MUARA ENIM — Langit masih gelap ketika langkah para santri Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim menuju Masjid Al Fatih, Lubuk Ampelas, Muara Enim.
Pada Jumat (2/10/2026), suasana Subuh di masjid itu terasa berbeda. Para santri datang bersama ustadz pendamping untuk mengikuti Safari Subuh yang digelar Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMA) PP Laa Roiba.
Jamaah Masjid Al Fatih, anggota majelis taklim, para santri, dan ustadz pendamping mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai. Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., juga hadir dalam kegiatan tersebut. Turut serta Usatdz Robi Mustofa, S.Pd.I, dan Koordinator GEMMA PP Laa Roiba, Ustadz Imron Supriyadi, S.Ag, M.Hum.
Ustadz Taufik menjelaskan, Safari Subuh bukan sekadar memindahkan tempat salat santri dari pesantren ke masjid. Di tempat inilah mereka belajar tampil di hadapan masyarakat.
“Ada yang bertugas mengumandangkan azan dan iqamah, menjadi imam, memandu acara, menyampaikan kultum, memimpin doa, hingga membantu memastikan kegiatan berjalan tertib,” ujar Ustadz Taufik.

Bagi GEMMA, menurut Ustadz Taufik, masjid menjadi ruang belajar yang sesungguhnya.
“Santri tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan agama, tetapi juga memiliki keberanian dan keterampilan ketika harus berhadapan langsung dengan masyarakat,” tegas Ustadz Taufik.
Kehadiran para santri mendapat respons positif dari pengurus Masjid Al Fatih. Ustadz Ardisyah, yang mewakili Ketua Pengurus Masjid Al Fatih, menyambut baik pelaksanaan Safari Subuh tersebut.
Menurut Ardisyah, kehadiran santri memberikan suasana tersendiri bagi jamaah. Masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal kehidupan masyarakat secara langsung.
Ia mengapresiasi keterlibatan para santri dalam berbagai tugas selama kegiatan. Menurutnya, pengalaman seperti itu penting untuk membangun keberanian, kedisiplinan, serta kemampuan santri dalam menjalankan peran keagamaan ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.
“Kami menyambut baik kegiatan Safari Subuh ini. Kehadiran para santri memberikan semangat tersendiri bagi jamaah dan menjadi pembelajaran langsung bagi santri untuk berinteraksi dengan masyarakat,” ujar Ardisyah.
Masjid sebagai Ruang Praktik Santri
Dalam sejumlah Safari Subuh, Ustadz Taufik Hidayat menjelaskan bahwa masjid merupakan salah satu ruang praktik bagi santri. Ia mengibaratkan pendidikan santri dengan sekolah kejuruan dan pendidikan kedokteran.
Siswa sekolah kejuruan membutuhkan tempat praktik untuk mengasah keterampilannya. Mahasiswa kedokteran membutuhkan rumah sakit untuk menerapkan ilmu yang dipelajari.
“Demikian pula santri, membutuhkan masjid sebagai ruang untuk mempraktikkan kemampuan dakwah dan pelayanan kepada masyarakat,” tegas Ustadz Taufik di sejumahSafari Subuh sebelumnya.
Karena itu, santri Laa Roiba secara bergiliran diberi tanggung jawab dalam Safari Subuh. Mereka belajar menjadi imam, muazin, pembawa acara, menyampaikan kultum, memimpin doa, sekaligus belajar berkomunikasi dengan jamaah.
Proses tersebut diharapkan membentuk kebiasaan. Ketika suatu saat mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren dan kembali ke kampung halaman, kemampuan untuk tampil dan berkhidmat di masjid tidak lagi menjadi sesuatu yang asing.
Melatih Disiplin dari Waktu Subuh
Pemilihan waktu Subuh juga bukan tanpa alasan. Bagi santri, mengikuti Safari Subuh berarti harus membangun kedisiplinan sejak sebelum fajar.
“Mereka harus bangun lebih awal, mempersiapkan diri, kemudian berangkat menuju masjid. Tantangannya bukan hanya rasa kantuk, tetapi juga udara dingin, jarak perjalanan, dan keharusan meninggalkan tempat tidur ketika sebagian orang masih terlelap,” tegas Ustadz Taufik.
Dari kebiasaan itulah GEMMA ingin membangun karakter. Salat Subuh berjamaah tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai latihan kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Setelah rangkaian ibadah dan kegiatan selesai, para santri juga dibiasakan memperhatikan kebersihan masjid. Bekas makanan, gelas, dan kemasan yang digunakan selama kegiatan dirapikan dan dibuang pada tempatnya.
Hal-hal sederhana tersebut menjadi bagian dari pendidikan adab. Sebab bagi GEMMA, memakmurkan masjid bukan hanya dengan memperbanyak jamaah, tetapi juga dengan menjaga kenyamanan, kebersihan, dan suasana masjid.
Safari Subuh di Masjid Al Fatih menjadi salah satu mata rantai perjalanan GEMMA PP Laa Roiba dalam membawa santri lebih dekat dengan masyarakat. Semangat yang dibawa sederhana: “Dari Pesantren ke Masjid, dari Masjid ke Masyarakat.”
Di sana, Subuh bukan sekadar pergantian malam menuju pagi. Ia menjadi waktu ketika santri belajar bangun, datang, tampil, melayani, dan akhirnya memahami bahwa ilmu yang mereka pelajari di pesantren akan menemukan maknanya ketika mampu memberi manfaat di tengah masyarakat.**
Teks/Foto : Tim GEMMA










