Beranda Opini Kemerdekaan yang Belum Selesai

Kemerdekaan yang Belum Selesai

49
0
BERBAGI
Tiga santri sedang mengibarkan bendera pada Upacara HUT ke-81 RI di PP Laa Roiba, 17 Agustus 2026 (foto.dok.pp laa roiba/aril)

Belajar Merdeka dari Pesantren: Jujur, Istiqamah, dan Menjadi Manusia Baik

KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom, Pendiri dan Pimpinan Ponpes Laa Roiba Muara Enim

Ada kemerdekaan yang dirayakan dengan mengibarkan bendera. Ada pula kemerdekaan yang harus dirawat di dalam dada.

Setiap bulan Agustus kita mengingat tanggal 17 Agustus 1945. Bendera Merah Putih dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan kita mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa. Tetapi saya sering bertanya kepada diri sendiri: setelah 81 tahun merdeka, apakah kita sudah benar-benar memahami arti kemerdekaan?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika saya berdiri di tengah para santri, ustadz dan ustadzah Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di hadapan mereka saya mengatakan: kemerdekaan jangan hanya diperingati. Kemerdekaan harus dijadikan pijakan untuk melanjutkan perjuangan.

Para pejuang dahulu berjuang dengan senjata, bambu runcing, diplomasi, air mata dan pengorbanan. Kita sekarang tidak lagi berhadapan dengan penjajah bersenjata. Tetapi kita menghadapi penjajahan dalam bentuk yang lebih halus: kebodohan, ketidakjujuran, keserakahan, kemalasan, egoisme, intoleransi dan hilangnya keteladanan.

Karena itu, perjuangan kita berubah bentuk.

Merdeka dari Apa?

Rasulullah SAW pernah mengajarkan kepada para sahabat bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, keturunan atau kedudukan.

Al-Qur’an kemudian menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini menarik untuk kita renungkan dalam suasana kemerdekaan.

Kemerdekaan bukanlah izin untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kemerdekaan justru membebaskan manusia dari kesombongan.

Ada kisah yang sangat indah pada masa Rasulullah SAW. Pada saat Fathu Makkah, Nabi meminta Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Bilal bukan bangsawan Quraisy. Ia pernah menjadi budak. Kulitnya hitam. Tetapi hari itu ia berdiri di tempat yang sangat mulia: di atas Ka’bah, mengumandangkan panggilan kepada manusia untuk menghadap Allah.

Sebagian orang Quraisy merasa terusik. Bagaimana mungkin seorang bekas budak berdiri di atas Ka’bah?

Tetapi justru di situlah Islam menunjukkan revolusinya.

Islam tidak bertanya: siapa ayahmu? Dari suku mana engkau? Berapa hartamu? Apa warna kulitmu?

Islam bertanya: seberapa bertakwa engkau?

Para mufasir mengaitkan pesan QS Al-Hujurat ayat 13 dengan pembongkaran kebanggaan jahiliah terhadap nasab, kekayaan dan status sosial. Tafsir Al-Qurthubi juga mencatat riwayat tentang Bilal dan peristiwa Fathu Makkah dalam konteks pesan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah nasab, melainkan ketakwaan.

Bukankah ini juga sebuah pelajaran tentang kemerdekaan?

Kita merdeka ketika manusia tidak lagi diperbudak oleh kesombongan dirinya sendiri.

Pesantren dan Kemerdekaan

Di sinilah saya melihat pesantren mempunyai tugas yang sangat besar.

Pesantren bukan hanya tempat santri belajar membaca kitab, Al-Qur’an, hadis atau ilmu pengetahuan. Pesantren adalah tempat manusia belajar menjadi manusia.

Seorang santri boleh memiliki ilmu tinggi. Tetapi jika ilmunya tidak membuat ia jujur, apa artinya?

Seorang santri boleh pandai berbicara tentang akhlak. Tetapi jika ia tidak menghormati orang tua, guru dan sesamanya, apa yang tinggal dari ilmu itu?

Seorang ustadz boleh mengajarkan keikhlasan. Tetapi jika ia sendiri mengajar dengan penuh pamrih, pesan apa yang akan ditangkap santri?

Pendidikan yang paling kuat bukanlah apa yang kita katakan kepada santri. Pendidikan yang paling kuat adalah apa yang mereka lihat dari kehidupan gurunya.

Karena itu, pada peringatan HUT ke-81 RI di PP Laa Roiba, saya mengajak seluruh santri, ustadz dan ustadzah untuk belajar dari para pejuang: komitmen, istiqamah dan ikhlas tanpa pamrih.

Para pejuang tidak pernah bertanya, “Apa yang saya dapat?”

Mereka bertanya, “Apa yang dapat saya berikan kepada bangsa?”

Pertanyaan itulah yang harus diwariskan kepada santri.

