMA PP Laa Roiba









