Beranda Opini Teologi Memancing

Teologi Memancing

53
0
BERBAGI
Ilustrasi Orang sedang memancing : AI
Oleh: Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim

Ada orang pergi memancing membawa joran, kail, umpan, ember, tikar, kopi, rokok, bahkan kadang membawa masalah rumah tangga. Yang tidak dibawa cuma satu: kepastian bahwa ikan akan memakan umpannya.

Itulah sebabnya memancing sesungguhnya bukan sekadar pekerjaan menangkap ikan. Ia adalah sekolah kecil tentang tauhid.

Orang yang belum memahami tauhid biasanya mengira bahwa hidup ini seperti transaksi, lalu berkata :

saya sudah berusaha, maka Tuhan wajib memberikan hasil sesuai permintaan saya. Saya sudah bekerja keras, maka rezeki harus datang. Saya sudah berdoa, maka keinginan harus dikabulkan. Saya sudah menjadi orang baik, maka kehidupan tidak boleh menyusahkan saya.

Kita ini selalu melihat hidup dengan kacamata hukum kausalitas (sebab-akibat). Jaqdinya kita sering neranggapan;

Kalau saya sudah sudah melakukan A harus ada hasilnya : B. Kalau ada calon legislatif atau calon kepala daerah sudah membagi-bagikan uang dan sembako, kemudian yang sudah berkurban seolah sedang mewajibkan Allah untuk mendudukkannya di kursi parlemen atau kepala daerah. Faktanya tidak selalu begitu.

Kok bisa begitu? Ya memang tidak harus begitu!. Memang Allah bisa dipaksa? Allah memiliki sifat Iradah. Allah itu Al-Murid (Maha Berkehendak), sementara manusia hanya bisa berihtiar.

Nah, memancing itu membongkar kesombongan manusia semacam itu, dengan cara yang sederhana.

Saat memancing, kita hanya bisa melemparkan kail. Ikan yang memutuskan untuk memakannya. Dan keputusan ikan itu berada di luar kekuasaan kita.

Mengajarkan Kesabaran

Coba perhatikan orang memancing. Lima menit tidak ada ikan, ia masih tersenyum. Setengah jam tidak ada ikan, ia mulai memandang air dengan penuh curiga. Satu jam tidak ada ikan, ia mulai menyalahkan umpan. Dua jam tidak ada ikan, ia mulai menyalahkan kolam. Tiga jam tidak ada ikan, ia mulai menyalahkan cuaca.

Dan kalau sampai sore tetap tidak mendapatkan ikan, kadang yang disalahkan justru istrinya karena tadi pagi lupa mendoakan. Padahal ikan tidak pernah berjanji akan datang.

Di sinilah manusia perlu belajar dari As-Shabur, salah satu nama Allah yang bermakna Maha Sabar. Kesabaran bukan berarti pasif, bukan pula berarti menyerah. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada dalam kebaikan ketika hasil belum datang. Dalam kehidupan, persoalannya sama.

Ekonomi sedang sulit : sabar. Rumah tangga sedang diuji : sabar. Anak belum sesuai harapan : sabar. Usaha belum berkembang : sabar. Bergaul dengan manusia yang menyebalkan : juga sabar.

Sebab sering kali, persoalan terbesar kita bukan pada masalahnya, melainkan ketidakmampuan kita bersabar menghadapi masalah. Akibatnya kita sering berfokus pada masalah, mengurai untuk mencari jalan keluar dari masalah.

Orang yang tidak sabar mudah marah. Orang yang mudah marah gampang merusak. Dan orang yang gampang merusak sering baru menyesal setelah semuanya rusak. Memancing mengajarkan:  tidak setiap tarikan air harus dibalas dengan tarikan emosi.

Konsisten.

Allah tidak mengajarkan keberhasilan kepada orang yang mudah berhenti. Dan memancing membutuhkan konsistensi.

Hari ini mencoba, gagal. Besok mencoba lagi. Lusa mencoba lagi. Ganti umpan. Ganti tempat. Perbaiki teknik. Belajar dari pengalaman.

Dalam bahasa tasawuf, manusia tidak cukup hanya memiliki semangat sesaat. Ia membutuhkan istiqamah.

Allah memiliki nama Al-Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri) dan terus-menerus menegakkan serta memelihara segala sesuatu.

