Beranda Seni Cerita Isteriku di Suatu Pagi – Puisi Imron Supriyadi

Cerita Isteriku di Suatu Pagi – Puisi Imron Supriyadi

48
0
BERBAGI
Ilustrasi : AI

Puisi Imron Supriyadi

Pagi itu sarapan sudah terhidang.

Nasi mengepul.
Kopi masih menyeruakkan aroma.
Istriku duduk di depanku.

Aku sedang ingin bercanda.

“Bunda,” kataku,
“negeri kita ini kan kaya raya.
Kok rakyatnya masih banyak yang miskin, ya?”

Istriku diam.

“Bukankah para pejabat itu setiap hari memikirkan
bagaimana rakyatnya bisa sejahtera?”

“Ah, basi!”

Jawab istriku pendek.

“Klasik. Usang. Sampah!”

Aku berhenti mengunyah.

“Basi? Klasik? Usang? Sampah?
Kok begitu?”

Istriku meletakkan sendok.

“Memangnya ada pejabat
yang setiap bangun pagi memikirkan perut rakyat?”

Aku diam.

“Memangnya ada petinggi negara
yang benar-benar ingin rakyatnya mandiri?”

Aku semakin diam.

“Memangnya ada wakil rakyat
yang setiap malam gelisah
memikirkan apakah pemilihnya
besok masih punya beras?”

Aku menatap wajahnya.

“Lho, tapi kalau di televisi,
radio, dan media sosial,
mereka kan seperti malaikat.”

Istriku tersenyum kecut.

“Mereka bilang:

Saya tidak ingin rakyat lapar.

Saya tidak ingin rakyat miskin.

Saya akan memperjuangkan nasib rakyat.

Saya akan…”

“Stop!”

Istriku menghentikan kalimatku.

“Tadi aku sangat berselera sarapan bersamamu.

Tapi setelah mendengar pertanyaanmu,
aku jadi ingin muntah.”

“Hei… jangan marah, Sayang.”

Aku tertawa.

“Aku kan cuma bercanda.

Supaya warna pagi ini
tidak lebih kusam
daripada wajah negeri kita.”

“Hari ini?”

Suara istriku meninggi.

“Kamu bilang hari ini?”

Ia menggeleng.

“Sudah lama negeri ini kusam.

Kumal.

Kusut.

Kudel.

Kronis.”

Ia menatapku.

“Dan kamu baru menyadarinya pagi ini?”

Aku masih memancing.

“Kalau begitu,
untuk apa mereka menjabat
kalau bukan untuk memikirkan nasib rakyat?”

Istriku menatapku
seperti sedang menasihati anak kami yang sembilan tahun.

“Bang, dengar baik-baik.

Negeri ini kaya.

Bahkan terlalu kaya.

Tanahnya kaya.
Lautnya kaya.
Hutannya kaya.
Gunungnya kaya.
Perut buminya kaya.

Negeri ini punya hampir segala yang dibutuhkan manusia.

Serpihan surga.”

Ia berhenti sebentar.

“Jangankan menanam benih.

Tongkat dan kayu saja
kadang bisa tumbuh menjadi tanaman.

Jangankan disemai di tanah.

Abang berak saja…”

Aku hampir tersedak kopi.

“…kalau di dalamnya terselip satu biji kates,
lalu jatuh ke tanah,
bisa tumbuh menjadi pohon.”

Aku tertawa.

Istriku tidak.

“Jadi,” katanya,

“kenikmatan Tuhan yang mana lagi
yang pantas kita dustakan, Bang?”

Aku terdiam.

Lalu aku bertanya lagi.

“Kalau begitu,
kenapa bangsa kita masih begini-begini saja?”

“Karena…”

Istriku menarik napas.

“…yang kaya negerinya,
belum tentu kaya hatinya.”

Aku memandangnya.

“Bagaimana negeri ini mau maju
kalau instansi dijadikan sarang korupsi?”