Tujuh Nilai untuk Mengisi Kemerdekaan

Dalam konteks pendidikan karakter, saya kira kita dapat melakukan refleksi melalui tujuh nilai dasar ESQ: jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerja sama, adil dan peduli. Ketujuh nilai ini memang menjadi bagian dari 7 Budi Utama dalam ESQ.

Pertama, jujur. Bangsa yang merdeka tidak boleh dibangun dengan kebohongan. Santri harus belajar bahwa kejujuran tetap bernilai meskipun tidak ada yang melihat.

Kedua, tanggung jawab. Kemerdekaan bukan kebebasan untuk berbuat sesuka hati. Merdeka berarti mampu mempertanggungjawabkan pilihan.

Ketiga, visioner. Para pahlawan berjuang untuk masa depan yang mungkin tidak sempat mereka nikmati. Santri pun harus belajar menanam hari ini untuk memanen masa depan.

Keempat, disiplin. Kemerdekaan tanpa disiplin hanya melahirkan kekacauan. Bangsa besar membutuhkan manusia yang mampu mengendalikan dirinya.

Kelima, kerja sama. Kemerdekaan Indonesia bukan hasil perjuangan seorang manusia. Ia lahir dari persatuan. Pesantren juga tidak akan maju jika santri, guru, pengasuh, orang tua dan masyarakat berjalan sendiri-sendiri.

Keenam, adil. Jangan sampai kita meminta keadilan ketika dirugikan, tetapi lupa berlaku adil ketika memiliki kekuasaan. Santri harus belajar bahwa keadilan dimulai dari dirinya sendiri.

Ketujuh, peduli. Ilmu yang tidak melahirkan kepedulian akan menjadi ilmu yang dingin. Santri harus hadir untuk masyarakat, bukan menjauh dari masyarakat.

Ketujuh nilai itu bukan sekadar daftar yang ditempel di dinding. Ia harus menjadi kebiasaan. Bahkan menjadi karakter.

Merdeka Bukan Berarti Bebas dari Aturan

Ada satu hal yang sering kita salah pahami.

Kemerdekaan bukan berarti bebas dari aturan.

Justru manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu mengendalikan kebebasannya.

Karena itu, kemerdekaan harus berjalan bersama Pancasila dan konstitusi, termasuk UUD 1945. Jangan sampai nilai kemerdekaan justru dinodai oleh ketidakjujuran, pengingkaran terhadap hukum, penyalahgunaan kebebasan dan hilangnya rasa tanggung jawab.

Di pesantren, hal ini harus dimulai dari hal-hal sederhana.

Santri belajar datang tepat waktu.
Belajar menghormati guru.
Belajar antre.
Belajar menjaga kebersihan.
Belajar mengembalikan barang yang bukan miliknya.
Belajar meminta maaf.
Belajar mengakui kesalahan.

Kelihatannya sederhana.

Tetapi dari hal-hal sederhana itulah karakter sebuah bangsa dibangun.

Mungkin bangsa tidak akan berubah hanya karena satu pidato kemerdekaan. Tetapi bangsa dapat berubah ketika jutaan anak mudanya belajar jujur ketika tidak diawasi, disiplin ketika tidak diperintah, bertanggung jawab ketika diberi amanah, adil ketika memiliki kekuasaan dan peduli ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Maka, ketika Merah Putih dikibarkan di halaman PP Laa Roiba, saya berharap para santri tidak hanya melihat selembar kain berwarna merah dan putih.

Lihatlah di dalamnya darah dan kesucian perjuangan.

Merah adalah keberanian untuk berjuang.

Putih adalah ketulusan untuk mengabdi.

Dan di antara keduanya ada pesan sederhana: jadilah manusia baik.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang gedungnya tinggi, ekonominya kuat atau teknologinya maju.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melahirkan manusia-manusia baik.

Manusia yang berilmu tetapi rendah hati.
Berkuasa tetapi tidak zalim.
Kaya tetapi peduli.
Pandai tetapi jujur.
Bebas tetapi bertanggung jawab.

Dari pesantren, perjuangan itu kita mulai.

Kemerdekaan telah diberikan oleh para pahlawan. Kini tugas kita adalah memberi makna kepada kemerdekaan itu melalui akhlak, ilmu, integritas dan pengabdian.

BACA BERITA TERKAIT : HUT ke-81 RI di Pesantren Laa Roiba : Kemerdekaan Harus Jadi Teladan, Bukan Sekadar Perayaan

Sebab mungkin saja para pahlawan telah selesai dengan perjuangannya.

Tetapi perjuangan kita belum selesai.

Dan mungkin, kemerdekaan yang paling sulit bukanlah membebaskan negeri dari penjajahan.

Kemerdekaan yang paling sulit adalah membebaskan diri dari keburukan yang ada di dalam diri sendiri.**

Pojok Laa Roiba, 17 Agustus 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here