Ada pula Al-Matin (Yang Maha Kokoh). Nilai yang dapat kita refleksikan dari nama-nama itu : keteguhan, keberlangsungan, dan kekokohan.

Orang sering ingin sukses dengan semangat tiga hari. Hari pertama rajin.

Hari kedua antusias. Hari ketiga mulai sibuk. Hari keempat hilang. Begitu pula dalam ibadah.

Ramadan rajin membaca Al-Qur’an. Setelah Ramadan, mushaf kembali berdebu. Malam Jumat membaca Yasin. Hari-hari lain membaca pesan WhatsApp jauh lebih banyak daripada membaca Al-Qur’an.

Memancing mengajarkan, keberhasilan tidak selalu datang kepada orang yang paling pintar, tetapi sering kali kepada orang yang paling lama bertahan dalam ikhtiar yang benar.

Memerlukan Pengorbanan

Orang memancing mengorbankan waktu. Mengorbankan tenaga. Mengeluarkan biaya.

Membeli joran, kail, umpan, bensin, bahkan kadang menyewa tempat. Dan semuanya belum tentu menghasilkan ikan.

Dalam kehidupan, manusia juga demikian. Tidak ada keberhasilan yang benar-benar gratis. Membangun keluarga membutuhkan pengorbanan. Mendidik anak membutuhkan waktu. Membangun pesantren membutuhkan tenaga, pikiran dan biaya. Membangun masyarakat membutuhkan pikiran.  Membangun bangsa membutuhkan kesediaan untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang saya dapat?”, tetapi juga, “Apa yang bisa saya berikan?”

Dalam Islam, Allah adalah Al-Wahhab, Maha Pemberi Karunia; Al-Karim, Maha Pemurah; dan Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki.

Kita jangan menggunakan istilah “Allah berkorban” dalam pengertian manusiawi. Allah tidak membutuhkan pengorbanan. Justru manusialah yang menerima karunia-Nya dan kemudian belajar mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan ego untuk kebaikan.

Karena itu, ukuran kemajuan suatu bangsa bukan hanya berapa banyak orang yang ingin mendapatkan sesuatu, tetapi berapa banyak orang yang bersedia memberikan sesuatu.

Bangsa yang seluruh warganya hanya ingin menjadi penerima akan menjadi bangsa yang mudah berebut. Tetapi bangsa yang memiliki budaya memberi akan memiliki peradaban.

Istiqamah

Awalnya memancing membutuhkan kesengajaan. Lama-lama menjadi kebiasaan. Demikian juga ibadah. Orang yang belum terbiasa bangun Subuh mungkin merasa berat.

Maka ia harus melatih dirinya. Bangun, walaupun berat. Salat, walaupun belum terasa nikmat. Membaca Al-Qur’an, walaupun awalnya hanya beberapa ayat.

Karena dalam pendidikan jiwa, istiqamah sering kali mendahului kenikmatan. Kita jangan menunggu ikhlas untuk berbuat baik. Berbuat baiklah terus-menerus sampai hati belajar ikhlas.

Jangan menunggu rajin beribadah. Beribadahlah terus sampai kerajinan itu menjadi karakter. Jangan menunggu menjadi manusia baik. Latihlah kebaikan setiap hari sampai kebaikan itu menjadi habit.

Tasawuf sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang pengalaman spiritual yang tinggi. Ia juga berbicara tentang bagaimana manusia mendidik dirinya sendiri agar keburukan berkurang dan kebaikan menjadi watak.

Fokus dan Kesendirian

Ada saat tertentu ketika seorang pemancing hanya berhadapan dengan dirinya sendiri. Air. Joran. Angin. Dan pikiran. Tidak ada rapat. Tidak ada komentar media sosial. Tidak ada orang yang harus disenangkan.

Di situlah memancing dapat menjadi bentuk tafakur. Kesendirian tidak selalu berarti kesepian.

Kadang manusia justru membutuhkan kesendirian untuk bertemu dengan dirinya sendiri. Mengapa saya marah? Mengapa saya iri? Mengapa saya mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak saya perlukan? Mengapa saya merasa gagal hanya karena orang lain lebih sukses?