“Bagaimana rakyat mau sejahtera
kalau pejabat lebih sibuk
memikirkan isi perut sendiri?”

“Bagaimana negeri ini mau berdikari
kalau kekayaan negeri
diperebutkan seperti harta warisan?”

“Bagaimana negeri ini mau menjadi rumah rakyat
kalau para penghuninya
sibuk mencuri gentengnya sendiri?”

Aku mulai serius.

“Bukankah mereka sudah bersumpah?”

“Sumpah?”

Istriku tertawa kecil.

“Sumpah apa, Bang?”

“Sumpah jabatan.”

“Oh…”

Ia mengangguk.

“Sumpah di mulut
belum tentu sampai ke hati.

Kadang sumpah hanya berhenti
di depan mikrofon.”

Aku terdiam.

“Mulut berkata:
tidak ada politik transaksional.”

“Tapi kursi bisa diperjualbelikan.”

“Mulut berkata:
NKRI harga mati.”

“Tapi uang rakyat
dihidupkan untuk kepentingan pribadi.”

“Mulut berkata:
Saya Pancasila.”

“Tapi ketika berhadapan dengan uang,
nilai-nilai Pancasila
mendadak masuk ruang tunggu.”

Aku menahan tawa.

Istriku melanjutkan:

“Mulut mengatakan
demi rakyat.

Tangan sibuk menghitung.

Mulut mengatakan
demi bangsa.

Saku sibuk mengembang.

Mulut mengatakan
amanah.

Tapi hati
sibuk membuat pembenaran.”

Pagi semakin terang.

Entah mengapa
sarapan kami tiba-tiba terasa hambar.

Aku bertanya pelan,

“Jadi, apa lagi yang bisa dipertahankan
dari bangsa ini, Bang?”

Istriku justru bertanya kepadaku.

“Menurut Abang?”

Aku menggeleng.

“Menurutmu?”

Ia tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat tangan kanannya.

Telunjuknya menunjuk dada kiri,
di bawah dua tulang rusuk.

“Ini, Bang.”

Aku melihat jemarinya.

“Rumah kita masih di sini.”

“Di dada?”

“Iya.”

“Memangnya apa yang ada di sana?”

Istriku tersenyum.

“Entahlah.

Tapi kalau rumah kita di luar sana
sudah banyak yang bocor,
setidaknya jangan biarkan
rumah di dalam dada kita ikut roboh.”

Aku diam.

Ia melanjutkan:

“Di dada ini,

masih adakah
kalimat suci dari langit
yang kita simpan?”

Aku semakin diam.

“Di dada ini,

masih adakah
jantung yang berdetak
untuk kebaikan?”

Aku menunduk.

“Di dada ini,

masih adakah
rasa takut kepada Tuhan?”

Ia berhenti.

Lalu berkata pelan:

“Karena mungkin, Bang…

persoalan terbesar negeri ini
bukan karena kita kekurangan kekayaan.

Bukan pula karena Tuhan
kurang memberi kenikmatan.

Barangkali,

kita terlalu lama
mencari Tuhan
di atas mimbar,

tetapi lupa
memeriksa-Nya
di dalam dada.”

Kopi di depanku telah dingin.

Nasi tinggal separuh.

Pagi terus berjalan.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu,
aku tidak lagi bertanya
tentang pejabat.

Aku bertanya kepada diriku sendiri:

Jangan-jangan,
yang harus pertama-tama diselamatkan dari negeri ini
bukan orang lain,
melainkan hati kita sendiri.

Pojok Pesantren Laa Roiba—Muara Enim
22 September 2026

Oleh: Imron Supriyadi

*) Penulis adalah Pelaku Satra di Sumsel, tinggal di Pondok Pesantren Laa Roiba Desa Kepur, Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan | Email : imronsupriyadi@gmail.com  | WA : 0813-7425-7744 | Rek. BANK Mandiri : 112-7812-000-444

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here