Dalam kesunyian, manusia dapat melakukan koreksi terhadap dirinya. Tasawuf mengenal tradisi muhasabah: menghitung dan mengevaluasi diri. Jadi, kalau kail tidak kunjung dimakan ikan, mungkin bukan hanya umpan yang perlu diperiksa. Barangkali diri kita juga perlu diperiksa.

Allah Menentukan Ikan

Inilah pelajaran tauhid yang paling dalam. Tugas manusia adalah ikhtiar. Kita memilih tempat. Memasang umpan. Melempar kail. Menunggu. Memperbaiki teknik.

Namun kita tidak memiliki kekuasaan untuk memerintahkan ikan:

“Hai ikan, sekarang makanlah umpanku!”

Ikan tidak berada di bawah perintah kita. Ia berada di bawah ketetapan Allah. Di sinilah memancing melakukan semacam sublimasi batin: perlahan-lahan manusia disadarkan, tidak semua hal dapat dikendalikan oleh dirinya.

Kita bisa bekerja keras, tetapi tidak bisa memaksa hasil.  Kita bisa berdagang, tetapi tidak bisa memaksa pembeli datang.  Kita bisa menanam, tetapi tidak bisa memerintahkan hujan turun tepat ketika kita mau. Kita bisa berdoa, tetapi tidak bisa mendikte Allah mengenai bentuk jawaban-Nya.

Inilah wilayah tauhid. Manusia berikhtiar sekuat tenaga, tetapi tidak menyembah hasil. Sebab ketika manusia mulai menyembah hasil, ia akan mudah kecewa kepada Tuhan. 

Ikan pun Mengajari Kita Takdir

Bayangkan seekor ikan berenang di dalam air.  Ia tidak tahu bahwa beberapa meter di atasnya ada seorang manusia sedang menunggu. Ia tidak tahu ada umpan. Ia tidak tahu ada kail. Ia juga tidak tahu bahwa seorang pemancing sudah menunggu tiga jam.

Ketika ikan itu bergerak dan akhirnya memakan umpan, pemancing merasa berhasil. Padahal bahkan gerakan ikan itu bukan sepenuhnya berada dalam kendalinya. Maka pertanyaannya menjadi sederhana:

Kalau ikan saja tidak bisa kita paksa untuk memakan umpan, mengapa kita merasa bisa memaksa Allah memenuhi seluruh keinginan kita?

Kita hanya manusia. Kita membentangkan joran. Allah menentukan ikan. Kita menanam. Allah menumbuhkan. Kita bekerja. Allah membuka jalan rezeki. Kita berdoa. Allah menentukan bagaimana doa itu dijawab.

Di sinilah orang yang benar-benar memahami tauhid tidak menjadi malas. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat rajin berikhtiar, tetapi tidak sombong terhadap hasil.

Ia bekerja keras tanpa menyembah kerja. Ia mencari rezeki tanpa menyembah uang. Ia mengejar keberhasilan tanpa kehilangan Tuhan. Ia gagal tanpa kehilangan harapan. Dan ia berhasil tanpa kehilangan kerendahan hati. Sebab ia tahu: joran itu milik kita, tetapi ikan bukan milik kita.

Barangkali itulah teologi memancing. Kita belajar sabar dari As-Shabur, belajar kokoh dari Al-Matin, belajar istiqamah dalam semangat Al-Qayyum, belajar menerima karunia dari Al-Wahhab, dan belajar bahwa rezeki berada dalam ketetapan Ar-Razzaq.

Maka, kalau suatu hari kita duduk di tepi kolam dan ikan tidak kunjung menyambar umpan, jangan buru-buru marah. Tarik napas. Periksa kail. Periksa umpan. Periksa teknik. Periksa kesabaran. Dan, kalau perlu, periksa hati.

Sebab mungkin Allah tidak sedang mengajari kita cara mendapatkan ikan. Mungkin Allah sedang mengajari kita : cara menjadi manusia.

Dan kalau ikan saja tunduk kepada hukum-hukum Allah tanpa pernah menggelar demonstrasi menuntut Tuhan mengubah takdirnya, maka pertanyaan terakhir untuk kita sebenarnya cukup sederhana: Ikan saja patuh kepada Allah. Bagaimana dengan kita? **

Pojok Dapur Masjid Nurul Yaqin, Talang Keramat Banyuasin, 15 Agustus 2026

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here